Sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka keadaan masyarakat ke depan akan ditandai oleh beberapa hal, yaitu di antaranya adalah persaingan semakin tajam, perubahan semakin cepat, masyarakat semakin majemuk, dan sumber alam semakin langka. Menghadapi kenyataan itu, siapapun yang ingin memenangkan kompetisi dan berhasil menyesuaikan dengan perubahan itu, maka harus membekali dirinya dengan kekuatan yang tangguh.
Islam memberikan tawaran berupa konsep menghadapai berbagai persoalan kehidupan, baik secara pribadi maupun kehidupan kolektif. Namun sayangnya, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad yang telah terdokumentasikan dalam al Qur'an dan hadits nabi hanya dipandang sebagai ajaran untuk membangun kehidupan ruhani. Islam hanya dipahami sebagai pedoman untuk beribadah dalam pengertian sempit, yaitu menjalankan kegiatan ritual.
Pada umumnya seseorang merasa telah beragama Islam secara sempurna manakala sudah menjalankan rukun Islam, memenuhi rukun Iman, dan ikhsan. Kegiatan yang bernuansa Islam hanya dipahami ketika berada di masjid atau mushalla, memberikan sedekah yang kadang jumlahnya terbatas, puasa di bulan ramadhan, dan menjalankan ibadah haji. Beberapa kegiatan ritual itu seharusnya melahirkan kedamaian dan ketenteraman, tetapi seringkali justru sebaliknya, yaitu perdebatan yang kemudian membuahkan perpecahan yang tidak mudah diselesaikan.
Tulisan singkat berikut ini, mengajak untuk memahami Islam dalam perspektif yang lebih luas, yaitu tidak sekedar menyangkut kegiatan ritual sebagaimana dikemukakan di muka. Islam tidak saja dipahami dari aspek fiqh, tauhid, akhlak, tasawwuf dan sejarah sebagaimana diajarkan oleh para guru agama di sekolah-sekolah, tetapi dalam wilayah yang lebih utuh dan luas.
Konsep Manusia Ideal Dalam al Qur'an
Di dalam al Qur'an ada beberapa seruan yang sedemikian mengesankan terkait dengan kualitas manusia. Seruan itu adalah berbunyi sebagai berikut : ' kunuu uli an-nuha, kunuu uli al-abshar, kunuu uli al-albab'. Beberapa kata yang sebenarnya tidak berada pada satu tempat, namun sengaja disatukan tersebut jika diartikan secara bebas adalah sebagai berikut : jadilah kamu sekalian orang yang memiliki pikiran yang cerdas, jadilah engkau sekalian orang yang memiliki pandangan mata dan telinga yang tajam, dan jadilah engkau sekalian orang yang memiliki hati yang lembut.
Anjuran di dalam al Qur'an tersebut seharusnya dijadikan pedoman dalam menjalani hidup ini. Namun sayangnya, upaya berpikir keras dalam rangka memecahkan masalah dan membangun ide-ide atau gagasan baru, maupun berbagai kegiatan keilmuan melalui observasi, eksperimen dan lainnya, ternyata masih belum selalu disebut sebagai bagian dari menjalankan ajaran Islam.
Sebagai akibatnya, umat Islam menjadi tertinggal, terbelakang, dan bahkan belum mampu bersaing dengan umat lainnya. Padahal dengan perintah itu, umat Islam seharusnya tidak saja gemar membangun tempat ibadah, seperti masjid dan mushalla, melainkan juga membangun pusat-pusat riset, perpustakaan, labororium, dan lain-lain. Menjadi muslim seharusnya menjadi cerdas, memiliki pandangan mata dan telinga yang tajam, dan berhati lembut.
Bahkan dalam bagian lain masih di dalam al Qur'an, sebutan ulu al-albaab ternyata diterangkan dalam pengertian yang amat luas. Seseorang disebut sebagai penyandang ulu al-albaab adalah mereka yang selalu : (1) ingat Allah pada ketika sedang berdiri, duduk, dan berbaring, (2) selalu merenungkan dan atau memikirkan penciptaan langit dan bumi, (3) menyadari bahwa semua yang diciptakan oleh Allah adalah tidak ada yang sia-sia. Sudah barang tentu, agar apa yang ada di sekitar kita tidak sia-sia, maka harus diciptakan teknologi.
Manusia ideal dalam konsep al Qur'an adalah mereka yang sepanjang hidupnya selalu merasakan kehadiran Tuhan. Berdzikir, menjalankan ibadah shalat, berpuasa, mengeluarfkan zakat, dan berhaji, semuanya itu adalah bagian dari kegiatan mengingat Allah. Mengikuti konsep ulu al-albab, kegiatan ritual dimaksud harus diikuti oleh aktifitas keilmuan, yaitu merenungkan dan atau memikirkan penciptaan langit dan bumi. Mengkaji ilmu alam, ilmu sosial, dan humaiora adalah merupakan bentuk daripada kegiatan memikirkan penciptaan langit dan bumi itu.
Selanjutnya, masih mengikuti petunjuk al Qur'an pula, maka kegiatan keilmuan harus membuahkan aktifitas yang lebih kongkrit, yaitu mengolah apa saja menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, bahwa manusia penyandang ulu al-albab, adalah orang yang selalu ingat Tuhan pada setiap waktu, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menindak-lanjuti dengan kegiatan rekayasa atau teknologi. Manakala konsep itu dijalankan, maka seorang muslim akan benar-benar menjadi manusia ideal.
Lima Misi Besar Kehadiran Islam
Selain konsep manusia ideal sebagaimana dikemukakan di muka, bersumber dari kitab suci al Qur'an dan juga hadits nabi, sebenarnya bisa ditangkap tentang misi Islam yang lebih luas. Nabi Muhammad saw., diutus ke muka bumi, adalah mengemban tugas yang amat mulia. Tugas kenabian itu jika dirumuskan, setidaknya ada lima hal, yaitu (1) mengantarkan kepada para pemeluknya agar kaya ilmu pengetahuan, (2) membangun pribadi unggul, (3) menciptakan tatanan sosial yang adil, (4) memberikan tuntunan berbagai jenis kegiatan ritual, dan (5) mengajak untuk melakukan apa saja secara profesional atau beramal shaleh.
Kelima misi Islam tersebut seharusnya dilihat dan dijalankan secara utuh sebagai satu kesatuan. Atas dasar misi itu, maka Islam tidak saja menyangkut aspek ritual, tetapi adalah merupakan petunjuk tentang kehidupan secara menyeluruh, baik menyangkut urusan pribadi maupun sosial. Pemahaman tentang Islam selama ini pada umumnya hanya pada aspek tertentu, ialah lebih banyak pada aspek ritualnya. Pemahaman seperti itu tidak akan melahirkan pribadi unggul dan atau tangguh.
Maka, sebagai mahasiswa muslim, dituntut untuk mehamai kitab suci dan sejarah kenabian itu hingga meraih kesempurnaan. Al Qur'an mengajarkan agar siapapun memahmi ilmu seluas-luasnya. Ilmu yang luas itu juga berasal dari sumber yang sempurna. Dalam hazanah Islam dikenal ada dua sumber ilmu, yaitu ayat-ayat qawliyah dan ayat-ayat qawniyah. Ayat qawliyah adalah berupa al Qur'an dan hadits nabi. Melalui dua sumber ajaran Islam itu, seseorang akan memperoleh ilmu pengetahuan yang tidak akan mungkin diperoleh dari sumber lainnya. Pengetahuan tentang sejarah kejadian manusia, penciptaan berbagai makluk, hal-hal yang bersifat ghaib, dan semacamnya adalah hanya bisa diketahui dari kitab suci itu.
Selain memahami ayat-ayat qawliyah, umat Islam juga dianjurkan agar mengembangkan ilmu pengetahuan melalui kajian terhadap ayat-ayat kawniyah, yaitu berupa alam semesta ini. Kegiatan itu dilakukan melalui observasi, eksperimentasi, dan penalaran logis. Berbekalkan kedua summer pengetahuan itu, maka kelima misi Islam sebagaimana dikemukakan di muka akan bisa diimplementasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Umat Islam dengan demikian akan memiliki pribadi unggul, yaitu kokoh secara jasmani maupun rokhaninya. Wallahu a'lam.



