Secara Fisik, Betapa Sulit Berziarah Ke Makam Rasulullah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 14 Juni 2015 . in Dosen . 5657 views

Di sementara kalangan, orang berdebat tentang berziarah kubur, antara perlu atau tidak. Akan tetapi, sekedar berziarah, ternyata tidak selalu mudah dilakukan, apalagi berziarah ke Makam Rasulullah. Berziarah ke makam orang tuanya sendiri, ---bagi mereka yang orang tuanya sudah wafat, tidak selalu dianggap penting, apalagi tempatnya jauh, biaya mahal, atau alasan lainnya.

Didorong oleh suasana batin, yakni sangat mencinta terhadap Rasulullah, maka setiap bepergian ke daerah yang tidak jauh dari Makkah dan Madinah, saya berusaha untuk berziarah ke makam Rasulullah, yakni di masjid Nabawi, Madinah. Terasa ada sesuatu yang kurang, misalnya ketika datang ke Riyad atau ke Sudan, dan atau lainnya, kemudian tidak melengkapi singgah ke Madinah.

Berziarah ke makam Rasulullah, sekalipun sudah berkali-kali, ternyata tidak pernah sempurna. Hal itu disebabkan oleh karena banyaknya orang lain yang juga ingin berziarah. Terasa bahwa berziarah ke makam utusan Allah itu sangat tidak mudah. Banyak orang antri, bergantian, dan jika telah memperoleh kesempatan, maka juga harus berdesak-desakan di antara ribuan orang yang akan melakukan hal yang sama.

Keadaan atau suasana yang demikian itu tidak hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu, melainkan adalah di sepanjang waktu, kecuali pada waktu shalat berjama'ah dan atau pada malam hari ketika Masjid Nabawi, ---demi menjaga keamanan, harus ditutup. Pada saat dibolehkan berziarah, maka orang akan berbondong-bondong dan berdesak-desakan mendekat makam yang mulia itu.

Oleh karena jumlah peziarah yang selalu melimpah, maka tidak akan mungkin seseorang bisa merasa puas, berdoa di dekat makam yang berada di tengah-tengah masjid Nabawi itu dalam waktu lama. Para peziarah biasanya hanya diperkenankan lewat dan tidak boleh berhenti di tempat bersebelahan dengan makam itu. Di tempat itu, para peziarah berdoa secara khusu' sambil berjalan.

Memperoleh kesempatan yang sangat singkat seperti itu, orang biasanya secara spiritual sudah puas dan bahagia, yakni pernah merasa berziarah ke makam Rasulullah, utusan Allah yang amat mulia. Pahala apa yang diperoleh dari berziarah itu, mungkin saja tidak pernah terpikirkan, tetapi dari kegiatan itu akan merasakan sesuatu yang memuaskan kedahagaan batin. Yaitu, bahwa selama hidup merasa pernah melihat dan mendekat pada makam seseorang yang menyandang akhlak mulia, pembawa kebenaran, dan keselamatan.

Mungkin saja, sekalipun sudah nyampai di Masjid Nabawi, ada saja orang yang berpandangan bahwa tidak perlu mendekat ke makam itu. Mereka mencukupkan diri, berziarah dari tempat yang jauh. Hal itu kiranya boleh-boleh saja. Akan tetapi, dengan cara mendekat maka akan merasakan sesuatu yang tidak ternilai harganya. Manusia tidak saja membutuhkan hal yang bersifat fisik, tetapi juga menginginkan agar kebutuhan jiwa, ruhani, atau spiritualnya terpenuhi. Kebutuhan sebagaimana disebutkan terakhir itulah, bagi orang-orang tertentu, sekalipun sulit dilakukan, merasa perlu terpenuhi, lewat berziarah dengan cara mendekat.

Pada saat mendekat makan Rasulullah, tentu pada setiap orang akan mendapatkan pengalaman batin yang berbeda-beda. Secara pribadi, pada setiap berada di tempat itu, saya merasakan dan menghayati, yaitu betapa berat perjuangan Rasulullah dalam menyampaikan tugasnya, betapa indahnya ajaran yang disampaikan kepada umat manusia, dan juga betapa mulianya akhlak utusan Tuhan ini. Selebihnya menghayati bahwa, orang yang dimakamkan di tempat itu adalah kekasih Allah, kekasih Pemilik jagad raya, Keagungan, Kemuliaan, dan Keselamatan.

Suasana batin tersebut itu tidak mudah muncul di tempat lain. Khusus di tempat itu, tanpa diundang, maka perasaan mengharukan yang mendalam selalu muncul dengan tiba-tiba. Maka, di sanalah kehausan spiritual menjadi terpenuhi. Oleh karena itu, sekalipun berat untuk melakukannya, oleh karena tempatnya yang jauh, mahal, dan secara fisik dalam berziarah itu juga harus berdesak-desakan dengan orang lain, maka menjadikan semua itu tidak dirasa sebagai halangan. Keinginan mendekat pada makam mulia itu tidak bisa ditukar dengan kegiatan lain apapun.

Merasakan kenikmatan spiritual dari berziarah ke makam Rasulullah, biasanya kemudian melahirkan kesadaran untuk berziarah ke tempat lain, utamanya ke makam orang tua. Berziarah ke makam juga akan mengingatkan pada Dzat Yang Memberi Hidup, mengingatkan pada kematian, mengingatkan pada tanggung jawab dalam menjalani kehidupan, mengingatkan dahsyatnya siksa kubur, dan lain-lain yang semua itu diperlukan untuk memperbaiki kualitas pribadi diri sendiri. Semasa masih kecil, menurut riwayat, Muhammad saw., pernah diajak oleh ibunya berziarah ke makam ayahnya, Abdullah, di Madinah. Demikian pula Nabi juga pernah berziarah ke makam ibunya, Aminah. Peristiwa itu mengingatkan tentang betapa pentingnya berziarah kubur. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up