Islam Mengedepankan Kejujuran
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 28 Juli 2015 . in Dosen . 6667 views

Kejujuran ternyata bukan persoalan sederhana dan remeh. Usaha apa saja menjadi berhasil oleh karena kejujuran. Sebaliknya, berantakan oleh karena tidak adanya kejujuran. Bangsa Indonesia yang sekarang ini sedang dilanda oleh berbagai problem, maka penyebabnya adalah adanya krisis kejujuran. Sedemikian parah krisis itu, sehingga sehari-hari bangsa ini lebih banyak berbicara tentang penyimpangan, hukum, pengadilan, dan penjara.

Nilai kejujuran dalam kehidupan sedemikian mendasar, hingga dikisahkan bahwa Nabi Muhammad saw., sebelum diberangkatkan untuk melakukan isra' dan mikraj, dadanya terlebih dahulu dibelah dan hatinya dibersihkan dengan air zam-zam. Hal itu dimaksudkan agar utusan Allah selalu berbuat jujur. Melalui kisah itu dapat ditangkap bahwa, siapapun yang ingin diangkat derajatnya, hingga meraih hidup sukses dalam pengertian sebenarnya, maka siapapun hatinya harus bersih, dan bisa dipercaya.

Berbekalkan hati yang bersih itu, Nabi Muhammad dipanggil menghadap Tuhan ke sidratul muntaha. Kisah itu menggambarkan betapa pentingnya bagi siapapun melakukan pembersihkan hati, berlaku jujur, dan selalu menjaga kebenaran. Kehidupan menjadi rusak, dan mengakibatkan kekacauan dan bahkan kehancuran adalah oleh karena adanya ketidak-jujuran. Maka Islam mengedepankan kejujuran. Mengajak kepada siapapun memeluk Islam, maka arti sebenarnya adalah mengajak hidup selalu menjaga kejujuran dan kebenaran.

Dalam kehidupan ini, siapapun yang tidak jujur, maka cepat atau lambat, pasti akan menerima akibat buruk dari perilakunya itu sendiri. Rumah tangga, di mana antara suami isteri dan anak-anaknya, tidak berhasil membangun kejujuran, maka keluarga itu akan sulit bertahan, dan akhirnya bubar. Tatkala suami selalu mencurigai isterinya misalnya, dan demikian pula sebaliknya, isteri selalu tidak percaya kepada suaminya, maka pertengkaran tidak akan bisa dicegah, dan akhirnya keluarga itu akan sulit bertahan.

Juga dalam usaha apa saja, perdagangan misalnya, jika dilakukan oleh orang yang tidak jujur, maka akan segera bangkrut. Para pembeli ketika mengetahui penjualnya tidak jujur, memalsu dagangannya misalnya, mereka akan berpindah dan mencari penjual lain yang bisa dipercaya. Berbagai kesepakatan, kerjasama, hutang piutang, dan lain-lain akan bubar oleh karena ketidak-adanya kejujuran. Lembaga keuangan, Bank misalnya, tidak akan berani memberi modal kepada seseorang yang diketahui tidak jujur. Maka, ternyata jujur menjadi kunci terhadap keberhasilan dalam berbagai usaha apa saja.

Tidak jujur juga menjadi lebih berbahaya lagi ketika berada pada orang-orang yang aktif di dalam organisasi, perusahaan, dan bahkan juga organisasi pemerintahan. Organisasi yang diurus oleh orang yang tidak jujur, maka akan berantakan. Fasilitas dan keuangan organisasi akan habis diselewengkan pengurus yang tidak jujur, dan akibatnya akan terjadi suasana saling tidak percaya, tuduh menuduh, konflik, dan akhirnya organisasi itu akan bubar.

Demikian pula organisasi berukuran yang lebih besar, yaitu pemerintahan. Jika para pejabatnya tidak jujur, maka akan terjadi saling curiga mencurigai, program-programnya tidak berjalan, semuanya berbiaya mahal, saling menuduh, menghukum, dan memenjarakan. Akhirnya, pemerintah gagal memakmurkan rakyatnya, oleh karena sehari-hari hanya sibuk dengan urusan pejabatnya sendiri. Anggaran diselewengkan dan atau dikorupsi, sehingga pemerintah tidak berjalan normal.

Itulah sebabnya, Islam menyerukan agar siapapun sanggup memelihara sifat jujur. Sebagaimana dikemukakan di muka bahwa, mengajak menjadi Islam artinya adalah mengajak hidup jujur dan bisa dipercaya. Bahkan, betapa pentingnya kejujuran itu, dikisahkan bahwa pada suatu ketika Nabi didatangi oleh seseorang dan menanyakan tentang Islam.Orang dimaksud ingin memperoleh penjelasan tentang ajaran Islam yang jika dikerjakan oleh siapapun maka yang bersangkutan menjadi selamat. Pertanyaan itu dijawab oleh Nabi dengan singkat, yaitu 'jangan bohong'.

Jawaban nabi tersebut terasa sederhana, tetapi ternyata tidak mudah dilaksanakan. Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari hingga sekarang ini, kejujuran menjadi sesuatu yang mahal. Tidak sedikit orang merasakan dan sekaligus menyaksikan bahwa, berperilaku jujur memang tidak mudah. Oleh karena itu membangun kejujuran sebenarnya lebih rumit, namun akan menjadi kunci keberhasilan, termasuk dalam mengimplementasikan tema besar yang diusung oleh dua muktamar, --NU maupun Muhammadiyah, yaitu Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up