Umpama Pemerintah Di Idul Fitri Meniru Sifat Tuhan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 16 Juli 2015 . in Dosen . 1284 views

Sifat Tuhan yang sehari-hari disebut di bulan Ramadhan adalah al-Ghafur dan ar Rakhiem, atau Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Semua orang membutuhkan sifat mulia itu dan ternyata oleh Allah diberikan pada bulan mulia ini. Disebutkan bahwa, siapa saja yang berpuasa di Bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan maka akan diampuni dosanya yang lewat.

Lebih mengagumkan lagi, juga terdapat hadits nabi, bahwa seseorang yang selalu membaca tasbih, tahmid, dan takbir maka akan diampuni dosanya sekalipun sebanyak buih di laut. Selain itu masih banyak lagi, al Qur'an maupun hadits nabi, menyebutkan sifat mulia Allah. Bahkan surga yang sedemkikian mahal, dan menjadi harapan semua orang, akan diberikan kepada siapa saja yang mau mengasihi dan menolong sesama. Bahkan, dikisahkan seorang yang menolong anjing yang sedang kehausan saja dimasukkan ke surga-Nya.

Sedemikian murah ampunan dan kasih sayang Allah itu diberikan kepada hamba-Nya, sehingga dalam sebuah hadits Nabi dikatakan bahwa, siapa saja yang mencintai penduduk bumi akan dicintaioleh Dzat yang ada di langit. Penyebutan Dzat yang ada dilangit yang dimaksudkan itu adalah Allah SWT.. Sedemikian besar ampunan Allah itu, hingga seringkali diumpamakan dosa sebanyak buih di laut pun akan diampuni manakala seseorang, yakni pemilik dosa itu mau bertaobat.

Di hari raya Idul Fitri ini, Tuhan juga melimpahkan ampunan dan kasih sayang-Nya, dan bahkan juga menjauhkan dari api neraka kepada siapa saja yang dikehendaki. Demikian Itulah cara Tuhan dalam memperlakukan umat manusia dan makhluk-Nya, ternyata tidak terbatas. Sifat mulia itu banyak sekali disebut-sebut, baik di dalam al Qur'an maupun di dalam hadits nabi. Penyebutan sifat Agung dan Mulia itu, tentu adalah agar diketahui oleh umat manusia dan tentu semampunya agar ditiru.

Kehidupan ini akan membahagiakan dan menyenangkan manakala diliputi oleh suasana saling mengasihi, saling memaafkan, menghargai orang, bertolong menolong, dan juga saling menyelamatkan. Sebaliknya, kehidupan akan membebani, menyakitkan, menyesakkan dada, membahayakan, dan bahkan akan berakhir mencelakakan manakala diliputi oleh suasana dendam kesumat, iri hati, permusuhan, merendahkan, saling menjatuhkan, dan saling menghukum di antara sesama.

Tuhan melalui al Qur'an juga mengingatkan bahwa manakala penduduk sebuah negeri beriman dan bertaqwa, maka akan dibukakan pintu berkah, baik dari langit maupun dari bumi. Berkah ternyata akan datang tatkala syaratnya dipenuhi, yaitu penduduknya beriman dan sekaligus bertaqwa. Sebagai pertanda keimanan adalah adanya saling mencintai, berbagi kasih sayang, memaafkan antar sesama, saling menghormati, dan seterusnya. Demikian pula ciri orang bertaqwa adalah selalu membangun komunikasi secara tepat, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia.

Momentum hari raya seperti sekarang ini, tampak sekali, bahwa kesadaran tentang betapa pentingnya saling bertemu, saling berbagi kasih sayang, saling memaafkan, melupakan kesalahan yang lewat, dan berusaha berubah menjadi fitri atau suci kembali dari kesalahan dan dosa, ternyata dirasakan oleh kaum muslimin, penduduk mayoritas negeri ini. Tanpa memperhitungkan resiko berupa lelah, biaya besar, harus menderita di perjalanan, dan bahkan tidak takut atas kemungkinan kecelakaan, mereka mudik mendatangi orang tuanya, keluarga atau saudaranya yang berjauhan. Melalui fenomena itu, menunjukkan bahwa pada saat idul fitri seperti ini yang dierlukan oleh semua orang tanpa terkecuali adalah ampunan dan kasih sayang.

Pada akhir-akhir ini, di negeri yang berdasarkan Pancasila, atau disebut sebagai bangsa yang religious, bahkan berbagai keputusan pemerintah, terutama yang terkait dengan keadilan, selalu mengatas-namakan Tuhan, maka sifat agung dan mulia, yaitu Yang Maha Pengampun dan Maha Pengasih seharusnya di hari yang fitri seperti ini ditiru dan bahkan dimplementasikan. Atas keberhasilannya menemukan dan menangkap orang yang keliru, lalai dan salah, kemudian pemerintah menghukum mereka hingga penjara menjadi penuh. Tentu mereka itu, pada saat idul fitri seperti ini tidak akan memperoleh kegembiraan yang sempurna. Sekalipun demikian, mereka menginginkan, agar masa hidupnya yang pasti tidak terlalu lama, mendapatkan kasih sayang dari sesama dan juga ampunan.

Umpama saja di hari yang fitri atau hari raya seperti ini, pihak-pihak yang berkewenangan, Presiden dan Wakil Presiden, memberikan kasih sayangnya, dan ampunannya kepada siapapun yang pada saat ini sedang dipenjara, maka di negeri ini akan muncul aura dan bahkan cahaya, hingga menjadi kekuatan dahsyat untuk membangun jiwa kemanusiaan di antar sesama dan tentu akan menjadi modal dan kekuatan yang tanguh untuk membangun negeri ini. Sudah barang tentu, mereka yang dibebaskan harus ada syarat, ialah bertaubat, baik bertaubat kepada Tuhan dan bertaubat dalam pengertian menyatakan tidak akan mebulanggi kesalahannya lagi kepada bangsa dan negaranya sendiri.

Pengampunan massal oleh pemerintah seperti ini adalah tidak lazim, tetapi sebenarnya memiliki landasan religious dan kemanusiaan yang jelas. Umpama keputusan seperti digambarkan itu benar-benar terjadi, maka dapat dibayangkan betapa banyak orang bergembira, bahagia, dan bersyukur. Mereka yang dibebaskan itu akan mengucapkan kaiimat mulia, yaitu hamdallah, bertasbih dan mengagungkan asma Allah. Demikian pula para sanak keluarganya, simpatisannya, dan semua yang menaruh perhatian akan bersyukur dan menyatakan kegembiraannya. Pada saat itu juga, maka berbagai macam penyakit hati dan sosial seperti dendam, permusuhan, dengki, marah, dan lain-lain akan hilang. Idul Fitri akan benar-benar menjadi fitri secara merata ke semua tempat tanpa terkecuali, hingga sampai di sudut-sudut penjara. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up