Membuat sesuatu tidak selalu mudah, sekalipun begitu juga tidak gampang mengakui dan apalagi membanggakannya sendiri. Agar dinyatakan lulus sebagai sarjana, seorang mahasiswa harus menyelesaikan karya ilmiah, berupa skripsi, thesis atau disertasi. Tidak gampang membuat tulisan itu. Bertahun-tahun, kadang pekerjaan itu tidak selesai. Setelah selesai, belum tentu yang bersangkutan sendiri membanggakannya.
Sebaliknya, orang segera kagum dengan milik orang lain. Sekalipun sebenarnya milik orang lain itu tidak lebih baik, dianggap lebih baik, dan justru lebih dihargai. Orang yang datang ke Indonesia selalu terkagum-kagum dengan keadaan negeri ini yang sangat indah. Tanahnya subur, pemandangannya di mana-mana kelihatan bagus, tetapi anehnya pendduknya sendiri tidak merasakan keindanhan itu.
Hingga sekarang ini, bangsa Indonesia sudah memiliki 7 presiden. Pada saat masing-masing itu sedang menjabat, terasa biasa-biasa saja, dan bahkan kurang dibanggakan. Apa saja yang dilakukan dianggap selalu kurang dan tidak memuaskan. Akan tetapi, setelah pimpinan negara itu berganti, maka baru diakui tentang kelebihannya. Ketika bangsa sekarang ini dipimpin oleh Ir.Joko Widodo dan Yusuf Kalla, sementara orang mengatakan bahwa Pak Harto, Gus Dur, dan Megawati lebih baik, demikian pula Pak SBY. Kenikmatan itu ternyata terlambat dirasakan.
Hal yang sekiranya perlu diingat adalah bahwa, apa yang terjadi dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya merupakan karyanya sendiri, baik karya yang bersifat individu maupun karya kolektif. Skripsi, thesis, atau disertasi sebagaimana contoh di muka adalah dibuatnya sendiri. Namun yang bersangkutan saja ternyata tidak mampu mengakui dan apalagi membanggakannya. Begitu pula, keadaan bangsa ini sebenarnya adalah merupakan hasil karyanya sendiri yang dilakukan secara kolektif. Namun hal itu tidak selalu disadari sehingga kemudian dikritiknya sendiri.
Seringkali kita juga mendengar bahwa kota-kota di berbagai negara lain kelihatan indah dan tertata rapi, banyak bangunannya menjulang tinggi, fasilitas jalan, pertokoan, perkantoran, hotel, lembaga pendidikan, dan lain-lain menunjukkan sebagai karya-karya yang mengagumkan. Disadari atau tidak, keindahan itu sebenarnya adalah diciptakan dan dibuat. Pencipta dan pembuatnya adalah pemilik negeri itu sendiri. Tatkala melihatnya kita juga heran dan kagum, bahwa mereka telah mampu menciptakan karya-karya seperti digambarkan itu.
Siapapun seharusnya tidak boleh berhenti pada kekaguman itu. Setelah menyaksikan keindahan itu, segera membuat yang lebih baik. Semestinya diyakini bahwa manusia memiliki potensi yang sama. Ketika orang lain bisa menciptakan dan membuat sesuatu, maka dirinya sendiri juga mampu membuatnya. Persoalannya adalah, mengapa kita atau semua orang tidak menempatkan diri pada suasana berlomba, yaitu dalam bahasa Islamnya adalah berfastabiqul khoiraat, sehingga suatu ketika, kitalah pemenangnya.
Salah satu kekeliruan yang tidak disadari adalah bahwa, tatkala orang lain sukses menciptakan dan membuat sesuatu, kita tidak segera dan langsung membuat yang lain yang lebih baik. Kita cukup mendapatkannya dengan cara membeli. Dirasakan bahwa lebih baik membeli daripada ikut membuat. Akibatnya, selamanya tidak mampu menciptakan dan membuat sendiri sesuatu yang diperlukan. Padahal kemakmuran itu selalu berada pada pihak penjual, dan bukan pada pembeli. Pembeli biasanya mengagumi ciptaan dan karya orang lain dan sebaliknya, tidak menganggap miliknya lebih baik.
Oleh karena tidak pernah menghargai dan membanggakan ciptaan dan karyanya sendiri, maka bangsa ini tidak terdorong untuk menciptakan dan membuat sesuatu. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja, seperti beras, daging kedelai, buah-buahan, sayur, dan lain-lain, masih harus membeli ke luar negeri. Dengan demikian sebenarnya, hal penting yang belum dimiliki oleh bangsa ini, di antaranya adalah kemauan menciptakan dan membuat sesuatu tentang apa saja dan kemudian mensyukurinya. Wallahu a'lam



