Banyak dirasakan oleh berbagai kalangan bahwa kehidupan sosial yang semakin modern ini ternyata harus dibayar mahal. Hubungan kekeluargaan dan bahkan antar tetangga yang dahulu terasa dekat, dengan hadirnya budaya kapitalieme dan meterialisme seperti sekarang ini, terasa semakin hilang. Antar orang atau antar pribadi menjadi berjarak atau saling tidak mempedulikan kecuali ada sesuatu yang dianggap menguntungkan.
Di kota-kota besar antar tetangga tidak saling mengenal adalah hal biasa. Keadaan semacam itu, ternyata sudah semakin luas, tidak saja di kota-kota besar, tetapi juga sampai di kota-kota kecil dan bahkan di pedesaan. Rumah-rumah penduduk di banyak kota dibuat berjajar dan tidak ada batas antara satu dengan lainnya. Akan tetapi batas itu muncul dalam bentuk lain yaitu perbedaan jenis pekerjaan, kesenangan, organisasi, dan lain-lain.
Sekalipun masing-masing orang menempati perumahan yang sama, oleh karena memiliki pekerjaan yang berbeda atau hobby yang berlainan, dan lain-lain, maka bisa saja di antara mereka tidak saling bertemu dan juga tidak saling mengenal. Jarak hubungan itu semakin jauh dialami oleh orang-orang yang berada pada klas menengah ke atas. Bangunan rumah mereka lebih besar dan demikian pula ukuran luas tanahnya. Besarnya ukuran rumah dan tanahnya itu, menjadikan masing-masing dipisahkan oleh pembatas berupa pagar yang kokoh dan tinggi.
Tampa ada pagar pembatas saja antar keluarga belum tentu saling mengenal, maka lebih-lebih lagi ketika rumah-rumah itu dibatasi oleh pagar pembatas yang tidak mungkin antar tetangga berkomunikasi. Pada komunitas masyarakat seperti itu, maka hanya ketua RT., atau RW yang banyak dikenal oleh orang-orang di lingkungannya. Pejabat pemerintahan tingkat terendah itu, pada saat-saat tertentu diperlukan untuk memenuhi keperluan administrasi kependudukan. Selain pejabat dimaksud, jika tidak memiliki peran khusus yang penting, maka tidak banyak dikenal, sekalipun oleh tetangga sendiri.
Kenyataan tersebut tidak akan mungkin bisa dihindari. Itulah sebenarnya salah satu karakteristik masyarakat perkotaan dan atau masyarakat modern. Namun oleh karena pengaruh informasi dan komunikasi yang sedemikian kuat, maka budaya tersebut berpengaruh hingga ke masyarakat di pedesaan. Dahulu, di masyarakat pedesaan antara satu dengan yang lain terasa akrab, guyub, dan saling mengenal. Masyarakat pedesaan hingga beberapa RW atau bahkan satu desa, masing-masing mengenal semuanya, hingga menyangkut kharasteristiknya. Suasana seperti itu, sudah tinggal menjadi kenangan. Masing-masing orang sudah tidak banyak dikenal oleh keluarga atau tetangganya sendiri.
Bulan puasa seperti pada saat sekarang ini, ternyata mampu menjadi kekuatan pengubah perilaku masyarakat secara signifikan. Seseorang yang semula tidak pernah datang ke masjid untuk shalat berjama'ah, maka pada Bulan Ramadhan, mereka merasa perlu datang ke masjid. Sekalipun pada bulan selain Ramadhan, mereka tidak pernah shalat berjama'ah ke masjid, tetapi pada bulan yang dianggap mulia itu, mereka mengutamakannya datang. Oleh karena itu, mushalla, atau masjid, sekalipun semula sepi, ---kecuali pada waktu shalat jum'at, maka dengan datangnya Bulan Ramadhan, menjadi berbalik, mendadak ramai.
Maka pada bulan Ramadhan, baik di perkotaan maupun di pedesaan, hubungan antar orang menjadi semakin dekat kembali. Apalagi dengan tambahan kegiatan, misalnya diselenggarakan berbuka puasa bersama antar tetangga, antar pejabat, sesama pengurus partai politik, organisasi, mitra bisnis, dan lain-lain. Maka bulan Ramadhan tidak saja menambah gairah beragama, tetapi juga mendekatkan kembali hubungan-hubungan sillaturrakhiem di antara warga masyarakat. Maka benar, bulan puasa menjadi wahana terbangunnya kembali hubungan-hubungan sillaturrahmi yang memang dibutuhkan oleh siapapun. Wallahu a'lam.



