Di Bulan Ramadhan ini, dua pensiunan dosen UIN Maulana Malik Ibahim Malang, wafat. Pertama, Drs. H. Abdul Ghofir, pada hari Kamis, tanggal 2 Juli 2015, sekitar jam 4 sore, setelah ashar, tanpa didahului sakit, wafat. Kedua, Drs. H. Satral, M.Ag, pada hari Sabtu, tanggal 4 Juli 2015, pagi setelah shalat subuh, juga dipanggil oleh Allah. Keduanya seumur, Pak Ghofir berusia 72 tahun, sementara itu, Pak Satral berumur 73 tahun.
Semasa hidupnya, keduanya sama-sama bekerja, atau mengabdikan diri di Kementerian Agama. Pak Ghofir, begitulah sebutan akrabnya, sejak lulus Fakultas Tarbiyah IAIN Malang, diangkat menjadi dosen di almamaternya, yang sekarang lembaga itu berubah menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Demikian pula Pak Satral, setelah lulus sarjana, juga menjadi dosen. Bedanya, Pak Satral sebelum menjadi dosen di UIN Malang bertugas di IAIN jember, bahkan oleh karena prestasinya, beliau pernah diberi amanah memimpin kampus itu.
Di tengah-tengah bertugas sebagai dosen, Pak Ghofir pernah diangkat menjadi Kepala Kantor Departemen Agama, Provinsi Jawa Timur. Dan, setelah umurnya tidak memungkinkan lagi memegang jabatan struktural, beliau kembali menjadi dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang hingga pensiun. Berbeda dengan Pak Ghofir, Pak Satral sebelum diangkat sebagai dosen, pernah menjadi pegawai di kantor Departemen Agama di Pasuruan.
Sekalipun keduanya lahir di tempat berbeda, Pak Ghofir di Nganjuk, Jawa Timur, sementara itu Pak Satral lahir di Lombok, NTB, ternyata memiliki kesamaan. Keduanya dikenal pendiam, sabar, dan tidak banyak bicara, kecuali pada saat menunaikan tugas, yaitu sebagai dosen, mengajar para mahasiswanya di ruang kuliah. Sifat-sifat terpuji seperti sabar, ikhlas, tawakkal, amanah, dan semacamnya, secara mudah dapat ditemukan pada diri kedua pensiunan dosen yang memiliki umur hampir sama dan wafat pada hari yang hampir bersamaan pula itu.
Menurut penuturan putranya, sebelum wafat, Pak Ghofir tidak mengeluh sakit. Pada hari itu keadaannya biasa-biasa saja. Bahkan sebelum wafat, beliau masih menulis surat yang akan dikirim ke saudaranya. Setelah sholat asyar, beliau duduk di kursi di rumahnya yang sehari-hari ditempati. Di tempat duduk itulah, ternyata beliau wafat. Demikian pula Pak Satral, memang sudah delapan hari, beliau dirawat di rumah sakit. Setelah seminggu dirawat, dan dinyatakan sembuh oleh dokternya, ternyata setelah shalat subuh, pada hari Sabtu pagi, justru beliau wafat.
Kedua pensiunan dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut semasa hidupnya tampak sangat mencintai dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Pak Ghofir semasa hidupnya, menulis beberapa buku yang digunakan sebagai bahan kuliah, di antaranya adalah buku berjudul Methodik Khusus Pendidikan Islam. Buku yang ditulis bersama Prof. Zuhairiny dan Drs. Slamet As Yusuf (alm), tidak saja dijadikan pegangan bagi mahasiswa IAIN atau UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, tetapi juga oleh banyak perguruan tinggi Islam, baik negeri maupun swasta di berbagai daerah. Itulah sebabnya, Pak Ghofir dikenal secara luas di kalangan perguruan tinggi Islam.
Demikian pula Pak Satral, terkesan sangat mencintai pendidikan Islam. Kegigihannya dalam bekerja dan juga buah pikirannya dalam pengembangan pendidikan Islam, hingga beliau pernah memperoleh amanah memimpin STAIN Jember, yang sekarang lembaga pendidikan tinggi Islam itu berubah menjadi IAIN Jember. Namun, oleh karena keluarganya berdomisili di Purwasari, Pasuruan, maka beliau mengajukan pindah tugas ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan amanah itu dijalaninya dengan tekun hingga pensiun.
Salah satu hal yang mengesankan, sebagai bentuk kecintaannya kepada lembaga pendidikan Islam, Pak Satral ketika memperoleh biaya kepindahannya dari STAIN Jember ke UIN Malang, uang dimaksud semuanya dibelikan almari dan kemudian diletakkan di masjid at Tarbiyah UIN Malang. Saya masih ingat, ketika itu Masjid at Tarbiyah baru saja selesai dibangun, dan belum tersedia tempat untuk menyimpan peralatan masjid, termasuk al Qur'an yang selalu debase oleh para mahasiswa. Melihat kekurangan fasilitas itu, Pak Satral menawarkan uang yang diperolehnya itu agar digunakan untuk keperluan masjid kampus, dan tentu saya sebagai pimpinan menerimanya.
Kedua pensiunan dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang dikenal sabar, pendiam, ikhlas, memiliki integritas yang tinggi, dan selalu bekerja dengan tekun, ternyata pada Bulan Suci Ramadhan ini, pada waktu yang hampir bersamaan, dipanggil oleh Allah, wafat. Telah banyak hal yang dilakukan sebagai pengabdian, baik oleh Drs. H. Abdul Ghofir maupun oleh Drs. H. Satral, M.Ag., untuk pengembangan kampus UIN Mulana Malik Ibrahim Malang. Karya dan pengabdian kedua beliau itu, tentu akan dicontoh dan diteruskan oleh generasi ke generasi berikutnya. Banyak orang menyaksikan kebaikan yang telah dilakukan oleh beliau berdua itu, dan tentu mereka berdoa, semoga keduanya khusnul khotimah, ditempatkan oleh Allah pada tempat terbaik dan mulia, yaitu di surga-Nya, amien.



