Siapapun menghendaki kehidupannya dirasakan tenang, damai, bahagia dan tanpa kekurangan sesuatu apapun. Sebaliknya, kiranya tidak ada orang yang mengehandaki hidup gelisah, kawatir, takut, dan seterusnya. Namun untuk meraih suasana tenang, damai, dan menggembirakan itu ternyata tidak mudah. Sekalipun pada kenyataannya tidak ada apa-apa, tetapi di dalam pikiran dan perasaannya seperti ada saja pihak-pihak yang dianggap musuh atau paling tidak akan mengganggu.
Sebenarnya boleh-boleh saja orang waspada atau berhati-hati, tetapi kiranya kehati-hatian itu tidak perlu berlebih-lebihan. Orang yang selalu khawatir, termasuk kekhawairan kedatangan musuh, maka hidupnya tidak akan tenang. Sekalipun sebenarnya musuh itu tidak ada, maka oleh karena selalu dipikirkan itu maka akan benar-benar datang. Kedatangannya itu setidak-tidaknya akan berupa bayang-bayang, yaitu musuh berupa sebagaimana yang dibayangkan itu.
Seseorang memeluk Islam adalah agar menjadi aman, baik merasakan aman pikirannya, aman hatinya dan bahkan aman masa depannya. Orientasi hidup sebagaimana yang diinginkan seperti itu tergambar di dalam doa yang selalu diucapkan pada setiap hari, yaitu agar memperoleh kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat. Rasa khawatir dan apalagi takut, tentu adalah bukan kebaikan, melainkan justru menjadi pengganggu, setidaknya mengganggu pikiran dan perasaan itu.
Dalam Islam tidak boleh ada sesuatu yang ditakuti, kecuali terhadap tuhan, yaitu Allah swt. Musuh itu sebenarnya memang ada, tetapi siapa saja tidak perlu takut pada musuh itu. Sebab musuh itu sebenarnya berada di mana-mana, termasuk yang ada pada dirinya sendiri, yang mungkin saja datang pada setiap saat. Berpikir dan berperasaan memiliki musuh, sebenarnya sudah menyiksa diri sendiri. Oleh karenanya, pikiran dan perasaan seperti itu harus dihilangkan.
Islam adalah mengajarkan kedamaian. Namun oleh sementara orang ternyata justru dimaknai dan dirasakan mendatangkan banyak musuh. Setelah menyatakan diri sebagai pemeluk Islam, maka orang yang beragama lain dianggap musuhnya. Orang Yahudi, Nasrani, Budha, Hindu, dan lain-lain, setelah dirinya masuk Islam, semua dianggap musuhnya. Padahal di dalam kontek kehidupan yang terbuka dan majemuk ini, mereka tidak akan memusuhi. Atau, jika benar-benar memusuhi, bisa jadi oleh karena, mereka diposisikan sebagai musuh itu.
Di dalam Islam sendiri juga dikenal ada berbagai aliran atau madzhab. Manakala perbedaan madzhab atau aliran itu juga dianggap musuh, maka akan betapa banyaknya musuh di dalam kehidupan ini. Mislanya, penganut Madzhab Syafi'i akan merasa dimusuhi oleh Madzhab Maliki. Madzhab Hanafi dimusuhi oleh Madzhab Hambali. Demikian pula, al-Jakfari dan seterusnya. Keadaan lebih menakutkan lagi oleh karena, selain berbagai madzhab juga terdapat berbagai macam organisasi keagamaan. Manakala seseorang masuk organisasi yang berbeda dengan dirinya, kemudian mereka itu dianggap musuh, maka jumlah musuh itu akan semakin banyak.
Jika logika tersebut yang digunakan, yaitu ketika orang yang berbeda dengan dirinya dianggap musuh, maka musuh itu menjadi tidak terhitung jumlahnya. Ber-Islam sama halnya dengan menghadirkan musuh, Padahal seharusnya tidak demikian itu. Kehadiran Islam, agar kehidupan ini menjadi damai, tenang, dan mulia. Menjalani hidup yang diliputi oleh suasana permusuhan menjadi tidak tenang. Di mana dan kapan saja, mereka khawatir atau bahkan takut akan bertemu dengan musuh. Tidak tepat ketika ber-Islam, menjadikan jumlah musuhnya bertambah banyak. Memeluk Islam justru agar tidak memiliki musuh. Selain itu agar bisa bergaul dan mengajak siapapun pada kebaikan, kebenaran, dan kedamaian.
Manakala setiap orang yang berbeda dengan dirinya selalu dicurigai dan dianggap sebagai musuh, maka pada saat apa dan kapan saja hidupnya menjadi tidak tenang. Bahkan teman dan jama'ahnya sendiri, ---bisa jadi, dianggap sebagai musuh. Sikap yang demikian itu akan menjadikan seseorang selalu gelisah, khawatir, dan takut. Akibatnya, sehari-hari mereka akan menyusun strategi untuk menghindar dan atau mengalahkan orang lain. Padahal, orang yang dianggap sebagai musuh itu belum tentu akan benar-benar memusuhi. Oleh karena itu, selalu berpikir saja tentang musuh, maka artinya seseorang telah benar-benar memiliki musuh yang berbahaya, yaitu dirinya sendiri. Wallahu a'lam



