Mungkin saja seseorang mengira bahwa binatang selalu mengkonsumsi apa saja yang ditemui. Padahal kenyataannya tidak begitu. Berbagai jenis binatang hanya mau memakan jenis makanan tertentu. Kerbau misalnya, hanya memakan rumput, kambing memakan daun-daunan tertentu, ulat memakan sembarang daun, dan begitu seterusnya. Selama ini belum diketahui jenis binatang yang sehebat manusia, mampu mengkonsumsi jenis apa saja.
Bagi binatang, seleksi terhadap jenis makanan itu ternyata juga tidak sembarangan. Bagi kerbau atau sapi, terhadap rumput yang tumbuh di tanah yang terdapat kotorannya sendiri juga tidak mau. Anehnya, kerbau itu tanpa diberitahu mampu membedakan terhadap rumput dimaksud. Binatang itu ternyata tidak bisa dikibuli, dan hal itu berbeda dari manusia. Makhluk yang mengaku berakal, ternyata bisa mengibuli dan juga sekaligus bisa dikibuli.
Memang aneh, manusia bisa saling mengibuli dan juga saling mengakali. Seseorang kadang berperan sebagai pengibul, dan pada saat lain ia sendiri yang dikibuli. Demikian pula, manusia saling mengakali dan atau memperdaya. Pada saatnya seseorang diakali oleh temannya, dan pada saat lainnya berganti memperdaya. Itulah gambaran tentang kehidupan manusia. Kerbau dan sapi, kambing, ayam, dan lain-lain hanya bisa diakali, tetapi sebaliknya binatang itu tidak bisa mengakali.
Akibat akal-akalan dan kibul mengibul, bohong membohongi itu, manusia seringkali menjadi terlibat konflik, perang, saling membunuh, dan seterusnya. Mereka saling menggunakan akalnya secara tidak tepat atau tidak semestinya. Akalnya digunakan untuk mengakali atau mengibuli orang lain secara berlebihan. Akal kadang terlalu liar, sehingga diperlukan ajaran agama. Namun, ajaran agama ternyata juga masih dikalahkan oleh nafsunya. Dan, lebih celaka lagi, akal-akalan, dan atau saling membohongi itu, hanya bermotif untuk mendapatkan makanan, pengaruh, dan atau kuasa.
Kelebihan binatang lainnya dalam hal makanan adalah, mereka itu sangat sensitive, atau sangat cepat mengetahui jenis makanan yang membahayakan dirinya. Kucing dan anjing misalnya, sekalipun sehari-hari menyukai daging atau ikan, maka ketika makanan yang dimaksudkan itu mengandung formalin, atau jenis benda lain yang membahayakan keselamatan dirinya, maka binatang itu tidak akan mau menyentuh. Penciumannya begitu tajam.
Demikian pula lalat, binatang yang sepanjang hidupnya tidak mau berkumpul dengan sesama, tidak saling mencintai, dan juga tidak mau bekerjasama itu adalah selalu mengkonsumsi jenis kotoran apa saja. Akan tetapi, jika kotoran itu mengandung sesuatu yang membahayakan, lagi-lagi formalin misalnya, mereka juga tidak mau menyentuhnya. Berbagai binatang ternyata mengetahui, mana makanan yang boleh dimakan dan sebaliknya mana makanan yang tidak boleh dimakan oleh karena membahayakan hidupnya. Binatang, hingga lalat pun berdisiplin terhadap pilihan makanan itu.
Mengamati binatang terkait seleksi makanan yang dikonsumsi itu, maka sudah barang tentu mengingatkan terhadap perilaku manusia sendiri. Manusia dalam hal makanan ternyata tidak terlalu selektif. Apa saja yang diinginkan, tanpa selektif terkait kepantasan atau juga kegunaan bagi tubuhnya, akan dimakan. Manusia mengkonsumsi berbagai jenis daging, buah-buahan, daun, batang tanaman tertentu, akar, bunganya, dan bahkan segala macamnya.
Dahulu orang tidak mau mengkonsumsi jenis daging binatang tertentu, tetapi sekarang ini yang dihindari itu justru menjadi kesenangannya. Orang pada zaman dahulu tidak mau mengkonsumsi bekicot, tokek, ular, dan sejenisnya. Namun pada akhir-akhir ini malahan ada restoran yang menawarkan daging ular. Terhadap makanan, manusia kalah selektif dibanding binatang. Apa saja oleh manusia dimakan, asal terasa enak, sekalipun sebenarnya mengancam keselamatan jiwanya.
Beberapa waktu yang lalu terdengar berita bahwa, terdapat ikan atau daging diawetkan dengan formalin atau jenis benda lain. Tentu benda itu sangat membahayakan bagi kesehatan. Para pelaku pengawet ikan atau daging itu tahu bahwa apa yang dikerjakan itu sangat membahayakan terhadap keselamatan orang lain. Aneh, sekedar mengejar keuntungannya itu, mereka tidak peduli, hal yang membahayakan itu dilakukan tanpa beban.
Islam juga mengajarkan bahwa dalam mengkunsumsi apa saja harus selektif. Berbagai jenis makanan apa saja boleh dikonsumsi asalkan halal, baik, dan memberi manfaat atau berkah. Pengertian halal juga luas, tidak saja terkait jenisnya, tetapi juga cara mendapatkannya. Beberapa jenis makanan yang diharamkan, misalnya adalah bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih secara sembarangan atau tidak menyebut kalimat basmallah, dan lain-lain.
Selain hal tersebut, makanan menjadi haram dimakan ketika memperolehnya dengan cara yang dilarang, misalnya dari hasil mencuri, merampok, korupsi, membungakan uang, dan lain-lain. Pilihan terhadap jenis makanan yang halal itu dijelaskan, baik di dalam al Qur'an maupun hadits nabi. Namun ternyata lagi-lagi, manusia kalah dibanding dari binatang. Manusia tidak mampu mengendalikan nafsunya. Apa saja dimakan, asalkan menyenangkan hatinya. Itulah sebabnya, manusia kadang disebut seperti binatang, dan bahkan lebih buruk dari hewan yang tidak berakal itu. Wallahu a'lam.



