Harga Daging Sapi Dan Perlunya Reformulasi Pendidikan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 13 Agustus 2015 . in Dosen . 1315 views

Pada akhir-akhir ini ramai lagi dibicarakan tentang kenaikan harga daging sapi. Pembicaraan tentang hal tersebut sebenarnya juga sudah seringkali terjadi. Bahkan, tidak saja harga daging sapi tetapi juga harga kebutuhan bahan konsumsi lainnya, seperti kedelai, beras, cabe, dan lain-lain.

Terasa aneh, negeri agraris yang tanahnya luas, subur, iklimnya bagus, dan demikian pula curah hujannya, tetapi masih mengalami persoalan tentang daging sapi dan bahan konsumsi lain seperti disebitkan di muka. Bukankah bangsa Indonesia seharusnya kebingungan mencari pasar untuk menjual hasil ternak, hasil pertanian, hasil hutan, dan hasil lautnya.

Keadaan yang memprihatinkan tersebut tersebut bukan disebabkan oleh karena kekurangan tenaga kerja, Jumlah tenaga kerja yang bisa digerakkan untuk bertani, beternak dan menjadi nelayan cukup banya, dan bahkan melimpah. Fakultas atau jurusan pertanian, peternakan, dan kelautan sudah dibuka di banyak perguruan tinggi. Lulusannya juga sudah sedemikian banyak. Anehnya pula, sarjana itu banyak menganggur.

Melihat kenyataan tersebut kiranya tidak sulit menemukan sesuatu yang masih perlu segera dibenahi. Pertanyaan sederhana yang perlu segera dijawab misalnya, mengapa pemerintah selama ini tidak melakukan gerakan untuk mengembangkan peternakan dan pertanian secara massal. Desa-desa yang masih memiliki tanah luas kiranya masih bisa dipacu untuk beternak sapi, kambing, dan kerbau.

Sangat mustahil orang desa sekedar beternak tidak mampu. Jika beternak secara modern, sementara bisa dilakukan secara tradisional. Maka lama kelamaan, usaha yang bersifat tradisional itu akan berproses menjadi lebih intensif dan modern. Pernah suatu ketika, saya naik kereta api dari Malang ke Purwokerto. Di sepanjang perjalanan, dari dalam kereta itu, saya melihat tanah yang tidak ditanami apa-apa dan juga tidak digunakan untuk beternak. Sudah barang tentu, lahan yang luas itu tidak akan memberikan keuntungan apa-apa pada pemiliknya.

Sekedar membandingkan dengan apa yang pernah saya lihat di tempat lain, yaitu di Kunfudza, yaitu suatu wilayah di negara Arab. Daerah itu merupakan padang pasir. Tanahnya tandus, di mana-mana hanya terdapat pasir dan tumpukan batu. Akan tetapi, penduduk di tempat itu pada umumnya adalah peternak. Mereka beternak unta dan kambing. Namun, rakyatnya tidak miskin. Beberapa hari yang lalu, kebetulan saya bertemu orang Kunfudza yang saya maksudkan itu. Orang Arab dimaksud berlibur ke Indonesia dengan membawa semua keluarganya.

Sebagaimana dulu pernah saya tulis, saya juga pernah ke suatu wilayah di Riyad, Saudi Arabia. Daerah itu juga merupakan padang pasir, tetapi lahan yang luas itu direkayasa sedemikian rupa untuk selanjutnya digunakan untuk beternak sapi dan juga ayam. Di tempat itu dibuatkanlah berbagai saluran air untuk mengairi pasir, agar tanah yang bercampur pasir tersebut lama kelamaan bisa ditanami rumput. Selanjutnya di tempat yang sudah tumbuh rumput itu digunakan untuk beternak sapi dan juga ayam.

Udara panas dianggap tidak menjadi halangan untuk beternak, karerna di kandang sapi yang luas dan bisa menampung hingga sekitar 40 ribu ekor sapi itu dilengkapi dengan alat pendingin udara, atau AC. Proyek peternakan sapi di padang pasir itu tidak hanya satu tempat, tetapi di banyak tempat. Hasil usaha itu, menurut informasi, cukup digunakan untuk memenuhi kebutuhan negeri itu sendiri. Oleh karena itu, menyaksikan peternakan sapi itu, saya menjadi iri. mengapa Indonesia yang telah lama mengklaim diri sebagai negara agraris, tetapi masih selalu kebingungan kekurangan daging, beras, kedelai, buah-buahan, sayur, dan bahkan garam. Tentu ada sesuatu yang keliru yang seharusnya diperbaiiki.

Menyaksikan keadaan yang tidak logis seperti tersebut itu, sebagai pendidik, saya berpendapat bahwa pendidikan di negeri ini perlu segera direformulasi kembali. Para siswa seharusnya dilatih secara serius untuk bertani, beternak, menjadi nelayan, pedagang, dan semacamnya. Selama ini para pengambil keputusan di bidang pendidikan menganggap tentang betapa pentingnya ilmu fisika, biologi, kimia, sosiologi, sejarah, dan lain-lain. Memang benar, berbagai pengetahuan itu amat penting. Akan tetapi apa artinya semua itu jika setelah mereka lulus ternyata tidak tahu banyak tentang potensi lingkungannya. Para lulusan sekolah itu sekedar beternak, bertani, berdagang saja tidak bisa.

Terhadap orang-orang tertentu saja, yaitu mereka yang dipersiapkan bekerja sebagai ilmuwan perlu diajari ilmu murni secara mendalam. Akan tetapi bagi generasi muda pada umumnya, seharusnya diajari ilmu biologi, fisika, kimia dan lain-lain yang sekiranya dekat dengan kehidupan nyata. Mata pelajaran biologi misalnyai seharusnya dipilihkan yang berdekatan atau relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Ilmu bukan sekedar untuk diketahui, melainkan dipilih yang berguna bagi kehidupan nyata.

Demikian pula, lembaga pendidikan keagamaan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, juga perlu direformulasi kembali. Pelajaran agama direlevansikan dengan tantangan hidup sehari-hari. Islam misalnya, mengajarkan tentang betapa pentingnya rizki harus dicari. Pelajaran fiqh tidak cukup mendiskusikan tentang hukum daging kambing, padahal kambingnya tidak ada. Pelajaran fiqh seharusnya mendorong agar para siswa bersemangat dan mampu beternak, bertani, dan berdagang. Dengan mereformulasi pendidikan, maka diharapkan ke depan, bangsa ini tidak disibuklkan oleh import daging tetapi berbalik menjadi kebingungan ke mana harus mengeksport daging yang dihasilkan sendiri. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up