Bahaya Kemarau Kepemimpinan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 24 Agustus 2015 . in Dosen . 928 views

Tatkala sedang berdiskusi dengan beberapa teman terkait musim kemarau, muncul pendapat yang cukup menarik, yaitu mengingatkan adanya jenis kemarau yang lebih menakutkan. Disebut menakutkan karena dapaknya lebih besar dan membahayakan. Istilah kemarau, menurut pendapat itu, jangan dibatasi hanya terkait kelangkaan hujan, tetapi juga ada kemarau dalam bentuk lain, ialah angkanya pemimpin hebat yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Dalam diskusi itu disebutkan bahwa sekarang ini, kemarau pemimpin hebat sudah semakin terasakan. Mendapatkan calon pemimpin yang benar-benar menyandang kelebihan yang dibutuhkan oleh masyarakat sudah semakin sulit. Memang masih banyak orang yang berkehendak menjadi pemimpin, akan tetapi di antara mereka itu yang pantas atau memenuhi kehendak masyarakat, jumlahnya amat terbatas, sehingga tidak mudah didapatkan.

Persyaratan sebagai seorang pemimpin tidak cukup bersifat formal, atau administratif seperti ijazah atau sertifikat, tetapi yang justru lebih penting adalah hal-hal yang bersifat pribadi yang bersangkutan. Misalnya, integritas, kecakapan, kemampuan untuk memahami dan memenuhi aspirasi masyarakat yang dipimpin, sanggup menjadi pelindung, dan lain-lain. Selain itu, juga tidak cukup hanya sekedar menyandang semangat, tetapi seharusnya memenuhi kekuatan lain yang dibutuhkan.

Kelangkaan pemimpin sekarang ini sudah dengan mudah bisa dirasakan di tengah masyarakat. Pemimpin yang dimaksudkan itu bukan sekedar orang yang dipilih dan atau ditunjuk melakukan peran sebagai pejabat, melainkan orang yang bisa dituakan, dibanggakan, mampu melindungi orang yang seharusnya dilindungi, memberikan petunjuk, mampu mempersatukan di antara mereka yang berbeda, memiliki kemampuan untuk menumbuhkan semangat dan cita-cita, dan seterusnya.

Pemimpin sebagaimana dimaksudkan itu, pada saat sekarang ini, ternyata sudah tidak mudah ditemukan. Dari banyak pemimpin yang ada ternyata tidak mudah diketahui sekedar tentang kemauannya, arah yang ingin diwujudkan, cara-cara untuk menyelesaikan masalah, dan sejenisnya. Pemimpin seperti itu ternyata berada di mana-mana, yaitu di berbagai kelompok kehidupan, baik di bidang politik, sosial, keagamaan, dan bahkan juga di kalangan lembaga pendidikan pada umumnya.

Di lembaga pendidikan, ---tidak terkecuali di perguruan tingggi, sekedar mencari pemimpin yang mampu menggerakkan lembaganya tidak mudah dicari. Banyak pemimpin yang hanya berperan sebagai penunggu. Mereka menunggu jika ada masalah. Orientasi para pemimpin itu adalah sekedar melahirkan ketenangan, dan bukan perubahan. Sementara itu, kehidupan selalu berubah, bahkan perubahan itu semakin cepat. Maka, jika pemimpinnya hanya sekedar menunggu, maka jelas beresiko besar, yaitu masyakat yang dipimpinnya akan ketinggalan.

Dalam berbagai literatur kepemimpinan, posisi pemimpin adalah sangat strategis dan bahkan menentukan. Disebutkan bahwa masyarakat tergantung pada pemimpinnya. Manakala masyarakat itu mendapatkan pemimpin yang unggul, dinamis dan inovatif, maka masyarakatnya juga akan dinamis, inofatif, dan begitu pula sebaliknya. Hal demikian itu adalah tidak terkecuali terjadi di perguruan tinggi. Bahwa kampus menjadi ketinggalan atau stagnan adalah disebabkan oleh para pemimpinnya.

Memperhatikan posisi pemimpin yang sedemikian strategis dan amat menentukan itu maka seharusnya tidak boleh ada kemarau kepemimpinan. Kemarau itu akan berpengaruh pada masyarakat yang dipimpinnya. Banyak orang menganggap bahwa, sumber daya alam dan sumber daya manusia adalah amat penting dan menentukan. Akan tetapi, sebenarnya yang lebih penting dari itu semua adalah keberadaan pemimpinnya. Kemarau pemimpin unggul sebenarnya sangat berbahaya oleh karena akan berpengaruh terhadap segalanya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up