Mungkin hal yang tidak terlalu disadari bahwa NU dan Muhammadiyah sebenarnya adalah telah menjadi tali perekat persatuan bangsa. Anggota kedua organisasi sosial keagamaan ini sudah menjangkau ke seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Hanya jumlahnya saja yang tidak merata. NU misalnya kebanyakan di Jawa Timur dan Jawa tengah, sementara itu Muhammadiyah kebanyakan di Yogyakarta dan di Sumatera Barat.
Pada provinsi selain yang disebutkan di muka, sekalipun tidak terlalu banyak, tetapi selalu ada warga Muhammadiyah maupun NU serta kepengurusan organisasinya. Dalam kegiatan muktamar, seperti pada awal Agustus 2015, ---NU bermuktamar di Jombang dan Muhammadiyah di Makassar, para pengurus kedua organisasi dimaksud itu hadir. Pada setiap kali hadir pada muktamar tersebut, saya melihat wajah yang sedemikian gembira, mereka saling bertemu dengan sesama anggota organisasinya masing-masing.
Para peserta muktamar dan juga para penggembira datang dari daerahnya masing-masing atas biaya sendiri. Apapun yang dipersyaratkan untuk menghadiri kegiatan itu, mereka penuhi. Sama sekali tidak tampak ada beban yang dirasakan berat guna menghadiri pertemuan lima tahun-an itu. Bisa dibayangkan, ketika muktamar Muhammadiyah diselenggarakan di Makassar, maka utusan dan para penggembira dari berbagai wilayah hingga yang paling jauh pun, misalnya dari Aceh dan Papua, mereka datang. Bahkan bisa dibayangkan, betapa jauhnya pengurus Muhammadiyah Papua, ketika diselenggarakan muktamar di Aceh. Sekalipun jauh, para pengurus atau perwakilannya pasti datang.
Demikian pula, ketika NU menyelenggarakan muktamar di Jombang, maka pengurus dan warga dari berbagai wilayah dan daerah hadir, sekalipun misalnya pada saat upacara pembukaan. Antusias para pecinta NU hadir pada muktamar biasanya diantisipasi oleh panitia. Kedatangan mereka itu disambut dan disalurkan pada berbagai kegiatan sesuai dengan tingkat perkembangan masyarakatnya. Mereka yang berpendidikan disalurkan pada kegiatan diskusi atau seminar di luar acara muktamar. Sedangkan mereka yang tidak terbiasa dengan kegiatan tersebut, panitia muktamar menyediakan hiburan dengan mengundang artis terkenal dari ibu kota. Dengan demikian, semua yang hadir akan memperoleh hiburan atau tambahan pengalaman yang menyenangkan.
Bagi sementara orang, kecintaan terhadap organisasinya masing-masing adalah luar biasa mendalamnya. Apapun untuk kepentingan organisasi sosial keagamaan, mereka lakukan dan atau berusaha memenuhinya. Kecintaan pada organisasi, kadangkala melebihi kecintaan mereka terhadap agamanya itu sendiri. Oleh karena itu, apapun akan dilakukan demi membela kebesaran dan citra organisasinya. Itulah sebabnya, kecintaan terhadap organisasi sangat mungkin mendatangkan suasana emosional dan atau sikap irrasional. Maka, siapa saja seharusnya berkalkulasi tatkala berinteraksi dengan anggota organisasi yang berbeda. Jamaludin Ancok, guru besar Universitas Gajah Mada, dalam penelitiannya membedakan sikap antara in group dan out group dalam organisasi.
Dalam penelitian tersebut, seseorang yang berada pada organisasi yang sama akan membangun kebersamaan dan solidaritas dalam berbagai aspeknya. Hal-hal yang sebetulnya salah, keliru, atau tidak tepat, oleh karena semangat rasa kebersamaan dan solidaritas dalam group itu, maka akan dianggap benar. Sebaliknya, sikap yang sebenarnya benar akan diangggap keliru jika ditunjukkan oleh pengikut organisasi yang berbeda. Sikap subyektif dan irrasional sedemikian mudah muncul jika hal itu terkait dengan organisasi massa Sebagai contoh, seorang tokoh NU tatkala melakukan internal kritik, maka akan diangap lelucon. Sebaliknya, jika kritik itu dilontarkan oleh tokoh Muhammadiyah misalnya, oleh karena bersifat out group itu, maka pasti akan direspon negatif.
Kebersamaan agtau solidaritas dalam organisasi, baik di Muhammadiyah maupun di NU, menjadi kekuatan yang luar biasa untuk mempersatukan bangsa ini. Sesama warga NU antara yang berasal dari Papua dan dari Aceh akan tumbuh rasa kebersamaan, persaudaraan dan solidaritas yang sedemikian kokoh. Mereka menyadari bahwa masing-masing berasal dari etnis berbeda. Akan tetapi atas perasaan kebersamaan dan sollidaritas dalam organisasi, mereka akan bersatu dengan berbagai resikko atau konsekuensinya. Hal yang sama juga dialami oleh warga Muhammadiyah, dan lainnya. Oleh karena itu, persatuan bangsa ini sebenarnya sedemikian kokoh dengan adanya NU dan Muihammadiyah. Wallahu a'lam.



