Menggapai Kesempurnaan Beragama
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 8 Juli 2015 . in Dosen . 2947 views

Sudah dipastikan bahwa semua orang beragama menghendaki agar keberagamaannya berhasil dijalankan hingga sempurna. Namun kiranya, semua orang juga menyadari dan merasakan sendiriri bahwa, meraih kesempurnaan dalam keberagamaan sehari-hari itu adalah bukan perkara mudah. Sebab kesempurnaan dalam menjalankan agama hampir-hampir atau bahkan mungkin tidak ada orang yang berhasil meraihnya, kecuali oleh pembawa ajaran agama itu sendiri, ---karena dikaruniai sifat maksum, yaitu Rasulullah.

Jika dirasakan secara saksama, beragama terasa mirip dengan cinta. Seseorang yang mencintai sesuatu akan berusaha memberikan segalanya kepada yang dicintainya. Semakin banyak bisa memberi dan bahkan mengorbankan dirinya untuk siapa yang dicitai, maka akan semakin mendapatkan kepuasan. Akan tetapi, tidak akan ada orang yang berhasil memberikan cintanya hingga mencapai kesempurnaan. Dalam beragama, sekalipun disebut mirip, tentu lebih dari sekedar cinta itu, yakni akan memberikan secara total apa yang dimiliki, sekalipun pada kenyataannya tetap saja gagal.

Sebagai contoh sederhana, seseorang berusaha menjalankan shalat secara khusu'. Akan tetapi, kekhusu'an itu masih terganggu hingga tidak bisa diraih secara sempurna. Di tengah-tengah menjalankan shalat, pada tahap awal mungkin masih bisa khusu', tetapi kemudian ternyata ada saja gangguan dalam hati dan pikirannya, hingga kekhusu'an itu semakin berkurang karena terganggau oleh sesuatu dalam pikiran maupun perasaannya. Demikian pula, semula seseorang bisa bersabar dan ikhlas, namun ternyata kemudian ada saja yang mengganggu pikiran hingga kadar kesabaran dan keikhlasan itu terkurangi dengan sendirinya.

Kembali menyangkut kekhusu'an dan atau perbuatan hati lainnya, ternyata memang tidak mudah dilakukan. Sebagai contoh yang mudah dibuktikan dengan jelas, yaitu ketika seseorang sedang berthawwaf atau menjalankan sa'ai dalam rangkaian haji atau umrah. Semula ketika berangkat dari tanah air, seseorang berniat akan menjalankan ibadahnya secara khusu'. Akan tetapi ternyata ketika nyampai di tempat tujuan, di Masjidil Haram, tidak sedikit orang yang lebih menyukai belanja di mall dibanding thawwaf atau membaca al Qur'an di masjid. Bahkan ketika sedang thawwab, ternyata ada saja orang yang tidak menampakkan kekhusu'annya. Misalnya, sambil berthawwaf, orang memegang HP, dan lewat alat modern itu berbincang-bincang dengan entah siapa di tempat lain. Akhirnya, bagaimana diperoleh kekhusu'an ketika kegiatan ritual dimaksud dilakukan sambil tilpun ke mana-mana.

Akan tetapi tidak berarti bahwa orang yang sedang menjalankan kegiatan agama tidak berkeinginan khusu'. Keinginan itu selalu ada, tetapi suasana khusus' itu ternyata tidak mudah diperoleh. Perasaan kurang sempurna dalam setiap menjalani ibadah itu selalu terjadi. Sebaliknya, tidak ada orang yang secara terang-terangan merasakan bahwa dirinya telah puas atau meraih kesempurnaan di dalam menjalankan kegiatan ritualnya. Maka artinya, lewat contoh tersebut, bahwa dalam menjalankan kehidupan beragama ternyata tidak mudah. Sekedar agar meraih kekhusus'an saja, dan apalagi jenis kegiatan lainnya yang lebih luas dan komplek, maka tidaklah mudah dan sederhana untuk dilaksanakan.

Memang benar, jika ukuran kesempurnaan dalam menjalankan agama itu sebatas dari perspektif fiqh, yaitu menyangkut syarat, rukun, dan atau pelaksanaannya, maka tidak sulit dipenuhi. Dalam menjalankan shalat misalnya, seseorang bisa menyempurnakan syarat dan rukunnya. Mereka berhasil memilih tempat dan pakaian yang bersih dan suci, menghadap kiblat, melakukan gerakan dan membaca bacaan yang diwajibkan dalam ibadah itu. Akan tetapi, shalat tidak cukup sekedar memenuhi aspek yang bersifat lahir atau gerak fisik itu. Selain itu, masih ada aspek lainnya yang harus dipenuhi, misalnya ikhlas, sabar, khusu', dan lainnya. Suasana hati atau batin yang dimaksudkan itu belum tentu berhasil ditumbuhkan dengan mudah dan tepat.

Betapa shalat secara khusu' itu saja sulit dilakukan, hingga terdapat petunjuk agar hal itu dilakukan lewat shalat di tengah malam. Suasana malam yang tenang, jauh dari keributan atau hiruk pikuk kegiatan orang, maka kekhusu'an yang dimaksudkan itu bisa diraih. Oleh karena itu, tegasnya bahwa dalam menjalankan agama, siapa pun ingin sempurna, tetapi kesempurnaan itu ternyata tidak mudah diraih. Semua orang beragama menginginkan agar berhasil mendapatkan kualitas maksimal, atau seolah-olah pada saat beribadah atau menjalankan ritual berhasil bertemu dengan Tuhan, namun ternyata keinginan itu tidak mudah diraih.

Merenungkan secara mendalam hal tersebut, maka seharusnya bisa melahirkan kesadaran, bahwa sebenarnya dalam beragama, memperjuangkan dirinya sendiri saja belum tentu berhasil meraih yang terbaik. Maka menjadi aneh, dalam beragama, seseorang sedemikian mudah menyalahkan orang lain. Mereka mengangap bahwa orang lain keliru, salah, atau kurang sempurna. Padahal dirinya sendiri belum tentu berhasil melakukan sebagaimana yang diinginkan. Maka, pertanyaan yang seharusnya muncul dari masing-masing orang sebagai tanda kesadarannya adalah bahwa, ketika mengurus dirinya sendiri saja belum tentu berhasil, maka atas dasar alasan apa, seseorang harus mengoreksi, dan bahkan harus menyalahkan orang lain dalam kegiatan ritual.

Renungan semacam itu kiranya perlu selalu dilakukan, agar tatkala melihat orang lain tidak segera menghakimi dan atau menyalahkan. Bahwa dalam kegiatan ritual ada dua aspek yang terlibat, yaitu aspek lahir dan aspek batin. Pada aspek lahir mungkin saja orang lain berhasil mengoreksi, tetapi aspek batin yang justru lebih penting, tentu tidak akan ada seorang pun yang bisa mengetahui secara tepat, dan apalagi menyalahkan atau membenarkan. Penilaian terhadap kegiatan ritual, seharusnya diserahkan saja kepada Allah, dan tidak perlu antar sesama ikut menentukan. Cukuplah berdo'a, semoga semua ibadah yang telah dilakukan diterima oleh Allah swt., dan dalam kegiatan ritual, ---antar sesama, tidak perlu ribut dan apalagi harus bertengkar segala. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up