Banyak dirasakan oleh banyak orang yang kebetulan aktif di perguruan tinggi Islam, bahwa organisasi yang bernuansa ideologis sangat kental. Organisasi dimasudkan itu seperti IKAPMI, KAHMI, ISNU, Muhammadiyah, dan lain-lain. Organisasi semacam itu, di perguruan tinggi umum juga ada, tetapi tidak sekuat di perguruan tinggi yang berbasis agama.
Saya mengamati dan merasakan sendiri bahwa, berbagai organisasi tersebut secara empirik tidak banyak memberi manfaat bagi pengembangan kampus, tetapi jika harus jujur, saya merasakan justru mengganggu upaya memajukan lembaga pendidikan tinggi yang tidak mudah dilakukan. Afiliasai terhadap organisasi sebagaimana dimaksudkan itu, sebenarnya merupakan kelanjutan sewaktu mereka masih menjadi mahasiswa.
Seseorang aktifis HMI, ketika menjadi dosen maka dosen dimaksud akan aktif di KAHMI, aktifis PMII ketika menjadi dosen akan aktif di IKAPMI, mereka yang aktif di IMM, ketika menjadi dosen akan aktif di Muhammadiyah. dan seterusnya. Organisasi semacam itu untuk kehidupan mahasiswa strata 1 mungkin saja besar manfaatnya, sebagai wadah untuk menambah wawasan dan juga pelatihan kepemimpinan. Namun ketika mereka sudah menjadi dosen dan apalagi bergelar Doktor (S3), rasanya masih perlu dipertanyakan manfaatnya.
Menjadi bagian dari organisasi yang bernuansa idiologis tersebut biasanya seseorang menjadi sulit menghindarkan diri dari resiko yang terkait dengan idiologis itu. Sementara itu, sebagai seorang Doktor atau ilmuwan dituntut agar tidak terlalu berpikir idiologis, melainkan pikirannya harus diwarnai oleh prinsip-prinsip ilmiah. Seorang ilmuwan maka harus berpikir obyektif, terbuka, rasional, bukan untuk menang atau kalah, melainkan berorienatsi pada kesimpulan akhir benar atau salah. Sedangkan orang yang pikirannya diwarnai oleh idiologis biasanya justru sebaliknya dari berpikir ilmiah.
Organisasi yang diwarnai oleh nuansa idiologis tidak terkecuali di lembaga pendidikan, maka suasana subyektifitas, tertutup, dan bahkan irrasional tidak mudah dihindarkan. Hal demikian itu akan sangat terasakan ketika lembaga pendidikan yang bersangkutan sedang memilih pejabat atau kepemimpinan baru. Pada saat pemilihan rektor, dekan, dan bahkan anehnya hingga sampai ketua jurusan sekalipun, ternyata idiologi organisasi itu akan mewarnai proses-proses politik kampus yang bersangkutan. Hal demikian itu bisa dibayangkan betapa sulitnya perguruan tinggi itu diharapkan menjadi maju.
Pemilihan pimpinan perguruan yang seharusnya mendasarkan pada kemampuan manajerial, prestasi, memiliki kekayaan pengalaman, profesionalitas, dan semacamnya, maka akhirnya dikalahkan oleh kekuatan idiologis itu. Akibatnya yang diperebutkan hanyalah kemenangan pada tingkat sederhana, yaitu kekuasaan, dan sebaliknya berusaha menghindar dari kekalahan. Lebih parah lagi, hal demikian itu akan melahirkan kelompok-kelompok atau kubu, konflik, saling gusur menggusur atas dasar pertimbangan idiologi atau sesuatu yang kadang amat tidak jelas.
Keadaan yang digambarkan itu menjadikan orang yang sebenarnya memiliki kemampuan lebih dalam banyak hal, dan tentu akan sangat bermanfaat bagi pengembangan atau kemajuan kampusnya, justru akan tersisih hanya oleh karena perbedaan idiologi yang bersangkutan. Mereka yang kalah dan kemudian tersisih dari kelompok yang menang, dalam waktu tertentu tidak akan berkesempatan memberikan sumbangan bagi kemajuan kampusnya, kecuali dalam hal-hal yang amat terbatas. Itulah sebabnya, bisa disebutkan bahwa organisasi dimaksud tidak banyak memberi manfaat bagi kemajuan kampus.
Sejak awal memulai memimpin perguruan tinggi Islam, saya menyadari betul terhadap betapa organisasi para dosen itu tidak memberi manfaat dan bahkan dalam batas-batas tertentu, mudharatnya amat besar. Oleh karena itu dalam pikiran saya selalu mencari cara bagaimana mengurangi,



