Seringkali kita mendengar ceramah, mengupas tentang macam-macam orang berpuasa, satu di antaranya adalah puasanya orang awam. Orang awam atau orang pada umumnya yang dimaksudkan itu bisa saja, adalah para pekerja sebagai pedagang, petani, tukang sayur, bakul ikan di pasar, makelaran, buruh tani, tukang ojek, tukang parkir, para ibu rumah tangga, dan lain-lain yang sejenis dengan itu.
Menyebut orang awam sebagaimana dimaksudkan itu, maka yang terbayang kemudian adalah orang-orang yang dilihat dari kualitas pengetahuan agamanya tidak terlalu berlebih. Pengetahuan agama itu diperoleh dari sumber yang tidak terlalu istimewa, yaitu misalnya saja dari pendidikan agama di mushalla kecil, di sekolah umum, diniyah singkat, atau sekedar dari tetangganya.
Tetapi, sesederhana apapun pengetahuan agama mereka itu, sekalipun sehari-hari harus bekerja keras, membanting tulang, ternyata mereka tetap berpuasa. Mungkin saja, puasa mereka hanya sebatas memenuhi syarat-syarat minimal, misalnya hanya sekedar mencegah makan minum dan menghindar dari hubungan suami isteri di siang hari. Akan tetapi, beban puasa itu sebenarnya adalah sudah luar biasa beratnya.
Bisa dibayangkan, seorang buruh tani, buruh nelayan, pekerja sebagai manol di pasar, mengayuh becak, para ibu rumah tangga, dan semacamnya, mereka bekerja keras sepanjang waktu, tetapi mereka tetap menjalankan perintah agamanya. Dalam suasana yang amat lelah, tenggorokannya kering, dan lapar, tetapi tetap berpuasa. Belum lagi setelah berbuka puasa, mereka harus segera ke masjid untuk berjama'ah shalat isya' dan tarweh berjama'ah.
Memang, oleh karena pengetahuan agamanya terbatas, maka kualitas puasanya juga hanya sekedar memenuhi syarat syahnya saja. Akan tetapi sebenarnya, apa yang dilakukan mereka itu, untuk ukuran orang awam sudah sedemikian berat. Bisa dibayangkan, hanya makan sahur dan berbuka, yang bisa jadi hanya dengan gizi seadanya, mereka masih tetap berpuasa.
Orang-orang seperti tersebut itu, sekalipun puasanya hanya sekedar memenuhi syarat syahnya, dalam arti jauh dari istimewa, tetapi menyangkut semangat, kesungguhna, dan ketulusannya dalam menjalankan agamanya, bisa jadi melebihi orang-orang yang tampak selalu menyempurnakan ibadahnya itu dengan berbagai kegiatan sunnah lainnya. Apalagi, orang awam dimaksud, selain puasanya harus dijalani dengan berat, juga harus menghadapi aneka ragam tantangan yang berada di lingkungan kerjanya masing-masing, yang tentu tidak ringan.
Tuhan Maha Mengetahui dengan sebenar-benarnya terhadap apa saja yang dilakukan oleh para hamba-Nya. Selain itu, Allah swt., juga tidak saja melihat apa yang tampak dan atau yang bisa diketahui oleh mata kepala, tetapi lebih dari itu, akan melihat apa yang tampak dan sekaligus yang tersembunyi di hati setiap orang. Penglihatan Allah akan sempurna, dan memang Allah adalah Maha Sempurna, termasuk sempurna dalam memilihat kualitas puasa yang sebenarnya dijalankan oleh masing-masing hamba-Nya.
Oleh karena itu, puasanya para buruh bangunan, buruh tani, buruh nelayan, tukang becak, tukang parkir, para manol, ibu-ibu yang bekerja keras di rumah melayani semua keluarga, dan sejenisnya itu, mungkin saja oleh sementara orang digolongkan sebagai puasanya orang awam. Akan tetapi, atas kasih sayang Allah yang tidak terbatas, maka adalah sangat mungkin dan mudah-mudahan begitu, sekalipun disebut awam, justru menjadi puasa teristimewa dan mereka terpilih menjadi kekasih-Nya yang sempurna. Wallahu a'lam.



