Mengkalkulasi Kehidupan Sosial
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 12 Agustus 2015 . in Dosen . 1611 views

Sudah menjadi hal biasa, orang senang mengkalkulasi sesuatu, termasuk mengkalkulasi kehidupan social, dan tidak terkecuali adalah kehiduan politik. Mereka menggambarkan bahwa kehidupan sosial itu bisa diatur atau direkayasa sesuai dengan kehendak pikirannya. Padahal, apa yang dipikirkan dan dihitung-hitung itu ternyata sangat berbeda dan bahkan berlawanan dari apa yang diperhitungkannya itu.

Kehidupan social tidak sama dengan gejala alam yang bisa dihitung dan diprediksi. Sekalipun tidak pasti, seseorang yang menanam padi seluas satu hektar jika dikelola secara benar dan tidak ada pengaruh lingkungan di luar perhitungan, maka akan panen dalam jumlah tertentu. Atas dasar perhitungan itu, jika petani memiliki luas tanah dua kali lipat, maka hasilnya juga akan dua kali lipat pula.

Berbeda dari kehidupan alam, kehidupan social tidak selalu berjalan sebagaimana yang digambarkan oleh akal manusia. Pada saat menjelang pilpres, banyak orang mengkalkulasi bahwa jika pasangan calon presidennya menang, maka digambarkan keadaan masyarakat akan semakin makmur, tidak sulit lagi mencari lapangan kerja, rupiah akan menguat, dan seterusnya. Harapan itu tentu berdasarkan kalkulasi atau hitungan yang diharapkan akan benar-benar terjadi.

Pertanyaannya adalah, apakah gambaran tentang pikiran kebanyakan orang tersebut benar-benar terjadi. Tentu tidak selalu begitu. Dalam kehidupan social antara yang tergambar dalam pikiran dengan kenyataan yang terjadi, bisa jadi jauh berbeda. Hal yang perlu disadari adalah bahwa, kehidupan social selalu memiliki logikanya sendiri, dan tidak akan mengikuti logika seseorang dan bahkan pikiran seorang tokoh sekalipun.

Pada awal Pak harto berkuasa, tidak sedikit tokoh muslim khawatir tentang perkembangan Islam di negeri ini. Dianggapnya bahwa Pak Harto tidak terlalu pro dengan Islam. Sebagai contoh kecil, pengajian tingkat kampung saja bisa diselenggarakan setelah ada ijin dari koramil. Demikian pula para mubaligh saja selalu diseleksi. Tidak semua orang bisa secara bebas memberi pengajian di wilayah tertentu. Jika dianggap tidak akan menguntungkan pemerintah, maka seseorang tidak akan diberi ijin untuk berceramah.

Menghadapi kenyataan itu, para tokoh Islam mengkhawatirkan kehidupan umat beragama di masa mendatang. Namun pada akhirnya, ternyata kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti. Setelah sekian lama Pak Harto berkuasa, tidak saja rakyat menjadi semakin jauh dari Islam, tetapi justru Pak Harto sendiri yang jika ditelusuri secara mendalam, adalah menjadi sebab Islam di Indonesia semakin semarak. Masjid-masjid baru di berbagai wilayah berhasil dibangun, para pejabat naik haji, lembaga pendidkkan Islam menjadi semakin tumbuh, dan seterusnya.

Hampir setahun Joko Widodo dan Yusuf Kalla terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, namun oleh sementara orang belum dirasakan hasilnya. Berbagai kebijakannya dianggap belum terlalu tepat. Pemilihan anggota akbinet, sekalipun baru berjalan beberapa bulan sudah diganti. Penggantian anggota kabinet dalam waktu yang belum lama itu sebenarnya menunjukkan bahwa ada kesalahan sebelumnya di dalam pemilihan personil dimaksud. Selain itu, tidak sedikit kebijakannya ternyata melahirkan kegaduhan. Pengangkatan kapolri misalnya, melahirkan konflik antara Kepolisian dan KPK hingga menguras energy yang tidak kecil.

Selain itu pada akhir-akhir ini, dirasakan oleh masyarakat bahwa ekonomi semakin lesu, harga dolar atas rupiah semakin naik, harga BBM tidak stabil, sering terjadi kegaduhan politik dan bahkan konflik antar elite seringkali terjadi. Masih juga dirasakan sebagai hal yang mengkhawatirkan adalah bahwa di antara para tokoh terjadi saling tidak percaya, saling mengkriminalkan, sehari-hari para pejabat bekerja tidak tenang oleh karena khawatir dituduh salah dan akhirnya dipenjarakan, sebagai akibatnya penyerapan anggaran menjadi lamban dan tentu ekonomi menjadi mandek.

Di tengah-tengah keadaan seperti digambarkan tersebut, sementara tokoh sudah memulai mengoreksi atau mengkritik tajam. Mereka menganggap bahwa kerja pemerintah tidak tepat dan atau tidak sesuai dengan yang dijanjikan terdahulu. Akhirnya sudah mulai banyak orang menjadi khawatir terhadap masa depan bangsa ini. Tentu, munculnya perasaan tersebut tidak bisa dilarang. Akan tetapi, apa sebenarnya yang akan terjadi di negeri ini, kiranya tidak seorang pun yang tahu.

Kehidupan social tidak mudah dikalkulasi dan apalagi dipaksakan agar mengikuti logika yang dimiliki oleh seseorang. Tetapi yang jelas, bahwa keadaan bangsa Indonesia ini tidak saja tergantung pada pemimpinnya semata, melainkan tergantung pada seluruh kekuatan yang ada, yaitu pada tentaranya, polisinya, pengusahanya, media massanya, para tokoh agama, cendekiawan, tokoh politik, dan semuanya. Jika semuanya mencintai bangsa ini sepenuhnya dan bersama-sama meningkatkan integritasnya, bekerja keras dan jujur, maka peluang untuk menjadi bangsa yang berkembang, maju, dan unggul masih terbuka luas. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up