Lembaga Pendidikan Berbasis Agama Di Tengah Kesadaran Pentingnya Karakter
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 23 Agustus 2015 . in Dosen . 3716 views

Pada akhir-akhir ini banyak orang berbicara tentang betapa pentingnya pendidikan karakter. Dirasakan oleh banyak kalangan bahwa katakter bangsa ini sudah semakin memprihatinkan. Konflik antar kelompok, antar organisasi, dan bahkan antar pribadi, memperebutan kekuasaan, korupsi, penggunaan obat terlarang, pornografi, perselingkuhan, saling mengkriminalkan, dan semacamnya adalah dianggap hal biasa.

Kemerosotan akhlak atau kaakter itu bukan saja ditampakkan oleh para remaja atau generasi muda, melainkan oleh hampir semua usia. Dahulu banyak orang merasa prihatin terhadap adanya kenakalan remaja, misalnya tampak dalam bentuk tawuran, hubungan bebas, penggunaan obat terlarang, meninggalkan sekolah belum waktunya pulang, dan lain-lain. Anehnya, bahwa sekarang ini, kegelisahan itu justru bersumber dari orang tua sendiri.

Presiden Joko Widodo di awal jabatannya melempartkan isu menarik, yaitu agar bangsa ini melakukan revolusi mental secara bersama-sama. Pikiran itu sebenarnya amat strategis dan sangat relevan dengan persoalan bangsa yang sebenarnya. Persoalan bangsa ini bukan terletak pada kekurangan beras, gula, buah-buahan, keterbatasan dana, dan seterusnya. Akan tetapi, persoalan bangsa ini sebenarnya adalah terletak pada karakter atau akhlak yang sedang tidak terawat.

Nillai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi, pada akhir-akhir ini ternyata terabaikan. Solidaritas, kebersamaan, menghargai orang lain, dan apalagi saling menjalin kasih sayang antar sesama seakan-akan sudah tidak tersisa lagi. Tatkala sesama sedang lalai atau melakukan kesalahan, maka tidak segera diingatkan, melainkan justru ditunggu agar bisa dilaporkan, diadili, dan kemudian dipenjarakan. Tatkala di antara sesama mengalami kerugian, celaka atau ditimpa musibah, maka bukan ditolong dan diselamatkan, melainkan adalah justru ditinggalkan dan atau tidak dipedulikan.

Kesediaan saling menolong, saling membantu, menutupi aibnya, dan menyelamatkan antar sesama sudah sulit ditemukan. Sebaliknya, yang terjadi adalah saling bertransaksi. Selain itu, suasana saling menyalahkan, melaporkan kesalahan orang lain, dan bahkan mengkriminalkan adalah dianggap hal wajar. Orang menjadi senang tatkala melihat orang lain susah dan sebaliknya, merasa susah tatkala melihat orang lain senang. Gejala seperti itu sebenarnya adalah pertanda bahwa masyarakat sedang sakit. Mereka bukan sakit secara fisik, melainkan sakit mental, karakter atau akhlaknya.

Keadaan seperti digambarkan tersebut sebenarnya sudah disadari oleh banyak pihak, tidak terkecuali oleh pemerintah sendiri. Kebijakan yang ditempuh, di antaranya adalah menekankan pendidikan karakter. Munculnya kurikulum 13 sebenarnya dimaksudkan adalah sebagai jalan keluar untuk mengatasi persoalan karakter atau akhlak tersebut. Diyakini bahkan kemajuan apapun yang berhasil diraih tidak akan memberi makna apa-apa jika akhlak atau karakter bangsa ini tidak berhasil dipelihara. Disebutkan bahwa, seseorang atau bangsa telah kehilangan segala-galanya jika akhlak atau karakternya hilang.

Oleh karena itu, pendidikan karakter pada beberapa tahun terakhir ini memperoleh perhatian lebih serius dibanding pada tahun-tahun sebelumnya. Para pejabat berusaha mensosialisasikan dan menyadarkan pada masyarakat terhadap betapa pentingnya pendidikan karakter dan atau akhlak itu. Di mana-mana dan kapan saja, orang berbicara tentang pendidikan karakter yang dimaksudkan itu. Bahkan penulisan buku, seminar, diskusi, dan sejenisnya tentang pendidikan karakter atau akhlak menjadi terasa semakin semarak.

Selain itu, lembaga pendidikan yang berbasis agama menjadi semakin diminati oleh masyarakat, dan tidak terkecuali adalah lembaga pendidikan pesantren. Lembaga pendidikan madrasah, mulai dari madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah dan bahkan perguruan tinggi yang berbasis agama, baik negeri maupun swasta, semakin kebanjiran peminat. Orang tua memilihkan anaknya ke lembaga pendidikan berbasis agama adalah atas pertimbangan pentingnya pendidikan karakter atau akhlak itu.

Jika persoalan yang sedang dirasakan dan banyak diperbincangkan tersebut mampu dan berhasil dijawabnya, maka artinya lembaga pendidikan berbasis agama adalah sedang menemukan momentum yang tepat dalam membangun kepercayaan masyarakat yang lebih nyata. Momentum itu tidak boleh disia-siakan. Lembaga pendidikan berbasis agama seharusnya berbenah secara mendasar, dan menyeluruh, untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu mengembangkan aspek intelektual, sosial, dan profesional sebagaimana harapan masyarakat. Selain itu sudah barang tentu adalah spiritual yang selama ini dikenal oleh masyarakat. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up