Kesadaran Mengutamakan Kualitas Dalam Pendidikan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 24 Juni 2015 . in Dosen . 7433 views

Sejak dahulu orang menganggap bahwa pendidikan itu penting. Tentang pendidikan seperti apa yang dimaksudkan itu, belum menjadi perhatian. Bagi kebanyakan orang, berpendapat bahwa yang penting adalah sekolah, lulus, dan mendapatkan ijazah. Akhirnya banyak orang bersekolah, untuk memperoleh tanda lulus dan ijazah itu.

Memang sudah muncul pihak-pihak yang tidak saja sekedar menginginkan bersekolah, tetapi memilih sekolah yang dianggap lebih tepat. Pilihan itu misalnya, dikaitkan dengan status, yaitu di antara sekolah negeri dan swasta. Dipercayai bahwa sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah terjamin lebih baik. Padahal sebenarnya tidak selalu begitu. Sekarang sudah banyak sekolah swasta yang berhasil mengungguli sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Pilihan terhadap lembaga pendidikan kadang juga dikaitkan dengan jenis ilmu yang ditawarkan. Lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh organisasi social keagamaan, atau menggunakan nama tokoh atau pemuka agama, lebih dipilih dibanding lainnya. Madrasah misalnya, atau madrasah yang ada di pesantren, sekolah Muhammadiyah, atau sekolah yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama, atau pada akhir-akhir ini adalah UIN, lebih diminati dari yang lain.

Simbol-simbol dimaksud hingga saat ini masih dijadikan alasan untuk memilih lembaga pendidikan. Akan tetapi sebenarnya, sebagian masyarakat sudah mulai melihat kualitas hasil pendidikan yang dikaitkan dengan kemampuan menjawab tantangan masa depan. Pengetahuan agama, misalnya, masih dianggap penting dan harus dipenuhi. Akan tetapi, kemampuan di bidang lainnya juga harus diutamakan. Mereka mulai bertanya, ketika sudah lulus dan memperoleh ijazah, lalu apa arti semua dokumen itu.

Terkait dengan isu kualitas pendidikan, pada akhir-akhir ini muncul tawaran sekolah atau lembaga pendidikan bermutu dengan menamakan diri sebagai sekolah unggulan, sekolah klas internasional, klas dunia, dan semacamnya. Tawaran itu tentu datang dari orang yang mampu menangkap aspirasi atau kebutuhan masyarakat, dan kemudian yang bersangkutan berusaha memenuhinya. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah sebutan sekolah atau lembaga pendidikan unggul dimaksud, juga benar-benar unggul. Jawabnya, tentu masih perlu diuji lagi dalam waktu lama.

Kesadaran masyarakat dalam mengutamakan mutu hasil pendidikan sebenarnya perlu diapresiasi oleh semua pihak, utamanya pemerintah. Manakala pemerintah masih berkutat pada pendekatan formaliltas, atau hal-hal yang bersifat simbolik, maka bangsa ini sampai kapan pun tidak akan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Tatkala persaingan benar-benar terbuka dan pasar sudah menjadi bebas, maka orang tidak terlalu perlu menanyakan IP, tanda lulus, atau ijazah. Mereka akan lebih menanyakan tentang kemampuan apa yang sebenarnya dimiliki di balik ijazah atau tanda lulus itu.

Oleh karena terlalu diwarnai oleh suasana dan pikiran formal, maka pendidikan pun dijalankan secara formal pula. Terasa menjadi agak aneh, pendidikan juga diukur dan ditakar persis seperti mengukur dan menakar air yang dimasukkan ke dalam gelas. Seorang anak dengan mengikuti pelajaran selama waktu tertentu dianggap telah menguasai pengetahuan, terampil, dan kemudian diberi ijazah. Padahal mengisi gelas dengan air amat berbeda dengan mengisi otak manusia dengan ilmu atau pengetahuan. Gelas adalah benda mati dan diketahui tidak bocor. Sementara itu orang, selain kemampuan dan konsentrasinya berbeda-beda, juga sering lupa, atau justru bocor. Selang beberapa waktu saja diisi, sebagian besar isi otak itu segera hilang, karena lupa.

Terkait dengan gambaran tersebut, saya pernah membaca buku yang saya anggap agak lucu. Buku itu menceritakan tentang seorang murid. Ia belajar serius, namun setelah dinyatakan lulus dan keluar dari sekolahnya, semua pelajarannya segera terlupakan. Berbekalkan ijazah itu, ia meneruskan pada jenjang berikutnya. Namun apa yang dialami di jenjang sekolah berikutnya itu sama peris dengan di sekolah sebelumnya, yaitu setelah dinyatakan lulus dan memperoleh ijazah, maka seluruh pengetahuannya hilang. Diceritakan pegalamannya di dalam buku itu secara utuh, hingga ia lulus sampai jenjang terakhir. Kesimpulannya, banyak sekolah yang sebenarnya hanya bagaikan tempat mencari tanda lulus dan ijazah.

Kisah dalam buku tersebut kiranya juga berlebih-lebihan. Tidak akan mungkin seseorang belajar di berbagai jenjang pendidikan tetapi tidak mendapatkan apa-apa atau semua pengetahuan yang diperolehnya hilang dan tidak bersisa. Pasti tidak begitu. Dari berbagai jenjang pendidikan dan ditempuhnya dalam waktu lama, akan diperoleh pengetahuan, pengalaman, dan bahkan juga kematangan dan kedewaaan. Informasi atau ilmu yang diperolehnya selama di sekolah terlupakan, tetapi dampak dari ilmu yang pernah diterima itu tidak mudah hilang.

Pada saat sekarang ini, tatkala bangsa sedang berpikir keras menyiapkan generasi mendatang, maka yang perlu dipikirkan secara serius adalah bagaimana kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kualitas itu segera direspon, khususnya oleh mereka yang membidangi pendidikan. Bahwa pendidikan adalah penting, tetapi sebenarnya adalah pendidikan yang mampu menjawab persoalan nyata sekarang dan mendatang. Pendidikan yang hanya berorientasi pada formalitas, seperti hanya mementingkan lulus, ijazah, gelar, wisuda, dan semacamnya itu ke depan tidak akan terlalu relevan. Oleh karena itu, pemerintah tidak cukup hanya sekedar membolak-balik dokumen kurikulum, buku teks, ujian nasional, mengatur jumlah sks yang harus diambil, dan sejenisnya.

Dalam penyelenggaraan pendidikan, hal yang amat penting diingat dan seharusnya mendapatkan perhatian serius adalah menyangkut paradigma, filosofis, dan hakekat pendidikan itu sendiri. Bahwa di dalam setiap kegiatan, tidak terkecuali kegiatan pendidikan, seharusnya ada jiwa, ruh, atau nyawanya. Sekalipun dalam berbagai hal sudah memenuhi syarat, yakni delapan standart pendidikan terpenuhi, tetapi jika aspek penting dimaksud belum berhasil dihadirkan, maka kualitas yang diharapkan juga tidak akan bisa diraih. Letak kekuatan pendidikan itu sebenarnya berada di tempat itu.

Sekolah yang memiliki jiwa, nyawa atau ruh tersebut, bisa tampak dari keseluruhan aspek yang ada di lembaga pendidikan itu. Mungkin saja secara fisik sekolah itu tampak sederhana, bahkan tidak punya gedung dan peralatan yang cukup, hingga belajar mengajar harus menempati garasi misalnya, tetapi oleh karena di tempat itu terdapat cahaya, ruh, jiwa, dan nyawa, maka pada institusi itu ada semacam kekuatan hidup, maju dan berkembang. Keberadaan mereka tidak terpaksa, atau tidak sekedar memenuhi perintah atau tugas harus ada. Mereka ada oleh karena didorong oleh cita-cita, semangat, dan kemauan dari dalam untuk ada.

Lembaga pendidikan yang memiliki jiwa, ruh, atau nyawa itu tampak dari perilaku semua pihak, yaitu dari para gurunya, kepala sekolah, karyawan, dan para muridnya. Dari para guru misalnya, mereka merasa bangga dan mencintai sepenuhnya atas posisinya sebagai guru, dari mereka kelihatan kedalaman ilmunya, keikhlasannya, integritasnya, taggung jawabnya, amanahnya, istiqomahnya, dan seterusnya. Demikian pula, kepala sekolahnya. Leadership dan manajerialnya selalu tampak, penuh bertanggung jawab, amanah, dan istiqomah. Akhirnya, pendidikan menjadi hidup, dan bukan sekedar ada. Itulah lembaga pendidikan yang ditunggu dan diharapkan mampu menjawab persoalan ke depan. Wallahu a'lam.

Gambaran pedidikan sebagaimana secara singkat dikemukakan tersebut akan memunculkan ide-ide baru, kreasi baru, cara dan pendekatan baru dalam pendidikan dan pengajaran. Atas dasar kesenangan dan kecintaannya terhadap pendidikan, mereka akan secara terus menerus mencari hal baru, inovasi baru, prakarsa baru. Manakala semua itu berhasil dikembangkan, maka kiranya kesadaran terhadap tuntutan kualitas pendidikan bisa dipenuhi. Akan tetapi sebaliknya, jika semua hanya dilakukan dengan terpaksa, yaitu sekedar mengikuti aturan formal, target-target formal, dan laporan-laporan formal yang harus dibuat, maka hal itu tidak akan membuahkan sesuatu yang maksimal. Hasilnya akan bagaikan sampah, kelihatan menggunung, tetapi tidak ada gunanya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up