Sumber pokok ajaran Islam itu adalah al Qur'an dan hadits nabi. Oleh karena itu apa saja yang merujuk pada dua sumber ajaran itu adalah Islam. Di antara ajaran penting yang ditangkap dari al Qur'an dan hadits adalah akhlaq mulia. Orang yang berakhlak mulia selalu menampakkan perilaku santun, menghormati sesama, tidak kasar, tidak mau meremehkan, merendahkan apalagi menghujat orang lain, jujur, sabar, ikhlas, tidak mengkonsumsi sesuatu yang haram, dan seterusnya.
Ajaran Islam yang sedemikian indah itu ternyata tidak selalu tampak pada diri seseorang yang menyebut dirinya beragama dan bahkan memperjuangkan Islam. Ada saja seorang muslim, atau seorang yang beragama Islam, tetapi suka menghujat, menyakiti hati orang lain, berbicara kasar, merendahkan, masih berani berbohong, mengkafirkan sesama muslim, tidak sabar, dan seterusnya. Akhirnya, menjadi tidak jelas, seorang mengaku beragama Islam tetapi masih berperilaku jauh dari ajaran Islam.
Akibatnya, citra Islam menjadi kurang baik, buruk, atau tidak sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam itu sendiri. Islam dianggap sebagai ajaran yang memberi toleransi terhadap perilaku kasar dan merendahkan orang lain. Demikian pula, ada sementara orang yang mengaku memperjuangkan Islam tetapi dilakukan dengan kasar, dan bahkan merusak dan membunuh, sehingga kemudian mereka itu disebut sebagai kelompok teroris.
Selain itu juga masih banyak umat Islam yang berpengetahuan rendah, miskin, terbelakang, dan juga disebut bodoh. Kekurangan mereka itu sebenarnya bukan karena disebabkan beragama Islam, melainkan justru karena belum menjalankan ajaran Islam sepenuhnya. Islam di antaranya, mengajarkan agar selalu mencari ilmu, tetapi ajaran itu belum sepenuhnya dijalankan. Islam mengajarkan agar bekerja keras untuk mencari rizki, tetapi ajaran itu belum ditunaikan sepenuhnya. Akibat semua itu, mereka masih terbelakang dan bodoh.
Keindahan Islam ternyata bisa tertutupi oleh perilaku orang yang beragama Islam itu sendiri. Gambaran tentang Islam bisa berbeda dengan perilaku pemeluknya, yaitu yang disebut sebagai seorang muslim. Tentu semua orang menginginkan agar perilaku setiap muslim sama persis dengan ajaran Islam yang indah itu. Dengan demikian, Islam tergambar sepenuhnya dari perilaku pemeluknya. Akan tetapi, harapan itu tidak akan mungkin bisa diraih secara sempurna. Contoh sederhana, mengikuti Nabi seharusnya seorang muslim pada saat shalat lima waktu, selalu berjama'ah dan di masjid. Tetapi, yang terjadi ternyata tidak selalu demikian itu, sehingga antara Islam dan perilaku orang Islam atau muslim bisa berbeda.
Keadaan yang menggambarkan adanya jarak antara ajaran Islam dan perilaku orang Islam itu ternyata menggelisahkan sementara umat Islam sendiri. Mereka tidak mau disebut bahwa Islam itu mengajarkan kekerasan, kebodohan, mengajak pada kemiskinan, malas bekerja, menjadi orang tertinggal, bersifat emosional, mengganggu dan apalagi membunuh orang lain, merendahkan dan bahkan juga mengkafir-kafirkan orang lain. Dinyatakan bahwa Islam tidak mengajarkan hal-hal yang rendah dan buruk seperti itu. Islam adalah ajaran yang indah.
Sebagai bentuk dari upaya untuk menunjukkan bahwa Islam itu adalah ajaran yang indah maka dalam muktamar NU ke 33 di Jombang, dipupolerkan sebutan Islam Nusantara dan bahkan dijadikan tema pada kegiatan dimaksud. Sudah tentu mereka paham dan sadar bahwa ajaran Islam itu adalah al Qur'an dan hadits nabi. Dua sumber ajaran itu sejak zaman nabi hingga sekarang dan di mana-mana tanpa terkecuali mengajarkan akhlakul karimah, yaitu di antaranya tentang kedamaian, persatuan, menghormati sesama, saling berbagi kasih sayang, jujur, ikhlas, sabar, istikomah, tawakkal, dan seterusnya.
Penyebutan Islam Nusantara tidak ingin membedakan al Qur'an dan hadits pada zaman dulu dan juga yang berada di tempat berlainan akan berbeda. Semuanya masih sama. Penyebutan Islam Nusantara hanya ingin menunjukkan bahwa Islam yang berhasil diwujudkan oleh orang-orang yang berada atau hidup di nusantara ini adalah suasana damai, bersatu, cerdas, tidak tertinggal, keberadaannya tidak merugikan dan mengganggu orang lain, dan seterusnya.
Jika demikian, maka sebutan Islam Nusantara yang dimaksudkan itu adalah Muslim Nusantara. Sebab, Islam di mana dan kapan saja adalah sama, selalu indah dan sempurna, bersumber pada al Qur'an dan hadits. Sementara itu, wajah muslim di berbagai tempat dan zaman yang berbeda pasti beraneka ragam, tidak terkecuali di nusantara. Pimpinan NU melalui muktamar mengajak warganya berusaha menampakkan Islam yang indah, teduh, dan damai. Hal itu dimaksudkan sebagai bagian dari upaya menjaga hakekat Islam yang indah itu. Wallahu a'lam.



