Revolusi Pendidikan Islam
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 30 Juli 2015 . in Dosen . 1969 views

Pada hari Ahad, tanggal 26 Juli 2005, saya diundang oleh Kyai Idris Hamid, Pasuruan, untuk memberi ceramah di hadapan para wali murid yang sekaligus juga wali santri di pesantren yang sedang dibangunnya. Sudah seringkali, saya diundang oleh Kyai Idris, akan tetapi baru kali itu, saya mengetahui bahwa kyai yang sehari-hari mengasuh pesantren salaf, ternyata beliau juga membangun lembaga pendidikan modern. Itulah sebabnya, saya menyebut apa yang dilakukan oleh Kyai Idris Hamid itu sebagai revolusi pendidikan Islam.

Sebutan sebagai revolusi pendidikan Islam kiranya bukan berlebih-lebihan. Sebab, perubahan yang diakukannya itu amat mendasar dan begitu cepat. Kyai yang pada awalnya dikenal sebagai pengasuh pesantren salaf, ternyata dalam waktu tidak terlalu lama berhasil membangun lembaga pendidikan modern, yakni lembaga pendidikan umum, dan anehnya lagi tidak dinamai madrasah, melainkan sekolah. lembaga pendidikan yang diberi nama Bayt al Hikmah, membuka SMP dan SMA dipadukan dengan tradisi pesantren. Para siswanya sekaligus sebagai santri, demikian pula para gurunya sekaligus menjadi ustadz atau kyai.

Di atas tanah seluas 9 hektar, dibangun berbagai sarana pendidikan yang cukup megah. Penggunaan nama Bayt al Hikmah, menurut penjelasan Kyai Idris Hamid, bermaksud menumbuhkan inspirasi dan tekad memgkitkan kembali kejayaan Islam yang dalam sejarahnya pernah terjadi di Baghdad. Bayt al Hikmah terkenal sebagai nama perpustakaan yang mengoleksi ribuan buku di kota tempat dimakamkannya ulama sekaligus wali besar, bernama Syekh Abdul Qodir Jelany. Semua bangunannya tampak baru, termasuk masjid, ruang tempat tinggal para siswa atau santri, perkantoran, ruang beajar, dan lain-lain. Lembaga pendidikan itu dibangun sejak lima tahun yang lalu. Namun para siswanya sudah berasal dari berbagai provinsi.

Pada acara pertemuan para wali santri yang sekaligus juga sebagai wali siswa tersebut, tampak sekali bahwa peminat lembaga pendidikan yang menggambungkan antara tradisi pesantren dan sekolah itu berasal dari masyarakat kelas menengah ke atas. Hampir semua wali santri berkendaraan mobil roda empat dan hanya beberapa saja yang tampak menggunakan sepeda motor. Di antara mereka yang menggunakan angkutan umum, adalah wali murid yang berasal dari luar kota.

Saya menyebut bahwa apa yang dilakukan oleh Kyai Idris Hamid, Pasuruan adalah sebagai revolusi pendidikan, oleh karena perubahan itu, seperti yang saya sebut di muka, sangat cepat dan mendasar. Bisa dibayangkan, seorang kyai yang sehari-hari mengasuh pesantren salaf, tetapi dalam waktu yang amat singkat berhasil membuat lembaga pendidikan modern dengan konsep dan langkah-langkah implementasi yang amat jelas. Kyai yang sehari-hari mengajar kepada para santrinya kitab kuning, ternyata kemudian membuat lembaga pendidikan yang mengajarkan biologi, fisika, kimia, ilmu ekonomi, bahasa Inggris, dan lain-lain sebagaimana diajarkan pada sekolah pada umumnya.

Sedangkan yang membedakan antara konsep yang dikembangkan oleh Kyai Idris Hamid dari sekolah umum lainnya adalah di antaranya terletak pada adanya tradisi pesantren, namun dikelola secara modern. Para siswa SMP dan SMA di lembaga pendidikan itu, harus sekaligus menjadi santri. Sebagai siswa SMP dan SMA, mereka diajar sesuai dengan kurikulum yang diberlakukan oleh pemerintah. Selain itu, para siswa dididik ala pesantren, yakni diajari al Qur'an, kitab kuning, bahasa Arab, maupun juga dibimbing untuk melakukan berbagai kegiatan sebagaimana yang dilakukan oleh para santri di pesantren pada umumnya.

Alasan lainnya, saya menyebut apa yang dilakukan oleh Kyai Idris Hamid sebagai revolusi pendidikan Islam, oleh karena selama ini yang saya rasakan, perubahan di kalangan lembaga pendidikan Islam tidak mudah dilakukan. Pada tingkat perguruan tinggi saja misalnya, perubahan dari IAIN atau STAIN menjadi bentuk universitas, memerlukan waktu yang lama. Selain itu juga pada awalnya, perubahan itu banyak penentangnya. Mereka khawatir, perubahan itu akan berakibat mendangkalkan ilmu agama yang sudah lama dipelihara. Anehnya, para penentang itu sebagian adalah orang yang berpendidikan modern, bergelar Doktor, dan bahkan juga profesor. Sementara itu Kyai Idris Hamid, Pasuruan, sehari-hari adalah pengajar kitab kuning di pesantrennya.

Melalui lembaga pendidikan yang dikembangkan itu. Kyai yang sangat berpengaruh di Pasuruan itu menginginkan agar para lulusannya mampu memahami al Qur'an, hadits nabi, kitab-kitab standar para ulama, tetapi juga menguasai ilmu modern. Mereka itu diharapkan akan menjadi ulama tetapi sekaligus juga cendekiawan. Dalam perbincangan tentang konsep pendidikan yang dikembangkan, penggagas lembaga pendidikan modern ini melihat bahwa, pada saat sekarang di tengah masyarakat muncul kelas menengah baru yang berkeinginan menyekolahkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan umum tetapi tidak meninggalkan tradisi pesantren.

Sebagai seorang yang lama menekuni pendidikan Islam, saya sangat bergembira melihat format lembaga pendidikan yang dikembangkan oleh Kyai Idris Hamid di Pasuruan ini. Saya yakin, manakala konsep itu benar-benar bisa diimplementasikan dan berhasil melahirkan lulusan yang menjadi harapan masyarakat selama ini, maka berbagai pesantren lainnya akan melakukan perubahan yang sama. Pesantren akan berubah dan akan menjadi bentuk pendidikan ideal untuk menjawab tuntutan masyarakat yang menginginkan pendidikan bermutu, berkeseimbangan, dan mampu menjawab tantangan kehidupan di masa depan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up