Membicarakan shalat berjama'ah bagi sementara orang diangggap masih relevan, oleh karena hal yang ringan, rutin, dan sebenarnya membuat hati damai itu ternyata di banyak tempat belum dilaksanakan secara istiqomah atau belum membudaya. Sekalipun bertempat tinggal di dekat masjid, belum semua orang yang beragama Islam terbiasa mendatangi panggilan adzan pada setiap shalat berjama'ah.
Selama ini masih banyak orang mengangap, dengan berbagai alasan, bahwa shalat berjama'ah tidak terlalu penting. Alasan itu misalnya, shalat bisa dilaksanakan sendirian di rumah, shalat berjama'ah hukumnya sunnah, shalat itu adalah urusan pribadi yang tidak perlu ditampakkan pada orang lain, dan masih banyak lagi alasan yang degan mudah bisa disusun. Ketika disebutkan ada riwayat bahwa, Nabi selama hidupnya tidak pernah shalat sendirian, tetapi selalu berjama'ah dan dilaksanakan di masjid, maka mereka mencari alasan agar dibenarkan tidak berjama'ah.
Akibatnya, banyak masjid di berbagai tempat minim jama'ah pada shalat lima waktu, kecuali pada shalat jum'at, shalat tarweh, dan shalat Id. Pada saat lainnya, masjid diangap seolah-olah tidak penting. Shalat disebutnya bisa dilaksanakan di mana saja, termasuk di rumah masing-masing. Padahal banyak orang telah menyadari tentang betapa pentingnya masjid, termasuk betapa besar pahala orang yang dengan ikhlas membangun tempat ibadah itu.
Kedaan tersebut ternyata sangat berbeda dari yang terjadi di Masjidil Haram, Makkah. Pada saat sekarang ini, masjid yang ditengah-tengahnya terdapat bangunan Ka'bah, sedang direnovasi secara besar-besaran. Masjid itu diperluas hingga diperkirakan akan mampu menampung jumlah jama'ah hingga belasan juta orang. Perluasan secara total itu, menurut informasi, sekalipun sudah dimulai beberapa tahun lalu, baru akan selesai hingga akhir tahun 2018 mendatang.
Semangat shalat berjama'ah di Masjid al Haram luar biasa besarnya. Sekalipun masjid itu sedemikian besar, sekalipun bukan Bulan Haji atau Bulan Ramadhan, sehari-hari selalu dipenuhi orang shalat berjama'ah, Di Masjid yang mampu menampung hingga belasan juta jama'ah itu, ternyata sekedar mencari tempat untuk shalat saja, kadang kala begitu sulit. Tempat shalat selalu diperebutkan, apalagi tempat yang berada di dekat dengan Ka'bah. Artinya, shalat berjama'ah tidak saja menjadi kebutuhan, atau diangap sebagai sesuatu yang perlu, melainkan sudah menjadi kecintaan oleh kaum muslimin.
Setiap datang di Makkah dan juga di Madinah, termasuk beberapa hari terakhir ini, saya melihat keindahan yang luar biasa. Yaitu, semua orang berhasil menampakkan, betapa pentingnya menunaikan ibadah, yakni pada setiap waktu selalu menjalankan shalat dengan berjama'ah. Jarak yang jauh dari masjid dan juga suhu udara yang amat panas ---sekarang ini mencapai 50 derajad, ternyata tidak dijadikan alasan untuk tidak ke masjid. Sebaliknya, semua orang merasa harus datang ke masjid pada setiap waktu shalat lima waktu. Akibatnya, pada setiap waktu shalat, Masjid al Haram selalu dipenuhi jama'ah.
Pada saat menjelang dikumandangkan adzan, para jama'ah sudah bergegas menuju masjid dari semua arah. Masjid menjadi pusat aktifitas kehidupan masyarakat di sekitarnya. Jika di mana-mana, yakni di berbagai belahan dunia, orang lebih banyak berbicara tentang uang, kekuasaan, kesenangan duniawi, dan lain-lain, maka masyarakat yang berada di sekitar Masjidil Haram lebih banyak berkonsentrasi pada urusan-urusan yang lebih mulia, yaitu tentang Tuhan, tentang keselamatan dan kebahagiaan hakiki, tentang keberadaannya di muka bumi ini, tentang ibadah, dan sejenisnya. Namun anehnya, kehidupan mereka itu pada umumnya tampak tidak miskin atau berkekurangan.
Sehubungan dengan proyek renovasi dan perluasan Masjid al Haram secara besar-besaran yang sekarang tengah dilaksanakan, maka pasti mempekerjakan ribuan orang di tempat itu. Para pekerja itu berasal dari berbagai negara, tidak terkecuali dari Indonesia. Yang tampak mengagumkan, bahwa para pekerja bangunan di Masjidil Haram tersebut, pada setiap dikumandangkan adzan, mereka segera berhenti dan ikut shalat berjama'ah. TIdak ada orang yang tidak ikut shalat berjama'ah, termasuk para tukang batu dan kuli. Pada waktu shalat berjama'ah, kecuali beberapa orang polisi yang bertugas menjaga keamanan, semuanya ikut shalat .
Shalat berjama'ah, baik di Masjidil Haram dan di Masjid Nabawi di Madinah telah menjadi kebutuhan dan dilakukan oleh semua orang. Pada waktu shalat, semua kegiatan berhenti, termasuk para pedagang di toko-toko, di pasar-pasar atau di tempat selainnya. Ketika mendengar suara adzan, semua orang meninggalkan aktivitasnya masing-masing dan pergi mendatangi seruan shalat berjama'ah itu. Umpama saja, di berbagai negara, tidak terkecuali di Indonesia, pemandangan indah itu juga tampak, maka umat Islam di mana-mana akan semakin kelihatan kekuatannya dan juga sekaligus tampak keindahannya. Wallahu a'lam.



