Kyai NU Usai Muktamar
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 7 Agustus 2015 . in Dosen . 1598 views

Sudah beberapa kali, saya mengikuti muktamar NU, yaitu mulai di Situbondo, di Cipasung, di Solo, di Kediri, di Makassar, dan terakhir di Jombang. Suasana muktamar, saya rasakan hampir sama. Perbedaan pendapat dan bahkan konflik selalu terjadi. Tidak pernah muktamar NU yang pernah saya ikuti berjalan tanpa masalah. Mungkin saja sementara orang mengira bahwa pertemuan para kyai dalam acara besar selalu diliputi suasana sejuk dan mudah diperoleh kesepakatan dalam membahas sesuatu. Ternyata keadaannya tidak selalu begitu.

Memang, siapa saja ketika bertemu kyai, ---apalagi kyai sepuh, selalu memperoleh kesan adanya suasana teduh, damai, dan menjadi tidak ada masalah. Oleh karena itu, orang datang dan atau menemui kyai adalah untuk menyelesaikan masalah dan bukan sebaliknya, mencari masalah. Dengan kesabaran, keikhlasan, dan kearifannya, kyai biasanya memberikan jalan keluar, sehingga sepulang dari tempat itu, beban pikiran dan perasaan menjadi terselesaikan. Namun, tidak begitu ketika sesama kyai bertemu membahas sesuatu.

Perbedaan pendapat dan bahkan berdebat di kalangan sesama kyai atau ulama adalah hal biasa. Pembahasan sesuatu di kalangan para kyai, apalagi menyangkut aqidah, fiqh, dan hal penting lainnya, tidak jarang berjalan keras dan alot. Antar kyai tidak segera bersepakat. Beradu argumentasi atas dasar rujukannya masing-masing adalah hal biasa. Perdebatan keras itu juga tidak selalu berakhir kompromi atau membuahkan kesepakatan.

Mungkin saja sementara orang mengira bahwa dalam hal rutin, seperti memulai dan mengakhiri puasa di Bulan Ramadhan, sesama kyai NU selalu sama. Sekalipun sebagian besar bersepakat dalam hal tersebut menggunakan rukyat misalnya, tetapi sebenarnya ada sebagian kyai NU yang menggunakan hisab. Hanya saja, para kyai dengan alasan demi ketenteraman umat, mereka membangun jiwa toleransi yang tinggi. Sekalipun dalam penetapkan 1 Syawal berbeda dari pemerintah dan bahkan juga dengan para kyai pada umumnya, keputusannya sendiri tidak diumumkan. Mereka melaksanakan hari raya sendiri secara berbeda dari keputusan pemerintah atau kyai pada umumnya.

Muktamar NU di Jombang beberapa hari yang lalu terdengar bahwa terjadi perbedaan pandangan yang cukup tajam, misalnya dalam pembahasan tata tertib, pemilihan Rais Syuriah, maupun Ketua Tanfidziyah. Kejadian semacam itu sebenarnya bagi kyai adalah hal biasa. Tatkala membahas sesuatu dan apalagi menyangkut organisasi, aqidah, hukum atau fiqh, di antara para kyai tidak mudah kompromi dan atau menyerah. Bahkan perdebatan antar kyai berakhir dengan perbedaan adalah hal biasa. Namun perbedaan itu tidak mengakibatkan tali sillaturrahmi menjadi putus. Hubungan antar mereka masih terawat dengan baik, dan di antara mereka masih merasa bersama-sama dalam organisasi NU.

Seusai muktamar, baik mereka yang senang atau puas oleh karena merasa aspirasinya berhasil tersalurkan maupun mereka yang kecewa, maka tidak lama kemudian akan melupakannya. Para kyai akan mengurus kembali pesantrennya, masjid, madrasah atau lembaga pendidikannya, dan memberikan pengajian sebagaimana biasanya. Mereka yang merasa menang dalam muktamar itu juga tidak akan sombong atas kemenangannya itu, dan begitu pula sebaliknya, mereka yang kalah juga tidak akan merasa kecil hati atau kecewa yang ditunjukkan di hadapan para jama'ahnya. Bagi kyai pada umumnya, berbeda pendapat adalah diangap sebagai hal biasa.

Para kyai menyukai berorganisasi, tetapi sebenarnya masing-masing merasa sangat otonom. Antar Kyai bisa saja berbeda, baik terkait dengan kitab yang diajarkan, kurikulum, atau juga tradisi lainnya. Persamaan biasanya hanya terjadi antar kyai yang memiliki hubungan guru murid. Otonomi di kalangan pesantren sangat kuat, oleh karena para kyai dalam mendirikan pesantren juga dilakukan secara mandiri. Mereka membangun pesantren atas biaya atau kekuatan kyai sendiri, dan bukan atas prakarsa NU, apalagi oleh pemerintah. Ketika NU menyebut-nyebut memiliki ribuan pesantren, lembaga pendidikan, dan fasilitas lainnya itu, maka sebenarnya, semua fasilitas itu adalah tumbuh dari bawah, yakni dirintis dan dibesarkan oleh para kyai yang merasa sebagai bagian dari organisasi para ulama itu.

Hubungan organisasi antar Kyai di NU, mungkin bisa digambarkan sebagaimana dalam keluarga. Masing-masing, yaitu antara kakak, adik dan saudara lainnya, membuat rumah sendiri-sendiri. Suatu saat mereka berkumpul membicarakan sesuatu. Dalam pertemuan itu bisa saja terjadi perdebatan sengit. Tetapi usai pertemuan itu mereka pulang, merawat rumahnya masing-masing. Hubungan antar kyai di dalam organisasi kiranya seperti hubungan keluarga itu. Masing-masing mereka memiliki otonomi, tetapi merasa berada pada ikatan kebersamaan yang amat kokoh dan memiliki solidaritas yang amat tinggi. Sekalipun dalam bermuktamar, antar kyai seolah-olah tidak bisa dipertemukan, tetapi umpama usai kegiatan itu di antara mereka ada yang terganggu, ---masjid atau pesantrennya dirusak orang lain misalnya, maka semuanya akan bersatu membelanya. Oleh karena itu, berbeda di dalam muktamar bagi para kyai adalah hal biasa. Orang lain masih memikirkan perbedaan itu, sementara itu antar mereka yang berselisih sudah melupakannya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up