Pemandangan Indah Di Waktu Subuh
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 9 Juni 2015 . in Dosen . 2241 views

Sebenarnya merupakan sesuatu yang sederhana dan atau biasa, tatkala ada orang berlari-lari mengejar sesuatu yang dianggap penting dan harus dikejar. Misalnya, mengejar waktu keberangkatan bus, kereta api, atau pesawat terbang, dan semacamnya. Akan tetapi menjadi lebih indah ketika yang dikejar itu adalah kesempatan shalat subuh berjama'ah.

Keindahan tersebut menjadi sangat terasa oleh karena di mana-mana tidak selalu terjadi. Tidak sedikit orang, tatkala mendengar suara adzan dan apalagi pada waktu subuh, tidak segera bangun dan lari ke tempat asal datangnya suara panggilan shalat, melainkan sebaliknya, yaitu justru menyempurnakan posisi tidurnya agar nikmat tidurnya tidak putus.

Padahal mereka juga tahu bahwa suara adzan pada waktu subuh disepurnakan dengan kalimat peringatan, bahwa shalat lebih utama dibanding tidur, atau 'asholatu khoirum minan naum'. Namun peringatan itu tidak selalu direspon secara serius oleh kaum muslimin. Mendengar peringatan itu tidak sedikit orang yang mengabaikannya.

Sejak hari Kamis, 4 Juni 2015, saya bersama beberapa ulama atau tokoh dari beberapa kota di Indonesia diundang oleh Manteri Haji Saudi Arabia, untuk menunaikan ibadah umrah. Perjalanan dari Jakarta ke Madinah ditempuh kurang lebih 9 jam, dan nyampai pada tengah malam. Senentar saja beristirahat sebentar terdengar adzan subuh dari masjid Nabawi yang tidak terlalu jauh dari hotel. Tatkala keluar dari ternyata banyak orang, laki-laki perempuan, tua atau muda, berlari-lari menuju masjid, khawatir terlambat.

Pembandangan tersebut menurut perasaan saya sedemikian indah. Orang berlari-lari bukan mengejar sesuatu yang bersifat material, atau hal lain yang sederhana atau sepele, melainkan dodorong oleh niat atau kemauan yang lebih mulia, yaitu menghadap Allah lewat shalat subuh berjama'ah. Mereka itu ingin agar shalatnya lebih sempurna, dilakukan di masjid, dan berjama'ah. Tatkala seesai menjalani kewajiban itu, yang diperoleh adalah kepuasan batin, dan merasa telah memperoleh sesuatu yang terbaik.

Mengejar kesempatan shalat berjama'ah tampak lebih penting dibanding mencari jenis keuntungan lainya. Sesampai di masjid, mereka mengambil posisi pada baris yang masih kosong. Tidak ada di antara mereka itu yang saling berebut. Sekalipun apa yang dicari itu dirasakan amat penting, tetapi masih memperhatikan kebutuhan orang lain.

Menyaksikan pemandangan indah tersebut, saya menjadi teringat tentang kecintaan umat Islam di Indonesia terhadap masjid. Mereka dengan cara apapun membangun masjid, dan hasilnya luar biasa. Jumlah masjid menjadi sedemikian banyak. Semua kampung, khususnya yang dihuni oleh umat Islam, pasti telah memiliki masjid. Tempat ibadah itu, kadang ukurannya sedemikian besar dan indah. Akan tetapi, keindahan itu kadang belum sempurna, oleh karena, pada waktu-waktu shalat, dan apalagi shalat subuh, jumlah jama'ahnya masih terbatas, dan bahkan kadang terlalu sedikit.

Rupanya, di daerah-daerah tertantu, orang baru bersemangat membangun masjid, tetapi belum sampai pada gerakan memanfaatkannya. Selain itu, di waktu subuh,

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up