Suatu ketika saya ketamuan seseorang yang mengaku sebagai petani blimbing. Kedatangannya ke rumah sebenarnya bukan bermaksud mengajak saya bertani blimbing, tetapi mengundang saya untuk mengisi pengajian di kampungnya. Kebetulan saja dia ditunjuk sebagai pengurus masjid dan kala itu akan menyelenggarakan peringatan hari besar Islam dan agar saya mengisi ceramah dalam kegiatan itu.
Mengawali pembicaraannya, dia mengaku sebagai petani blimbing. Sebagai orang yang berjiwa petani, dia mengomentari tanaman di sekitar rumah saya. Semua tanaman, menurut penilaiannya, tidak ada yang bermanfaat kecuali untuk keindahan lingkungan. Tamu yang sehari-hari merawat blimbing tersebut memberikan pandangan, umpama tanaman di sekitar rumah saya diganti dengan tanaman berbuah, maka akan lebih bermanfaat. Menghasilkan buah sekaligus menjadi tetap indah.
Sebagaimana tujuannya dari rumah, petani blimbing itu seharusnya segera mengungkapkan maksud utama kedatangannya ke rumah saya itu, ialah meminta kesediaan saya berceramah. Akan tetapi, rupanya dia lebih tertarik berbicara tentang tanaman dibanding rencana pengajiannya itu. Akhirnya pembicaraan itu menjadi tidak jelas, mana yang utama dengan yang sambilan. Seharusnya dia lebih utama berbicara tentang pengajian dibanding sekedar menceritakan tentang tanaman blimbing.
Akan tetapi saya paham dengan suasana batin tamu dimaksud. Rupanya petani buah-buahan itu sudah sangat mencintai tanaman yang sehari-hari dirawatnya. Menghadapi orang tersebut, saya justru merasa senang, memperoleh informasi dan pelajaran penting dari seorang tamu yang benar-benar paham dan menghayati pekerjaannya. Merasa bahwa pembicaraannya saya dengarkan dan saya anggap penting, dia semakin semangat bercerita tentang keberhasilannya selama ini memiliki usaha di bidang pertanian buah, khusunya blimbing itu.
Tamu yang sebenarnya hanya bermaksud mengundang pengajian tersebut menceritakan bahwa pada setiap minggu, dia harus mengirim buah blimbing ke beberapa agen penampungan buah di kota-kota besar seperti Surabaya, bahkan Jakarta, dan lain-lain dalam jumlah yang cukup banyak, disebutkan hingga belasan ton. Para pelanggannya, menurut ceritanya, harus dipenuhi sebagaimana kesanggupannya. Oleh karena itu, selain dipenuhi dari hasil tanamannya sendiri, kebutuhan blimbing dimaksud juga diperoleh dari hasil tanaman para tetangga yang dikoordinasi olehnya.
Petani blimbing dimaksud dengan bangga menceritakan bahwa, sekalipun hanya berusaha di bidang pertanian, dia berhasil mempekerjakan banyak orang. Jenis pekerjaan itu mulai dari pembibitan, pemupukan, perawatan, hingga memetik tatkala panen, dan mengirim ke agen di berbagai kota. Keberhasilan memberi pekerjaan kepada masyarakat di lingkungannya menjadi kebanggaan. Dia mengaku bahwa usaha apa saja, agar berhasil maksimal, tidak terkecuali bertani, harus dikerjakan dan berkonsentrasi sepenuhnya.
Mendengarkan cerita panjang lebar dari petani buah blimbing tersebut, saya menangkap bahwa petani itu sukses oleh karena seluruh waktu dan perhatiannya secara serius ditujukan kepada pekerjaannya itu. Selain itu, tampak sekali bahwa ia sangat mencintai dan bangga atas pekerjaan dan tanamannya itu. Saya juga menangkap dengan jelas bahwa, pengetahuannya tentang tanaman blimbing adalah luar biasa sempurna. Mulai dari pemilihan bibit, perawatan sehari-hari, tentang hama dan cara mencegahnya, manfaat buah blimbing, hingga pemasaran hasilnya sangat dikuasai dengan sempurna olehnya. Itulah kunci keberhasilannya dalam budidaya blimbing.
Sebagai seorang yang menyenangi pendidikan, tatkala memperhatikan petani blimbing sukses tersebut, maka ingatan saya pasti tertuju pada para pengelola lembaga pendidikan. Umpama para kepala sekolah di berbagai levelnya, tidak terkecuali para pimpinan perguruan tinggi, memperlakukan lembaga pendidikan yang dipimpinnya sebagaimana yang dilakukan oleh petani blimbing tersebut, maka hasil pendidikan juga akan menjadi luar biasa. Sehari-hari pimpinan lembaga pendidikan akan selalu berpikir dan bekerja untuk meraih kualitas terbaik demi memuaskan masyarakat. Semua potensi dan konsentrasikan hanya diperuntukkan bagi kualitas hasil pendidikan. Mereka sangat mencintai dan bangga atas pekerjaannya memimpin lembaga pendidikan.
Sebagaimana petani blimbing, para pimpinan lembaga pendidikan sehari-hari dengan penuh kebanggaan menjelaskan kepada siapapun tentang kualitas lulusan lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Sebagai pimpinan, dia tidak pernah mengeluh apa yang dihasilkan. Mereka tahu bahwa sikap tersebut adalah menggambarkan tentang rendahnya mutu kepemimpinan dirinya sendiri. Namun sayang, yang terjadi adalah tidak sedikit cara berpikir pimpinan lembaga pendidikan masih kalah dibanding petani blimbing. Mereka bukan membanggakan hasil lulusannya sendiri, tetapi sebaliknya, sehari-hari mengunggulkan lulusan lembaga pendidikan yang diurus oleh orang lain. Padahal, petani blimbing saja tidak begitu, yakni di hadapan siapapun tidak pernah membanggakan produk milik tetangganya. Mereka tahu, jika hal itu dilakukan adalah pertanda kebodohannya sendiri. Wallahu a'lam



