Sewaktu masih kecil dan tinggal di pedesaan, salah satu kesenangan saya adalah memancing. Kebetulan, sekalipun di daerah pegunungan, tidak jauh dari rumah saya, terdapat sungai. Pada waktu itu, ---sekitar 50 an tahun yang lalu, air di sungai masih mengalir deras dan banyak ikannya. Berbeda dengan sekarang, keadaannya sudah berubah. Jangankan ikannya, beberapa minggu saja tidak hujan, di sungai itu airnya sudah tidak ada.
Bersama teman-teman, sepulang dari sekolah, setelah tidak ada tugas dari orang tua, mencari kayu bakar misalnya, saya memancing ikan ke sungai. Kegiatan itu, bagi anak desa, mungkin sebagai hiburan rutin. Ketika itu belum mengenal istilah wisata, seperti sekarang ini. Memancing, selain hasilnya diperlukan untuk lauk, bagi anak pedesaan, kegiatan itu juga menjadi semacam wisata.
Untuk mendapatkan mata pancing, biasanya saya membeli di toko kecil, dekat pasar yang juga tidak jauh dari rumah. Ada beberapa jenis pancing dan harganya juga berbeda-beda. Pancing yang paling bagus adalah dikenal buatan Jerman. Selain itu, ada juga pancing yang harganya murah buatan Indonesia. Anak-anak biasanya, sekalipun harganya agak mahal, memilih pancing buatan Jerman. Terasa agak bergengsi, memiliki pancing buatan luar negeri.
Setiap kali membeli pancing buatan Jerman, sekalipun mendatangkan kebanggaan, dalam pikiran saya pada waktu itu, selalu muncul pertanyaan, mengapa sekedar pancing saja mendatangkan dari Jerman. Apakah bangsaku ini belum bisa membuat pancing yang berkualitas. Pada pikiran saya terbayang bahwa, Jerman itu letaknya jauh, dan memang nyatanya begitu. Tetapi mengapa, sekedar pancing saja harus mendatangkan dari negara yang jauh itu.
Sekalipun pancing buatan Jerman itu pasti mendatangkan kebanggaan, tetapi juga selalu memunculkan pertanyaan, yaitu kapan Indonesia ini mampu membuat pancing berkualitas dan dibanggakan oleh banyak orang. Pertanyaan yang mucul sejak 50 tahun yang lalu itu, ternyata sampai saat ini belum terjawab. Bahkan, hingga sekarang ini bukan saja pancing, tetapi berbagai jenis kebutuhan hidup sehari-hari, hampir semuanya, masih buatan luar negeri.
Mungkin banyak orang tidak sadar, bahwa kebutuhan sehari-hari bangsa ini, adalah dipenuhi oleh produk asing. Alat rumah tangga, mulai dari pisau, gunting, sendok, garpu, toples, hingga mesin jahit, mesin cuci, sepeda motor, mobil, dan bahkan daging, beras, kedelai, buah-buahan, dan lain-lain, semuanya adalah hasil dari luar negeri. Bangsa ini sekalipun sudah merdeka hingga 70 tahun, ternyata belum mampu membuat sesuatu yang diperlukan sendiri, apalagi yang berkualitas unggul dan bisa dijual ke luar negeri.
Dari penglihatan yang sederhana itu saja dapat diketahui bahwa, ternyata bangsa ini memang ketinggalan. Bangsa ini belum mampu menciptakan sesuatu yang sehari-hari dibutuhkannya sendiri. Mungkin, pancing saja hingga sekarang masih import. Jika demikian, keadaan bangsa ini sebenarnya masih belum banyak berbeda dari 50 an tahun yang lalu. Maka tidak heran, jika banyak warga negara harus pergi ke luar negeri mencari pekerjaan. Di dalam negeri, peluang atau lapangan pekerjaan sangat terbatas. Apa saja masih harus import, sehingga pekerjaan menjadi tidak ada.
Merenungkan hal tersebut maka dapat diketahui dengan jelas bahwa, persoalan mendasar bangsa ini sebenarnya adalah menyangkut kualitas pendidikan yang dihasilkan. Selama ini hasil pendidikan belum mampu menciptakan karya-karya berkualitas yang dibutuhkan sendiri, dan apalagi harus dijual ke luar negeri. Namun anehnya, di tengah problem kualitas pendidikan seperti ini, para pengambil kebijakan pendidikan, rupanya tidak segera menyadarinya. Hal itu terlihat dari kebijakan yang dikembangkan, yaitu baru sebatas hal-hal yang bersifat asesoris, misalnya mewajibkan upacara bendera, keharusan berdoa, dan sejenisnya. Hal itu memang penting, tetapi sebenarnya tidak perlu hingga diurus oleh seorang menteri.
Menyadari ketertinggalan itu, maka yang diperlukan sekarang ini adalah keharusan melakukan jihad melawan kebodohan. Bangsa ini sudah tertinggal, maka jangan dibiarkan semakin tertinggal lagi. Sebab utama ketertinggalan itu adalah pada faktor pendidikan. Oleh karena itu, bentuk jihad yang seharusnya segera dilakukan adalah adanya keberanian melakukan kebijakan mendasar tentang pendidikan. Sains dan teknologi harus dikembangkan secara cepat dan menyeluruh.
Lembaga pendidikan berbentuk apapun, termasuk madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan tinggi berbasis agama, diharuskan memberikan pelajaran sains dan teknologi. Itulah jihad melawan kebodohan. Harus diyakini bahwa, jika hal itu tidak segera dilakukan, maka mata pancing saja harus membeli dari luar negeri, pengangguran akan semakin menumpuk, dan ketertinggalan bangsa ini akan semakin jauh. Wallahu a;lam.



