Mendapatkan Pahala Sekaligus Laba
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 12 Juli 2015 . in Dosen . 3893 views

Selain fenomena mudik, pada tiap mendekati hari raya Idul Fitri, pertokoan di mana-mana dibanjiri pengunjung. Mereka membeli berbagai jenis barang yang akan diperlukan pada hari lebaran itu. Toko atau tempat berjualan yang sehari-hari sepi, mendadak ramai. Gambaran seperti itu bukan hal baru, tetapi selalu terjadi pada setiap menjelang hari raya.

Pangusaha dan pedagang sudah mengantisipasi pasar yang akan mendatangkan keuntungan tahunan dimaksud . Mereka juga tahu, barang apa saja yang diperlukan oleh masyarakat. Berbagai jenis pakaian, peralatan rumah tangga, dan juga aneka jenis makanan yang dibutuhkan di hari yang menggembirakan itu. Sekalipun pada hari-hari biasa, orang tidak berpikir tentang baju baru, maka dipastikan menjelang hari raya, mereka harus membelinya.

Kenyataan tersebut menjadikan hari raya identik dengan baju baru, makanan istimewa, dan berbagai jenis peralatan rumah tangga yang serba baru. Seolah-olah tanpa baju baru dan makanan istimewa, kegembiraan di hari raya kurang sempurna. Tuntutan masyarakat yang demikian itu dimanfaatkan oleh para pengusaha atau pedagang untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Padahal belum tentu, semua pengusaha itu berpuasa. Oleh karena itu, sekalipun tidak memperoleh pahala, mereka pasti mendapatkan keuntungan.

Berbeda dengan pengusaha dan pedagang, pada umumnya kaum muslimin yang dipikirkan adalah ibadah dan pahala. Sejak beberapa bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan, mereka berharap bisa menjalankan ibadah sebaik-baiknya. Mereka berdoa, agar dikaruniai berkah pada bulan Rajab dan bulan Sya'ban dan memohon kepada Allah swt., agar umurnya dipanjangkan agar sampai hingga bulan Ramadhan.

Setiap datang bulan Ramadhan, bagi kaum muslimin, yang terbayang adalah peningkatan ibadah dan pahala sebanyak-banyaknya. Hal itu tidak salah, karena mengikuti ajaran Nabi. Bahkan kegiatan itu semakin meningkat pada malam-malam akhir bulan Ramadhan. Di antara malam itu terdapat lailatul qadar. Bersumber dari al Qur'an, malam itu disebut lebih utama dari seribu bulan lainnya. Maka, frekuensi ibadah ditingkatkan. Atas pemahaman dan motif meraih pahala itu, kaum muslimin melakukan ibadah sebanyak-banyaknya.

Rupanya bulan puasa, sama-sama dijakan oleh berbagai kalangan untuk mengejar sesuatu yang mendatangkan kegembiraan. Para pengusaha dan pedagang mengejar laba atau keuntungan, sementara itu, kaum muslim berusaha mengejar pahala. Jauh sebelum datangnya bulan puasa, para penguasaha dan atau pedagang mempersiapkan dagangannya untuk diajual pada saat menjelang hari lebaran. Keuntungan mereka tentu meningkat, karena selain jumlah barang yang dijual bertambah banyak, harganya juga naik.

Atas usahanya itu, selesai hari raya, para pengusaha dan pedagang akan menghitung laba atau keuntungannya . Sementara itu , seusai lebaran, kaum muslimin yang tidak berprofesi sebagai pengusaha atau pedagang, uangnya menjadi habis digunakan untuk membeli pakaian baru, makanan istimewa, mudik, dan seterusnya. Namun, mereka merasa puas oleh karena berhasil menjalankan ibadah puasa dan mendapatkan banyak pahala.

Umpama saja kaum muslimin, setiap menjelang datangnya bulan puasa, selain berharap pahala, juga berpikir tentang berkah dari usaha menciptakan sesuatu yang diperlukan pada hari raya dan atau berdagang, maka selain akan memperoleh pahala juga akan mendapatkan keuntungan atau laba. Tokh, berdagang dalam Islam juga dianjurkan. Bahkan, nabi sendiri juga pernah menjadi seorang pedagang sukses.

Umat Islam kiranya tidak saja dianjurkan mengejar kebahagiaan di akherat , tetapi juga perlu dibimbing agar berupaya untuk memperoleh rizki sebanyak-banyaknya. Momentum Ramadhan dan hari raya tidak saja digunakan untuk mengumpulkan pahala, tetapi juga sekaligus untuk mendapatkan laba. Jika demikian itu yang dilakukan, maka umat Islam akan meraih keberuntungan, baik di dunia dan sekaligus di akherat. Hal demikian itu sebenarnya juga amat sesuai dan sejalan dengan doa yang sehari-hari dibaca. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up