Baru saja umat Islam menjalankan ibadah puasa dan demikian juga warga NU. Bulan puasa itu disebut sebagai bulan perang, ialah perang melawan hawa nafsu. Perang itu tidak mudah dimenangkan, oleh karena musuhnya adalah dirinya sendiri. Sebagai penutup bulan peperangan melawan hawa nafsu itu adalah idul fitri. Pada hari raya itu dikumandangkan suara takbir sebagai pernyataan kemenangan dalam melawan hawa nafsu, yang disebut sebagai lebih berat dibanding perang Badar yang dahsyat.
Tidak berbeda dengan puasa, adalah bermuktamar. Pertemuan para pengurus NU dari seluruh Indonesia itu sebenarnya yang lebih urgen adalah mempertemukan dan bahkan menyatukan niat, hati dan pikiran, untuk bersama-sama membangun ummat ke depan. Tugas itu sebenarnya juga tidak mudah oleh karena pada suatu saat para peserta harus menahan nafsu memenangkan pendapatnya. Oleh karena itu, muktamar disebut sukses adalah ketika tujuan dimaksud tercapai, sekalipun misalnya, harus mengalahkan nafsunya sendiri. Sebagai tanda keberhasilan lainnya ialah ketika berangkat mereka mengucapkan basmallah dan berakhir bersama-sama mengucapkan hamdallah.
Di antara kelebihan para tokoh NU atau para kyai adalah kesenangannya di dalam bersillaturrahmi. Adalah hal biasa antar kyai pengasuh pesantren saling berkunjung untuk menjalin komunikasi, membicarakan tentang upaya mencari cara memajukan jama'ahnya, pesantrennya, dan kegiatan organisasinya. Para kyai menyukai berhalaqoh, bertukar pendapat, dan bermusyawarah untuk mencari cara terbaik di dalam memajukan umat. Hal keunikan para kyai lainnya, bahwa umpama dalam bermusyawarah terjadi perbedaan pendapat, mereka bisa saling menghormati dan atau memberhetikan semetara perdebatannya itu.
Saling menghormat dan memuliakan adalah ciri khas para kyai. Tidak pernah ditemukan antar kyai berebut pengaruh dan juga kemenangan. Apalagi adalah dalam soal amanah. Antar kyai biasanya saling menunjuk terhadap yang lain. Di antara mereka merasa dirinya kurang pantas dan sebaliknya menganggap kyai yang lain lebih tua, lebih alim, dan lebih wara', sehingga lebih tepat ditunjuk sebagai pemimpinnya. Oleh karena itu, jika dalam soal amanah terjadi perebutan di kalangan kyai, maka bukan berebut untuk mendapatkannya, tetapi justru berebut untuk tidak memperolehnya.
Namun suasana yang sedemikian indah itu, seringkali terganggu oleh kepentingan di luar dunia kyai, yaitu politik misalnya. Sekalipun hal itu tidak dikehendaki oleh para kyai, tetapi kelompok kepentingan dimaksud, menghendaki kyai tertentu terpilih tampil memimpin organisasi para uilama atau kyai itu. Sebagai kelompok kepentingan, maka semangatnya kadang berlebihan. Berbagai cara atau strategi dilakukan, hingga organisasi yang dikenal santun, arif, dan selalu terasa guyub itu menjadi terganggu oleh perilaku mereka yang memiliki kepentingan itu.
Mengikuti tradisi kyai, maka seharusnya muktamar sebagai ajang bersillaturrahmi untuk menyatukan niat, hati dan pikiran serta langkah untuk kemajuan umat ke dapan tidak akan terjadi kegaduhan. Mendasarkan pada orientasi sebagaimana dimaksudkan itu, maka tidak akan terjadi perdebatan untuk mencari manang dan sebaliknya mengalahkan yang lain, baik dalam penyusunan program dan apalagi pemilihan pengurusnya. NU sudah menyatakan diri bukan partai politik, sehingga tidak ada sesuatu yang harus diperebutkan. Organisasi ini terfokus pada kegiatan yang intinya adalah berupaya untuk membina, memajukan, dan mengasuh umat. Hal demikian itu juga tampak dari tema muktamar, yaitu memperteguh Islam Nusantara.
Berkali-kali didengungkan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang damai, sejuk, toleran, saling menghormati antar sesama, akrab dengan budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat dan sebaliknya, bukan Islam yang garang, suka menyalahkan pihak lain, mengalahkan, merendahkan, menyinggung perasaan sesama, dan seterusnya. Namun demikian tentu, juga bukan berlebihan hingga misalnya, bersikap permisif terhadap sesuatu yang nyata-nyata dilarang oleh ajaran Islam sendiri.
Mendasarkan pada watak dan perilaku para ulama atau kyai NU dan apalagi diperkukuh dengan tema yang dipilih, maka diharapkan muktamar NU akan meraih kemenangan, yaitu sebagaimana kemenangan yang baru saja diraih ketika menjalankan puasa ramadhan yang lalu. Semua orang, terutama warga NU, berharap agenda besar di Jombang yang dilaksanakan antara tanggal 1-5 Agustus 2015, berhasil diakhiri dengan ucapan hamdallah, sebagai gambaran bahwa semua pihak bergembira dan bersyukur kepada Allah swt., oleh karena kegiatan itu menghasilkan sesuatu yang menggembirakan, baik rumusan program yang hasilkan maupun kepengurusan yang ditetapkan bersama. Wallahu a'lam



