Berbicara tentang biaya berpuasa mungkin terasa aneh. Sebab, berpuasa itu sebenarnya adalah menguangi, yakni mengurangi frekuensi makan, minum dan lainnya yang membatalkan puasa. Jika bulan ramadhan dirasakan justru menambah jumlah anggaran dari biasanya, maka mungkin saja hal itu karena ada tradisi yang dibuat sendiri oleh masyarakat yang memerlukan biaya, pada hal sebenarnya tidak mengapa umpama ditingalkan.
Namun meninggalkan atau mengubah tradisi di mana-mana dan kapan saja ternyata tidak mudah, apalagi hal itu terkait dengan kepercayaan atau agama. Selama ini, sementara masyarakat menganggap bahwa datangnya bulan Puasa harus disambut dengan berbagai jenis kegiatan yang sudah barang tentu, bagi masyarakat yang secara ekonomi terbatas, akan memberatkan. Akibatnya, bulan puasa oleh masyarakat tertentu diartikan sebagai kedatangan beban tambahan.
Sekalipun disebut sebagai tradisi, mereka tidak mudah meninggalkannya. Bahkan, umpama diberi pengertian, agar tradisi itu dihentikan, belum tentu mereka mengikuti anjuran itu. Meskipun berat, mereka merasa harus menjalankan. Berkenduri berkali-kali itu, kadang dianggap lebih penting dari puasanya sendiri.
Akibat merasa harus memenuhi tradisi itu, maka anggaran belanja rumah tangga pada bulan ranadhan dipastikan naik. Mereka, selain hares menyelenggarakan berbagai jenis kegiatan yang memerlukan biaya, kebutuhan rutin juga harus ditingkatkan, termasuk konsumsi sehari-hari. Padahal semestinya tidak demikian itu yang dilakukan. Bulan puasa seharusnya justru mengurangi belanja.
Bagi masyarakat yang berkecukupan, peningkatan anggaran, bukan dianggap sebagai beban. Akan tetapi bagi kalangan awam, dan lebih-lebih mereka yang secara ekonomi berada di kelas bawah, secara diam-diam mereka mengeluh, merasa berat. Perasaan berat itu kadang hingga terdengar, misalnya mereka akan ikut menjalankan puasa, tetapi tidak memiliki cukup biaya. Mungkin saja pada benak mereka tergambar, bahwa dengan berpuasa, maka konsumsi selama bulan Ramadhan harus ditingkatkan dan belum lagi beban lainnya.
Menghilangkan tradisi yang sebenarnya memberatkan itu kadang tidak mudah dan bahkan delematis. Diberi pengertian bahwa menyelenggarakan berbagai jenis kegiatan itu tidak perlu, mereka tidak selalu menerima. Mereka menganggap bahwa, kegiatan dimaksud sejak lama menjadi tradisi atau bagian dari puasa yang tidak boleh ditinggalkan. Sedangkan membiarkannya, masyarakat akan merasa terbebani dan bahkan kadang setelah bulan puasa usai, mereka kehabisan segala-galanya.
Mendengar, informasi dari beberapa tetangga, bahwa banyak di kalangan masyarakat harus menabung berbulan-bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan, agar bisa bersedakah dan mengundang tetangga untuk kenduri berkali-kali selama bulan puasa, dan lain-lain, maka terasa ada sesuatu yang keliru dalam memaknai bulan puasa. Bulan yang seharusnya lebih berhemat, ternyata justru kebutuhannya membengkak.
Memang pada bulan puasa diserukan agar banyak bersedekah, berinfaq, dan membayar zakat. Akan tetapi, seruan itu sebenarnya bukan untuk semua orang. Anjuran itu hanyalah untuk orang-orang yang berkecukupan. Sebaliknya, bagi orang yang masih berkekurangan, bukan dianjurkan mengeluarkan infaq, shadaqoh, dan zakat, melainkan justru akan menerima pembagian zakat.
Banyak orang yang menangkap bahwa anjuran agar bersedekah, dimaknai harus menyelenggarakan kenduri berkali-kali di sekitar bulan Puasa, Akibatnya, anggaran rumah tangga harus naik, dan jika tidak mencukupi mereka harus berhutang dan atau oleh karena malu, maka merasa lebih baik tidak ikut berpuasa. Hal demikian itu, para muballigh harus menjelaskan sejelas-jelasnya dengan sabar dan arif. Manakala penjelasan itu tidak hati-hati, akan terjadi salah paham, dan juga mengakibatkan konflik, atau orang tersinggung perasaannya.
Aneh, kadang bagi masyarakat tertentu, menyelenggakan kenduri dianggap lebih penting dibanding menjalankan puasanya itu sendiri. Selain itu, memang di tengah masyarakat selalu terjadi proses-proses sosial, misalnya orang merasa harus beradaptasi atau menyesuaikan dengan tetangga, menjaga prestise, dan bahkan juga secara diam-diam saling berkompetisi. Hal demikian itulah yang memerlukan penjelasan terkait puasa harus disampaikan dengan penuh kehati-hatian, agar tidak terjadi salah paham dan bahkan bahkan ada pihak-pihak yang merasa tersinggung.
Memang memberi tidak selamanya oleh masyarakat dimaknai sebagai beban, tetapi juga kewajiban dan bahkan akan mendatangkan kebanggaan, apalagi pada bulan Ramadhan. Oleh karena itulah dalam menjelaskan hal terkait dengan biaya bulan Ramadhan tidak selalu mudah. Namun, apapun harus dilakukan dengan sabar, tekun, berulang-ulang, hingga masyarakat menjadi jelas, bahwa beragama Islam sebenarnya tidak menjadikan hidup semakin berat, tetapi sebaliknya, yaitu justru menjadi semakin ringan dan menyenangkan. Wallahu a'lam.



