Tidak jauh dari masjid di sebelah rumah saya terdapat pohon pisang yang tumbuh amat lebat. Pohon pisang itu, dulu saya sendiri yang menanamnya. Sebenarnya tanaman itu tidak pernah saya rawat, tetapi karena letaknya di dekat sungai dan tanahnya amat subur, maka tumbuh sangat lebat. Jika sedang berbuah, banyak sekali jumlahnya hingga tidak habis jika tidak dibagi kepada tetangga.
Banyak sekali pelajaran yang bisa diperoleh dari pohon pisang itu. Pada suatu saat, saya menjadikan pohon pisang dimaksud sebagai bahan ceramah. Menjelasakan tentang sesuatu yang dekat dan nyata, tentu lebih mudah diterima oleh para jama'ah yang mendengarkannya.
Saya menjelaskan kepada jama'ah bahwa, pohon pisang itu oleh karena berada di tanah yang subur dan tidak ada yang mengganggu, sekalipun tanpa diurus, maka tumbuh dan berbuah secara alamiah. Tatkala induk pohon pisang itu sudah berbuah dan kemudian mati, maka disusul oleh anak pisang berikutnya secara terus menerus. Batang pohon pisang, daun dan buahnya itu secara turun temurun tetap sama, atau paling tidak, selalu serupa.
Selanjutnya saya jelaskan bahwa, pohon pisang itu sebenarnya bisa direkayasa. Tentu oleh ahlinya, yaitu orang yang mengerti atau memiliki ilmu tentang tanaman pisang. Rekayasa yang dimaksudkan itu adalah baik tentang batangnya, umur berbuah, ukuran buahnya, dan bahkan cara membuat bibitnya. Tanaman pisang ternyata bisa diatur hingga mengikuti kemauan orang yang menanam. Untuk mengatur itu, tentu ada ilmu yang harus dikuasai.
Orang yang tidak memiliki ilmu tentang pisang, --seperti saya, maka sudah barang tentu, mengikuti saja kemauan tanaman pisang itu. Kapan tanaman itu tumbuh, kapan berbuah, bentuk dan ukuran buahnya, maka cukup ditunggu, agar berjalan secara alamiah. Akan tapi bagi orang yang ahli, sebenarnya semua jenis tanaman bisa diatur, termasuk kapan harus mulai berbunga, berbuah, dan bahkan ukuran masing-masing buahnya.
Bukti bahwa tanaman pisang itu bisa diatur, maka dapat dilihat di pasar atau toko buah. Pisang yang ditanam oleh orang yang bukan ahlinya, maka buahnya bermacam-macam, baik bentuk dan ukurannya. Pisang yang masih sejenis, ternyata ada yang berukuran kecil, setengah besar, dan ada pula yang berukuran besar sekali. Aneka macam bentuk buah pisang itu biasanya juga laku dijual, tetapi biasanya hanya terbatas di pasaran lokal atau tradisional.
Namun, ketika buah pisang yang tumbuh secara alamiah itu akan dipasarkan di tempat tertentu, di toko modern misalnya, atau apalagi dieksport, maka belum tentu laku. Sebab buah yang dijual di toko modern atau dieksport harus mengikuti kriteria tententu, baik terkait dengan ukurannya, rasanya, ketahanamnya, dan lainnya. Masyarakat modern biasanya tidak mau membeli buah sembarangan. Mereka memilih buah dengan ukuran tertentu yang dikehendaki.
Permintaan masyarakat modern seperti itu menjadikan buah pisang dari tanaman yang bersifat alamiah, lama kelamaan menjadi tidak laku dipasarkan. Andaikan laku, maka harganya tidak seberapa. Pada saat harus bersaing dengan buah pisang hasil rekayasa sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka buah lokal atau hasil tanaman secara alamiah akan selalu kalah.
Selanjutnya, saya menjelaskan bahwa sebenarnya rekayasa itu tidak saja pada tanaman pisang, tetapi juga pada semua jenis tanaman lainnya, misalnya jambu, durian, apel, padi, jagung, dan lain-lain. Kebetulan saja, saya pernah menyaksikan sendiri berbagai tanaman yang direkayasa secara besar-besaran, termasuk tanaman pisang. Melihat rekayasa tanaman itu, saya agak kaget dan sekaligus sedih. Kaget karena, tanaman pisang itu berada di padang pasir yang tandus, yaitu di antara kota Amman dan Laut Mati. Kedua, berada di riyad, Saudi Arabia. Pada umumnya, tanah tandus tidak akan bisa ditanami apapun, termasuk pisang. Tapi di kedua tempat itu ternyata bisa, dan hasilnya melimpah.
Saya telah menyaksikan sendiri, di dua wilayah tersebut pada awalnya merupakan padang pasir, ternyata bisa diolah sedemikian rupa. Di atas pasir itu ditaruh tanah dan juga dibuat saluran air untuk mengairi, agar tanah itu lama kelamaan menjadi subur. Beratus-ratus hektar padang pasir itu, khususnya di Yordan, yaitu antara kota Amman dan Laut Mati, ditanami pisang. Sementara itu, di Riyad, tanah yang telah diolah dimaksud dibuat untuk lahan peternakan ayam dan sapi. Bisa dibayangkan, tanah padang pasir saja bisa direkayasa dan kemudian digunakan untuk lahan pertanian dan peternakan, apalagi di Indonesia, ---kalau mau, akan lebih mudah. Selain itu, sebagaimana saya sebut di muka, saya terkejut, karena konsultan proyek besar itu adalah orang Indonesia.
Hal yang perlu diketahui bahwa, bukan saja tanahnya yang direkayasa, tetapi juga tanamannya. Pisang yang ditanam adalah hasil rekayasa, sehingga semua menjadi seragam, baik ukuran batangnya, jenisnya, umurnya, daunnya, dan bahkan juga buahnya. Hasil tanaman pisang itu oleh karena banyak dan kualitasnya unggul atau memenuhi standar, maka laku dijual ke berbagai kota, bahkan dieksport. Akhirnya, kita melihat banyak buah pisang di toko-toko modern, carreffour misalnya, dengan ukuran, rasa, dan bentuk yang sama atau standar.
Mengingat rekayasa tanaman pisang secara besar-besaran di Jordan, dan juga peternakan sapi dan ayam di Riyad tersebut, saya menjadi teringat ayat al Qur'an yang pertama kali diturunkan, yaitu perintah membaca. Umpama umat Islam berhasil menangkap perintah itu, yaitu membaca dan mempelajari ciptaan Allah dan bahkan kemudian melakukan rekayasa, termasuk dalam hal mengembangkan berbagai jenis tanaman dan peternakan, maka umat akan mengalami kemajuan. Namun sayang sekali, kebanyakan umat Islam masih lebih sibuk mengurus soal perbedaan pendapat terkait kegiatan ritual, sehingga akhirnya dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi tertinggal dan kalah bersaing dari umat lainnya. Wallahu a'lam



