Memenangkan Kompetisi
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 24 Juli 2015 . in Dosen . 2926 views

Kompetisi itu adalah sunnahtullah, yaitu selalu ada di dalam kehidupan ini. Selalu terjadinya kompetisi itu, karena ciptaan Allah itu berbeda-beda, berjenis-jenis dan begitu banyak ragamnya. Begitu pula manusia, diciptakan dalam keadaan beraneka ragam, yaitu terdiri atas laki-laki dan perempuan, bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa. Semua itu, dalam al Qur'an disebutkan agar mereka saling kenal mengenal.

Perbedaan itu diakui adanya, dan dengan mudah dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Pengelompokan itu ternyata tidak saja atas dasar etnis, atau suku bangsa tetapi juga berkembang atas dasar aliran, cara berpikir, organisasi, partai politik, dan lain-lain. Adanya perbedaan itu menjadikan di antara mereka saling mengenal, berintegrasi, bekerjasama, tetapi juga sebaliknya, yaitu saling berkompetisi dan bahkan juga konflik berebut sesuatu.

Dalam berkompetisi, semuanya berebut agar diakui , agar menang, unggul, masyhur, dan sebaliknya, agar yang lain kalah dan bahkan musnah atau setidaknya bisa dikuasai. Hal yang demikian itu adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Etnis, atau suku bangsa tertentu, berkompetisi dengan etnis atau suku bangsa lainnya. Demikian pula, di antara penganut agama yang berbeda, aliran, atau organisasi apa saja, mereka sama-sama berebut kemenangan dan atau pengakuan menjadi lebih unggul.

Persaingan atau kompetisi terjadi dalam berbagai bidang, misalnya bidang ilmu pengetahuan, teknologi, politik, ekonomi, budaya, pertahanan, dan lain-lain. Tentu dalam persaingan itu ada pihak yang menang dan sebaliknya, ada yang kalah. Di antara mereka terjadi saling mempengaruhi, menjajah, merebut sumber-sumber kehidupan, mengkooptasi, menghegemonik, dan lain-lain. Dalam perebutan atau kompetisi itu, siapa saja yang kuat, maka merekalah yang menang. Sunnatullah atau sering disebut hukum alam selalu mengatakan seperti itu.

Maka, dalam persaingan itu, siapapun yang menginginkan kemenangan, maka harus memperkukuh dirinya agar menjadi yang terkuat. Keinginan menang tentu dimiliki oleh semuanya, karena siapapun yang menang akan menjadi penentu, dan sebaliknya, bukan sekedar ditentukan. Kemenangan juga dikehendaki oleh berbagai penganut agama yang berbeda-beda. Oleh karena itu, untuk memenangkan kompetisi dimaksud dalam bidang apapun, harus memiliki kekuatan lebih. Kekuatan yang dimaksudkan itu di antaranya adalah berupa ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, pertahanan, dan juga masih ada yang lain. Seseorang, kelompok, atau negara yang memiliki kelemahan, maka pasti kalah dalam berkompetisi.

Pada saat sekarang ini, umat Islam di berbagai belahan dunia ternyata masih kalah dibanding umat lainnya. Dalam penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial dan lain-lain, umat Islam masih belum mampu memenangkan persaingan. Umat Islam, dalam ilmu pengetahuan misalnya, belum memberi kontribusi yang berarti, atau belum menjadi produsen, tetapi masih sebaliknya, yaitu sebagai konsumen. Demikian pula dalam penguasaan teknologi, ekonomi, pertahanan, dan lain-lain.

Sudah cukup lama, para ilmuan barat berbicara dan bahkan menjangkau luar angkasa, seperti beberapa hari yang lalu diumumkan bahwa mereka telah menemukan bumi kedua. Sementara itu, ilmuwan muslim setiap menjelang Bulan Ramadhan dan hari raya masih berdebat tentang posisi rembulan. Hingga sekarang ini Ilmuwan muslim belum mampu membuat pesawat terbang yang lebih canggih, alat komunikasi yang lebih unggul, dan lain-lain. Akibatnya, umat Islam masih menderita kekalahan, dan harus bersabar ketika berada di bagian belakang. Umat Islam masih berada pada posisi ditentukan, dan belum sebaliknya, berada pada posisi menentukan.

Berbagai negara Islam yang pada akhir-akhir ini mengalami porak-poranda dan disebut-sebut bahwa terdapat kekuatan luar yang berpengaruh, maka sebenarnya dapat dipahami dengan mudah. Umat Islam memang belum berhasil membangun kekuatan yang bisa mengalahkan kompetitornya. Umat Islam dalam berbagai aspek masih lemah. Dan ternyata, kelemahan itu masih ditambah lagi, yaitu mereka juga belum berhasil membangun kebersamaan dan atau persatuan. Sebaliknya, umat Islam di mana-mana masih terbelenggu oleh pertikaian terkait aliran, madzhab, golongan, baik pada skala kecil maupun besar. Suasana seperti itu menjadikan umat Islam sangat mudah untuk diadu domba, dan akibatnya mereka menjadi semakin kaya beban dan masalah.

Pertanyaan yang seringkali muncul adalah melalui pintu mana umat Islam ini akan bangkit agar suatu ketika menjadi pemenang. Tentu jawaban yang sekiranya tepat adalah melalui pendidikan. Umat Islam harus memiliki lembaga pendidikan yang mampu melahirkan kekuatan untuk mengembangkan sumber daya manusia. Bermodalkan sumber daya manusia itulah selanjutnya dihasilkan berbagai jenis ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, dan lain-lain. Tetapi perlu diakui, bahwa oleh karena umat Islam sudah terlanjur tertinggal jauh, maka upaya mengejar ketertinggalan itu tentu tidak mudah.

Namun sebenarnya, umat Islam masih memiliki keunggulan yang dapat mengalahkan segala jenis kekuatan. Keunggulan yang dimaksudkan itu adalah akhlak mulia. Keberhasilan perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun peradaban masyarakat Arab pada waktu itu, bukan karena tidak memiliki tantangan berat, tetapi oleh karena utusan Allah itu berbekalkan akhlaq mulia. Orang berakhlak mulia, sekalipun tanpa kekuatan senjata, akan berhasil mengalahkan musuh dari manapun datangnya. Bahkan bermodalkan akhlaq mulia, maka para musuh akan berhasil diubah menjadi kawan atau berpihak kepadanya.

Penyandang akhlaq mulia, seperti di antaranya adalah kesediaan untuk mendekat, memahami, menghormati, memberikan kasih sayang, memaafkan, dan sebaliknya, yaitu menjauhkan diri dari kesombongan, dendam, permusuhan, merendahkan, dan sejenisnya, maka mereka itu tidak akan bisa dikalahkan dengan kekuatan apapun. Oleh karena itu, agar umat Islam meraih kemenangan dalam berbagai kompetisi, berbekalkan akhlaq mulia, maka musuh harus berhasil diubah menjadi saudara atau kawan. Semua saja, tanpa terkecuali, ---melalui cara bijak atau hikmah, seharusnya semuanya saja diajak memeluk Islam, hingga tatkala meninggal, mereka dalam keadaan muslim. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up