Memandang Islam Bagaikan Jalan Lebar Dan Lempang
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 10 Juni 2015 . in Dosen . 3337 views

Islam seharusnya dilihat sebagai cara hidup yang membawa keselamatan, kebahagiaan, dan kedamaian yang hakiki di antara sesama manusia. Jika dikaji secara saksama, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu sebenarnya mencakup hal yang amat luas, yakni memberikan dasar keyakinan yang benar dan kokoh tentang kehidupan, selalu mengedepankan keselamatan dalam perspektif yang jauh dan luas, serta berorientasi untuk meraih yang terbaik dan mulia.

Untuk meraih maksud tersebut, melalui ajaran Islam, manusia diajak agar supaya menggali ilmu pengetahuan seluas-luasnya, membangun kualitas pribadi setinggi mungkin, merealisasikan konsep keadilan di tengah-tengah kehidupan masyarakat, memberikan tuntunan agar manusia menjalankan ritual sebagaimana dicontohkan oleh Rasul-Nya, dan dalam kegiatan apapun hendaknya dilakukan dengan pendekatan atau cara terbaik atau disebut beramal shaleh.

Dengan melakukan kegiatan dengan cara tersebut, umat Islam disebut sebagai komunitas terbaik dan menjadi rakhmat bagi seluruh alam. Berbekalkan ilmu, keyakinan, dan prinsip-prinsip yang seharusnya dipegangi oleh umat Islam, maka akan terbangun kedamaian hingga akhirnya membuahkan keselamatan, baik di dunia maupun di akherat kelak.

Namun Islam yang sebenarnya sedemikian indah, atau bagaikan jalan lebar dan lempang itu, ternyata oleh sementara umat sendiri ditangkap dari sudut-sudut yang membawa pada perbedaan hingga mengakibatkan perpecahan. Adalah wajar, sebagai jalan lebar dan lempang akan dilalui oleh berbagai jenis kendaraan. Tokh, semua pelintas jalan dimaksud, masing-masing tidak akan saling terganggu, oleh karena keadaan jalan yang lebar dan lempang itu.

Setelah melewati sejarah panjang dan pasti bersentuhan dengan persoalan-persoalan sosiologis, antropologis, psikologis, dan lain-lain, maka umat Islam pasti menampakkan wajah yang berbeda-beda. Sumber ajaran Islam itu sendiri, yakni al Qur'an dan hadits nabi tidak akan berubah dan tidak akan ada yang mengubahnya. Akan tetapi, pada tingkat implementatif, oleh karena terpengaruh oleh hal tersebut, maka sangat mungkin menampakkan perbedaan.

Akan adanya perbedaan di antara umat Islam itu sendiri sebenarnya juga telah diprediksi, baik oleh al Qur'an maupun hadits nabi. Menghadapi persoalan itu, maka tidak perlu ada sesuatu yang dikhawatirkan. Tatkala umat Islam masih berpegang teguh pada kitab suci al Qur'an, yakni selalu memelihara tali sillaturrakhiem, sama-sama saling mehami, menghargai, dan bertolong menolong dalam kebaikan, maka kebersamaan dan kedamaian itu tidak akan terganggu. Hal demikian itu menjadi prinsip yang seharusnya selalu dipegangi oleh karena sebenarnya adalah menjadi bagian penting dari ajaran Islam.

Sebaliknya, Islam bukan bagaikan jalan sempit dan berbelok-belok atau banyak tikungan sehingga hanya bisa dilewati oleh jenis kendaraan tertentu dan atau berukuran kecil pula. Anggapan bahwa hanya dirinya dan atau kelompoknya sendiri yang benar hingga melahirkan konflik dan pertikaian di antara umat Islam adalah bisa jadi sebenarnya hal itu disebabkan oleh pandangan, bahwa Islam adalah bagaikan jalan sempit.

Betapa maha luas dan maha mulia sifat-silat Allah, telah terbentang dan bisa ditangkap dan atau dipahami dari asma'ul husna. Lebih dari itu, secara keseluruhan bisa dipahami dari al Qur'an dan hadits nabi. Memahami dan menghayati sumber ajaran dimaksud , kiranya tidak ada alasan, antar sesama umat Islam tidak bisa bersama-sama dan atau bahkan tidak bersatu. Kehadiran Islam itu sendiri sebenarnya bukan untuk memecah belah, melainkan sebaliknya, adalah untuk menyatukan umat manusia. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up