Antara Lulus Sekolah Dan Lapangan Kerja
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 30 Agustus 2015 . in Dosen . 1515 views

Dalam sebuah diskusi tentang revolusi mental yang dihadiri oleh beberapa tokoh muncul koreksi tajam terkait pendidikan. Disebutkan bahwa hasil pendidikan sekarang ini belum mampu mengantarkan para kulusannya memperoleh dan apalagi menciptakan pekerjaan. Pengangguran yang pada setiap tahun meningkat jumlahnya itu sebenarnya bukan terdiri atas orang-orang yang tidak bersekolah, melainkan adalah telah lulus sekolah dan bahkan juga para sarjana.

Atas dasar kenyataan itu, lembaga pendidikan yang keberadaannya dianggap penting dan diharapkan mampu mengantarkan para lulusannya bisa mandiri, ternyata tidak sepenuhnya berhasil. Buktinya banyak lulusan sekolah ternyata menganggur. Jika hal itu tidak diatasi maka akan menjadi problem yang lebih besar lagi. Problem pengangguran itu akan beranak pinak, atau memunculkan berbagai jenis problim baru lainnya yang semakin serius.

Selama ini beberapa pihak menyebut tentang betapa pentingnya pendidikan karakter. Dainggap bahwa, lembaga pendidikan belum berhasil membangun karakter para lulusannya sebagaimana yang diinginkan. Selama ini, lembaga pendidikan telah dianggap berhasil mencerdaskan para siswanya. Namun juga aneh, sekalipun mereka disebut cerdas ternyata masih belum bisa mencari dan apalagi menciptakan pekerjaan.

Mendasarkan pada kritik tersebut kiranya perlu dilakukan kajian mendalam tentang penyelenggaraan pendidikan secara menyeluruh. Bisa jadi kritik itu muncul oleh karena memang adanya kekeliruian tentang penyelenggaraan pendidikan selama ini. Sebagai contoh sederhana misalnya, sebagaimana kurikulum yang ada, para siswa selama di sekolah diberi mata pelajaran biologi, kimia, fisika, sosiologi, matematika, dan seterusnya. Akan tetapi, mereka belum diajari tentang bagaimana bekerja dan tentang seharusnya menjalani hidup secara ideal.

Berbagai jenis pelajaran di sekolah tersebut hanya diorientasikan agar di akhir program para siswa berhasil lulus ujian, yaitu bisa menjawab soal yang berbentuk pilihan ganda dan atau mengisi titik-titik. Lulus ujian dipandang menjadi sedemikian penting, sehingga segala energi para siswa dan bahkan juga energi orang tuanya diarahkan pada ujian dimaksud. Bahkan, agar lulus ujian, para siswa harus mengikuti pelajaran tambahan, kursus, mengikuti latihan menjawab soal ujian, dan lain-lain.

Sedemikian penting lulus ujian itu, hingga mereka juga menempuh pendekatan spiritual, misalnya datang ke orang tua yang dianggap mampu memberi doa, atau berdoa bersama-sama. Segala cara dilakukan agar lulus ujian. Bahkan aneh, orientasi sekedar lulus itu ditangkap oleh orang yang ingin mendapatkan keuntungan ekonomi. Mereka berjualan soal-soal ujian, dan juga jasa melatih menjawabnya. Seolah-olah orang bersekolah bukan agar pintar, berkarakter, dan juga mandiri, melainkan sekedar agar lulus ujian.

Agar lembaga pendidikan benar-benar fungsional, yakni menjadikan peserta didik semakin bertaqwa, dewasa, cerdas, mandiri, dan lain-lain sebagaimana telah dirumuskan dalam tujuan pendidikan nasional, maka harus ada langkah-langkah strategis dan tepat yang diambil oleh pemrintah. Harus ada penyadaran bahwa lembaga pendidikan tidak cukup hanya mengantarkan para siswanya lulus ujian dan memenuhi ketentuan formalnya. Sekolah harus benar-benar mampu memberikan bekal hidup yang akan dihadapi oleh para siswa di masa depan.

Ukuran kehebatan lembaga pendidikan bukan hanya terletak pada besarnya prosentase yang lulus ujian, melainkan seharusnya digeser menjadi seberapa banyak di antara mereka yang mampu mandiri, dan bahkan berhasil memberi manfaat bagi orang lain. Ukurannya adalah kemanfaatannya itu. Apa artinya mereka lulus di sekolah, tetapi tidak lulus dalam kehidupan di tengah masyarakat. Lembaga pendidikan tidak boleh kalah dari lembaga kursus montir.

Penyelenggara kursus montor dan sejenisnya mampu mengantarkan para siswanya menguasai seluk belum kendaraan bermotor. Setelah dinyatakan lulus dan mendapatkan SIM, mereka benar-benar bisa mengemudikan mobilnya. Maka terasa aneh jika misalnya, seseorang lulus sekolah menengah atas, tetapi hanya bisa menjadi pertugas keamanan atau tukang sapu. Sekedar jenis pekerjaan itu tidak perlu berbekal ilmu biologi, fisika, kimia, sosiologi, atau hingga setinggi itu. Maka, baik konsep maupun implementasi pendidikan perlu dilihat dan dikoreksi kembali, agar nyambung antara sekolah dan lapangan pekerjaan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up