Dua hal dalam judul tulisan ini jelas berbeda, yaitu antara orang beragama dan pengamat orang beragama. Sebagai orang beragama maka sehari-hari yang dipikir dan diinginkan adalah bagaimana menjadi orang yang dekat dan dicintai oleh Allah swt. Mereka akan menjalankan ajaran agama sebaik-baiknya dan menjauh dari apa yang dilarangnya. Dengan cara itu, mereka berharap menjadi kekasih Allah.
Untuk mewujudkan keinginan agar menjadi seorang muslim yang baik dan apalagi sempurna, setelah mengucapkan dua kalimah syahadat, maka mereka akan menjalankan apa saja yang menjadi perintah Allah, yaitu menjalankan shalat, zakat, puasa, dan jika mencukupi bekalnya akan menunaikan ibadah haji. Selain itu, mereka juga akan selalu menjaga pikirannya, hatinya, dan juga raganya dari berbagai hal yang menjadikan dirinya tidak bersih atau kotor.
Sebagai seorang yang mengaku pengikut Nabi Muhammad yang berakhlak mulia, maka mereka juga akan menghindarkan diri dari berbagai penyakit hati, seperti iri, dengki, hasut, takabur, permusuhan, suka marah, mengadu domba orang, bakhil, terlalu mencintai harta, dan lain-lain. Selain itu, sebagai seorang yang beragama dengan baik, mereka juga akan menjauhkan diri dari berpikir destruktif yang mencelakaan dan atau merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
Begitu juga, terkait dengan berekonomi, dalam menjalani hidupnya, mereka akan berusaha untuk mendapatkan rizki yang halal, baik, dan berkah, serta tidak mau melebihkan timbangan, mengambil yang subhat atau apalagi harta orang yang bukan haknya, membungakan uang, dan apalagi berbuat korup, dan sejenisnya. Dalam hal rizki, sebagai seorang yang beragama akan selalu selektif, dalam arti tidak akan mau mengkonsomsi dan memiliki harta yang diketahui haram hukumnya.
Dalam kehidupan sosial, agar keberagamaannya menjadi sempurna, mereka tidak akan mau mencela orang lain, mengolok-olok, menyakiti hati, menghardik, mengumpat, memusuhi tanpa sebab, dan lain-lain. Sebaliknya, mereka akan berusaha menebar kasih sayang kepada saudara-saudaranya, para tetangganya, dan kepada siapa saja yang seharusnya diperlakukan secara baik. Mereka juga akan memperhatikan anak yatim, memberi makan kepada orang miskin, membantu orang yang sedang mengalami kesusahan hidupnya dan sebagainya.
Sebagai usaha agar benar-benar menjadi seorang muslim yang baik, maka mereka juga akan menuntut ilmu sepanjang hayat, selalu mencintai dan mengedepankan keadilan terhadap siapapun, dan dalam bekerja selalu amanah, sabar, ikhlas, istiqomah, dan bekerja secara rofesional atau disebut beramal shaleh. Dalam hidupnya, sebagai seorang beragama, mereka akan berjuang agar masyarakatnya damai, tenteram, sejahtera, dan maju, sebagaimana konsep yang dianggap ideal, yaitu menjadi baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.
Begitulah gambaran singkat sosok orang beragama dengan sungguh-sungguh. Mereka itu beragama bukan agar menang dari orang atau kelompok lainnya, melainkan agar menjadi dekat dan dicintai oleh Allah swt. Apapun dilakukan sebagai cara untuk memperoleh ridha-Nya. Jika dalam sesuatu dan lain hal, ternyata masih melakukan kekeliruan, baik tekait dengan suara batinnya, ucapannya, dan apalagi perbuatannya, maka mereka segera beristighfar, memohon ampun kepada Allah, agar kesalahannya diampuni. Demikian pula, agar perilakunya sehari-hari terjaga dengan baik, mereka berusaha selalu ingat pada Allah, dan banyak berdoa. Hal demikian itu dilakukan oleh karena, mereka sadar bahwa itulah cara beragama yang seharusnya dijalankan.
Jika demikian itu halnya, maka seorang beragama akan berbeda dengan menjadi pengamat orang beragama. Peran sebagai pengamat, yakni pengamat apapun pasti berbeda dengan peran sebagai pemain. Sebagai pengamat biasanya akan lebih banyak berkomentar, menilai, menganalisis, dan bahkan juga menyalahkan. Sebagai pengamat sepak bola misalnya, sekalipun mereka itu sendiri belum tentu mampu menendang bola, maka seolah-olah lebih pintar dari pemainnya. Mereka mengkritik, menyalahkan dan bahkan juga menghakimi. Itulah pekerjaan sebagai seorang pengamat apapun, misalnya pengamat olah raga, kesenian, ekonomi, politik, dan lain-lain. Bagi pengamat, pemain seolah-olah tidak ada benarnya.
Dalam soal beragama, seharusnya tidak perlu ada orang yang merangkap berperan sebagai pengamat. Sebab agama seharusnya dijalankan oleh semua orang. Dalam beragama, semuanya harus menjadi pemain yang sebaik-baiknya. Kualitas keberagamaan yang akan menilai bukan sesama orang, melainkan Tuhan sendiri. Kesimpulannya juga bukan dilakukan sekarang, oleh karena permainan itu masih berlangung. Keberhasilan dalam beragama adalah tatkala meraih khusnul khotimah. Oleh karena itu dalam beragama tidak perlu ada orang yang memposisikan diri sebagai pengamat, yang sehari-hari sibuk menghakimi orang lain terkait kualitas keberagamaannya. Seharusnya dipahami bahwa semua orang adalah sama ialah menjalani kehidupan hingga berakhir kelak, dan berharap meraih khusnul khotimah. Wallahui a'lam



