Membayangkan Betapa Berat Perjuangan Rasulullah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 7 Juni 2015 . in Dosen . 38281 views

Kebetulan saja, mulai tanggal 4 Juni dan rencananya hingga tanggal 13 Juni 2015, saya ikut diundang oleh pemerintah Saudi Arabia ke Madinah dan Makkah untuk melihat tempat-tempat penting, berdiskusi, dan tentu menjalankan umrah. Mereka yang diundang dari berbagai negara, yaitu selain dari Indonesia, juga dari Malaysia, Singapura, Miyanmar, Thailand, dan lain-lain.

Selama beberapa hari mengkuti kegiatan itu, bagi saya yang amat mengesankan adalah sama dengan apa yang saya alami pada setiap datang ke kedua kota suci itu, ialah tentang betapa beratnya perjuangan nabi dan para sahabatnya dalam memperkenalkan Islam di tanah Arab itu. Bukan saja harus menghadapi para penentangnya yang berkarakter keras, tetapi juga harus menghadapi keadaan alam yang tidak bersahabat, yaitu padang pasir dan bebatuan. ketika Nabi harus hijrah dari Makkah ke Madinah, maka terbayang betapa beratnya tugas itu.

Perjalanan dari Makkah ke Madinah harua melewati jarak yang sedemikian jauh, yakni kurang lebih 400 km. Dengan kendaraan bus saja jarak itu harus ditempuh kurang lebih 4 sampai 5 jam. TIdak bisa dibayangkan, betapa beratnya perjalanan itu, ketika jarak itu harus ditempuh dengan berjalan kaki dalam waktu yang amat lama. Pada zaman nabi, kendaraan hanya menggunakan unta, dan pada waktu itu belum ada mobil atau sejenisnya.

Selain jauh, pada waktu hijrah harus melewati padang pasir, gunung bebatuan yang panas. Dalam perjalanan itu, di malam hari pasti gelap dan mungkin juga dingin, sedang di siang hari amat panas. Hingga sekarang ini, di pinggir jalan antara Makkah ke Madinah belum ada rumah-rumah penduduk, apalagi pada zaman Nabi ketika hijrah itu.

Oleh karena itu, pada setiap melewati jalan itu, yang terbayang adalah betapa beratnya perjalanan Rasulullah itu. Beliau berjalan kaki, berhari-hari di tengah malam yang gelap, dan siang hari pasti amat panas. Penderitaan dalam perjalanan yang tidak mungkin dilakukan hanya beberapa hari itu, menurut sejarahnya, ternyata masih diperberat dengan adanya orang-orang yang mengejar dengan maksud membunuhnya.

Siapapun yang belum pernah menyaksikan wilayah padang pasir, maka bisa saja membayangkan, tetapi belum tentu apa yang dibayangkan itu tepat. Gambaran itu akan mendekati tepat ketika seseorang sudah menyaksikan dan bahkan juga mengalaminya sendiri. Jalan antara Makkah ke Madinah atau sebaliknya, berupa batu dan pasir. Di siang hari tentu amat panas. Oleh karena wilayah itu tidak pernah terkena hujan, kecuali beberapa kali saja dalam setahun, maka batu-batu besar kecil bercampur pasir itu dipastikan panas sekali. Jalan yang sedemikian sulit itulah yang harus dilewati oleh Nabi Muhammad ketika berhijrah.

Oleh karena itu, orang yang sedang beribadah umrah dan atau berhaji, tatkala sedang melewati jalan antara Makkah dan Madinah maka akan membayangkan betapa berat resiko perjuangan yang dilakukan oleh Rasulullah dalam mengenalkan Islam. Melihat dan kemudian membayangkan keadaan itu, maka wajar ketika orang kemudian melelehkan air matanya. Mereka membayangkan betapa berat dan besar resiko yang harus ditanggung tatkala memperjuangkan Islam.

Menyebut nama Muhammad sebagai seorang rasul, maka yang terbayang adalah sosok pejuang kemanusiaan dan pengubah masyarakat dari keadaan jahiliyah menjadi masyaraat beradab. Perjuangan orang yang sedemikian mulia itu ternyata juga harus berhadapan dengan tantangan yang sedemikian berat, baik berupa kekuatan alam maupun huga manusia-manusia yang khawatir kehilangan kekuasaan dan pengaruhnya menjadi hilang oleh karena kedatangan manusia utusan Tuhan ini.

Rupanya memperjuangkan sesuatu, apalagi terkait kemanusiaan, ---sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah, tidak ada yang mudah, ringan, dan apalagi bebas dari tantangan yang menghadang. Oleh karena itu, siapapun yang ingin berjuang untuk kemanusiaan maka dipastikan akan menemui tantangan berat.

Berjuang rupanya tidak ada yang mudah dan apalagi enak. Pasti beresiko. Mungkin saja orang yang berniat berjuang tetapi akhirnya harus nista dan bahkan menderita. Kedaan itu harus dipahami sebagai bagian dari resiko perjuanan. Nabi saja, sebagai kekasih Allah, tatkala berjuang juga harus menghadapi resiko yang sedemikian berat. Membayangkan satu aspek saja resiko perjuangan itu, ialah harus berjalan kaki dari Makkah ke Madinah, maka orang akan menghayati betala beratnya tugas itu. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up