Setiap kali mengunjungi dan melihat ka'bah, baik pada waktu haji atau umrah, saya merasakan ada keindahan yang luar biasa. Bangunan ka'bah yang hanya berbentuk kubus itu ternyata memiliki daya tarik yang sedemikian kuat. Tidak sedikit orang ketika menyaksikan bangunan itu, apalagi pada waktu pertama kali, mereka terhentak, terharu, dan bahagia yang maat mendalam, hingga tanpa menyadari mereka melelehkan air mata, atau bahkan benar-benar menangis.
Bangunan yang dikenal dengan sebutan 'baitullah' atau rumah Allah itu, menurut kisahnya, dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim dan putranya, ialah Ismail. Ibrahim disebut membangun kembali dan bukan membuat, oleh karena sejak jauh lama sebelumnya, bangunan itu sebenarnya sudah ada. Disebutkan di dalam kitab suci, bahwa ka'bah adalah merupakan rumah yang pertama di bangun dalam sejarah kemanusiaan.
Bentuk bangunan ka'bah itu sendiri, sepintas tidak menarik, tidak ada nilai seni, dan juga tidak menggambarkan ciri khas rumah bangsa atau suku tertentu. Bangunan itu dibuat sederhana, akan tetapi selalu ditutupi dengan kiswah yang pada setiap tahun diganti. Biaya membuat kiswahnya itu, yang menurut informasi, amat mahal, hingga milyaran rupiah. Kesederhanaan bangunan ka'bah itu justru menjadi menarik dan bersifat universal. Umpama saja, bangunan itu menyerupai rumah bangsa Arab, atau bangsa lain di dunia ini, maka Ka'bah seakan-akan menjadi milik etnis tertentu
Bangunan Ka'bah berada di tengan lembah, yang semula wilayah itu merupakan gurun pasir dan bebatuan. Semula di sekitar bangunan ka'bah itu berupa bukit-bukit yang terdiri atas batu berwarna abu-abu atau hitam dan amat keras. Namun sekarang ini, keadaannya sudah berubah total. Atas kemampuan manusia menciptakan teknologi, maka batu atau buklit-bukit yang berupa batu besar dan keras itu sudah digusur dan diubah menjadi gedung atau bangunan yang menjulang tinggi, persis bangunan modern di kota-kota besar lainnya.
Demikian pula, masjid yang mengelilingi ka'bah yang sudah dibangun sejak lama, pada akhir-akhir ini oleh karena dirasa perlu harus diperluas, maka beberapa bagian dibongkar total dan diganti dengan bentuk baru. Bangunan baru itu tentu amat indah dan kokoh. Begitu juga, di sekeliling luar Masjidil Haram telah dibangun perhotelan dan dipadu dengan mall tempat berbelanja apa saja yang diperlukan oleh jama'ah haji maupun umrah. Dalu, kira-kira sebelum sepuluh tahun yang lalu, orang yang pulang haji umumnya bercerita tentang kegiatan berbelanja di pasar seng, namun sekarang pasar yang menjadi kesenangan jama'ah haji untuk berbelanja itu sudah digusur untuk perluasan masjid.
Berdirinya berbagai bangunan hotel tersebut menjadikan kegiatan ritual umat Islam yang semula hanya memiliki nuansa spiritual yang amat tinggi itu, sekarang sudah berubah, yaitu bahwa antara berbelanja dan melakukan kegiatan ritual sudah terpadu dalam satu tempat. Para jama'ah haji atau umrah keluar dari masjid bisa langsung ke mall, dan begitu pula sebaliknya, ke mall lalu langsung pergi ke masjid untuk thawaf atau shalat. Antara aktifitas spiritual seperti shalat, thawaf, meminum air zam-zam, sa'i, mencium hajr aswad, dan lain-ain berpadu dengan kehidupan modern, seperti berbelanja, berwisata, dan bahkan juga melakukan kegiatan apa saja yang halal untuk memenuhi kesenangannya.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata juga mengubah berbagai macam hal, tidak terkecuali mengubah suasana di sekeliling ka'bah itu. Hanya ka'bah saja yang rupanya tidak akan pernah diubah, tetapi berbagai bangunan di sekelilingnya telah diubah total. Perubahan itu ternyata juga mengubah perilaku orang.
Dahulu, orang berangkat haji seolah-olah atau diartikan sama dengan akan menghadapi kematian. Ternyata sekarang, perasaan itu berbalik, yaitu orang berangkat umrah dan atau berhaji, justru agar bisa melakukan kegiatan ritual sebagai bagian dari upaya menikmati hidup dan juga supaya berumur panjang. Dengan demikian, kegiatan ritual benar-benar dimaknai sebagai bagian dari upaya untuk meraih kebahagian, baik di dunia dan akherat sekaligus. Wallahu a'lam.



