GEMA-Kepala Biro (Kabiro) Kepegawaian Kementerian Agama (Kemenag) RI, Mahsusi hadir di tengah ratusan pegawai unit satuan kerja (satker) UIN Maliki Malang (5/6). Kehadiran Kabiro tersebut dalam rangka sosialisasi Reformasi dan Birokrasi Aparat Sipil Negara (ASN).
“Anggaran Kemenag, khusunya Perguruan Tinggi (PT) dari tahun ke tahun bertambah besar, namun alur regulasi penggunaannya harus diimbangi dengan pegawai sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkompeten di bidangnya. Ada beberapa titik penting yang sangat sensitif di dalam Kemenag, yaitu manajemen SDM, perencanaan, serta anggaran sebagai daya dukung pengembangan kompetensi. Semua aspek tersebut harus siap berubah ke arah yang lebih baik,” buka Mahsusi di awal materinya.
Pembenahaan manajemen SDM, pembenahan sistem manajemen SDM, serta peningkatan kompetensi melalui asesmen menjadi hal penting dalam pembahasan sosialisasi yang bertempat di Aula Lt.5 Gedung Rektorat Ir. HC, Soekarno UIN Maliki Malang tersebut.
“Penataan manajemen dengan memperhatikan linieritas SDM sangatlah penting. Misalnya, sebelum dosen diangkat, pasti sudah diketahui kompetensinya, linier atau tidaknya. Kita ambil contoh, di masyarakat ada penyuluh agama tapi ijazahnya SMEA, ada lagi biro hukum tapi ijasahanya akuntansi. Di situlah peran penting linieritas sesuai kompetensi masing-masing,” urai Pejebat Eselon II Kemenag tersebut.
Berbicara tentang peningkatan kompetensi melalui asesmen, asesmen sendiri merupakan bagian penting dari manajemen kepegawaian yang akan digunakan sebagai alat untuk pengembangan pegawai dan pola karier. Pelaksanaan asesmen harus berstandar secara nasional, karenanya kompetensi dan kualifikasi pegawai harus sesuai dengan kompetensi dan kualifikasi jabatan.
“Di sinilah pentingnya manajemen kepegawaian, mulai dari proses recruitment, pengangkatan, penempatan, promosi jabatan yang harus didasarkan pada unsur kompetensi dan kualifikasi, dan yang terakhir adalah kesejahteraan,” lanjut pria kelahiran Nganjuk itu.
Masih dalam materi yang disampaikan Mahsusi, proses recruitment itu sendiri haruslah linier sesuai dengan formasi yang dibutuhkan, penempatan, serta penyebarannya harus benar-benar ditata sesuai dengan bidangnya. Linieritas memegang peranan yang penting karena memiliki kaitan antara jabatan dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP), pekerjaan sehari-hari pegawai haruslah sesuai dengan jabatannya. Jika tidak linier, maka bisa dipastikan akan mengalami masalah, entah itu jangka panjang atau jangka pendek.
Mengenai kesejahteraan, kesejahteraan PNS meliputi uang makan, transportasi dan tukin (tunjangan kinerja, Red). Sejak Juli-Desember 2014 tukin sudah dicairkan, tukin 2014 tersebut berdasarkan kehadiran saja, sedangkan untuk tukin 2015 didasarkan pada kehadiran dan capaian kerja.
“Agar tidak terjadi kesenjangan grade, tidak ada lagi grade besar tapi pekerjaannya ringan, begitu pula sebaliknya,” lanjut pejabat kemenag tersebut.
Selanjutnya bagaimana dengan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), hak dan kewajiban yang sama dengan PNS, yang beda hanya pada tunjangan pensiun. “Kita semua berdoa agar UIN Maliki Malang ini semakin melejit. Boleh berbeda-beda, berlapis-lapis, namun niat harus satu, yaitu untuk melejitkan UIN Maliki Malang,” tutup Mahsusi di akhir materinya (ic)



