Saya Belajar NU Dari Ayah Sendiri
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 9 Agustus 2015 . in Dosen . 1951 views

Dalam berbagai ceramah, saya menjelaskan bahwa saya tahu tentang NU adalah dari ayah saya sendiri. Seumur-umur, sekalipun pada skala kecil, ayah saya menjadi pengurus NU, yaitu mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten. Demikian pula, ibu saya juga sebagai ketua Muslimat. Selain mengurus organisasi, ayah saya dikenal sebagai mursyid thariqoh naqshobadiyah. Pada setiap hari selasa, bersama jama'ahnya, ayah melakukan tawajjuhan di masjid di sebelah rumah yang juga didirikannya sendiri.

Sekalipun ayah keluaran pesantren, mungkin juga tidak lama, mengaji di Pesantren Bagelen, Jawa tengah, sejak kecil saya disekolahkan ke sekolah umum, yaitu ke SMP dan selanjutnya ke SMA. Alasan yang pernah saya dengar adalah agar saya bisa masuk ke perguruan tinggi umum, misalnya ke kedokteran. Menurut pendapat ayah saya, jika masuk madrasah, maka hanya akan menjadi guru agama. Madrasah pada zaman dulu belum seperti madrasah sekarang ini, lulusan madrasah sekarang bisa meneruskan ke mana-mana, tidak terkecuali ke kedokteran.

Bukan oleh karena menyesal, atau juga jera, beberapa kakak saya setelah lulus dari madrasah atau PGA hanya menjadi guru agama. Menurut penilaian ayah, dakwah lewat menjadi guru tidak banyak hasilnya. Pengaruh guru di tengah masyarakat, menurut penilaian ayah, kurang luas. Atas dasar alasan itu, maka sebagian anaknya saja menjadi guru, tetapi agar ada yang lain yang menjadi dokter, misalnya. Dengan cara itu maka diharapkan dalam berdakwah di NU lewat beraneka ragam, yaitu ada yang lewat kesehatan, pemerintahan, pertanian, perdagangan, dan lain-lain. Juga agar keinginannya itu tercapai, maka saya disuruh masuk sekolah umum.

Dalam berbagai kesempatan, tatkala tidak ada kegiatan yang harus dikerjakan, maka ayah di rumah selalu menceritakan tentang perjuangan di NU. Disebutkan, hidup itu harus sberjuang. Tanpa mau berjuang, hidup ini tidak banyak gunanya, dan bahkan juga tidak ada yang akan dinikmati. Datangnya nikmat, masih kata ayah, adalah ketika berhasil dalam berjuang. Selain itu, untuk menjadi orang terbaik sebagaimana diajarkan Islam melalui hadits nabi, ----ialah bermanfaat bagi sesama, maka harus ditempuh melalui perjuangan itu.

NU menurut ayah saya adalah tempat yang tepat digunakan sebagai sarana perjuangan. Organisasi para ulama atau kyai itu sehari-hari, satu di antaranya adalah memperjuangkan pendidikan Islam, baik di pesantren, madrasah, maupun di tengah masyarakat. Ayah selalu mendoktrin anak-anaknya, bahwa hidup itu harus berjuang. Ada dua pilihan dalam hidup, yaitu berjuang atau diperjuangkan. Ayah selalu berpesan apapun keadaannya agar menjadi orang yang bersedia untuk berjuang, dan jangan sampai hanya menjadi orang yang diperjuangkan.

Menjadi NU, kata ayah saya, seharusnya yang dipikirkan adalah perjuangan itu. Selanjutnya, agar perjuangan atau dakwahnya berhasil, maka ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu banyak orang yang diajak serta. Faktor orang dianggap menjadi sedemikian penting, bahkan melebihi segala-galanya. Alasannya, keberadaan orang bisa digunakan mencari uang atau barang yang diperlukan, sementara uang dan barang tidak selalu bisa digunakan untuk mencari orang yang berkualitas. Menurut ayah saya, seorang pejuang boleh saja kehilangan uang, tetapi jangan sampai kehilangan orang. Pandangan yang demikian itu harus dijadikan pedoman di dalam berorganisasi.

Masih menurut pandangan ayah saya, orang pintar dan apalagi pejuang yang telah diakui oleh banyak orang atas ketokohannya adalah sedemikian mahal harganya. Kekayaan organisasi sebenarnya adalah keberadaan para tokoh itu. Kekayaan itu, oleh karena harganya sedemikian mahal, maka jangan sampai hilang atau sekedar tidak dihitung. Antar para tokoh itu boleh saja berdebat, tetapi perdebatan itu jangan sampai mengakibatkan di antara mereka saling menyingkirkan atau bercerai berai. Tatkala, para tokoh itu dengan berbagai sebab menjadi hilang atau mengundurkan diri, maka organisasi akan kehilangan kekayaan atau kekutannya terpenting, yang nilainya melebihi uang atau berbagai fasilitas lainnya.

Selain itu, ayah juga selalu menerangkan tentang gambaran seseorang yang pantas disebut sebagai pejuang. Kata ayah saya, pejuang itu berbeda dari makelar. Seseorang disebut benar-benar sebagai pejuang adalah manakala yang bersangkutan selain sanggup bekerja keras juga masih mau berkorban. Orang yang menyebut dirinya pejuang tetapi tidak mau berkorban, dan apalagi masih selalu mengejar keuntungan pribadi, maka sebenarnya mereka bukan pejuang, melainkan sekedar broker atau makelar itu. Padahal komunitas apa dan di mana saja, ketika didalamnya terdapat orang yang berjiwa atau berkarakter makelar, maka dipastikan tidak akan maju. Ayah sejak saya kecil berpesan, ketika kelak dewasa bergabung di organisasi sosial keagamaan apa saja, maka tidak membolehkan atau melarang mempolsisikan diri sebagai makelar atau broker itu.

Organisasi sosial keagamaan, ---masih menurut ayah saya, dari sejak dulu ternyata belum memiliki sumber pendanaan yang jelas dan apalagi kuat. Jika sudah ada, maka sifatnya insidental, yaitu berasal dari iuran yang tidak pasti kapan dikumpulkan, dan juga jumlahnya tidak banyak. Oleh karena itu, menurut petunjuk beliau, jika suatu ketika saya misalnya terlibat dalam organisasi keagamaan dimaksud, maka harus mau membayar iuran terlebih dahulu, berapapun jumlahnya. Berjuang di NU selain harus bekerja keras dan ikhlas, ---sebagaimana disebutkan di muka, juga masih harus dituntut membayar iuran untuk membiayai kegiatan organisasi. Itulah yang oleh ayah saya dahulu, sebagai kyai kecil-kecilan, menyebutnya sebagai pejuang sebenarnya.

Sebagai tambahan, masih terkait dengan membayar iuran, harus selalu meningkat jumlahnya. Disebutkan bahwa, dalam berjuang pada hari ini harus lebih baik dibanding kemarin, dan esok harus lebih baik dibanding hari ini. Atas dasar ajaran itu, maka membayar iuran pun setiap tahun harus diusahakan meningkat. Jika dari tahun ke tahun tidak ada peningkatan jumlahnya, maka dianggap tidak ada kemajuan. Padahal NU harus maju, dan kekuatan sebagai modal untuk maju adalah tersedianya anggaran. Menjadi NU adalah menjadi pejuang untuk maju dalam berbagai kebaikan, adil, dan makmur. Sementara itu, mengajak orang pasti tidak cukup hanya sekedar lewat kata-kata, stetapi melalui contoh. Sebelum mengajak orang lain untuk membayar iuran, maka pemimpin harus membayar terlebih dahulu. Oleh karena itu, sebenarnya berebut menjadi pemimpin di NU adalah sama artinya dengan berebut besar-besaran membayar iuran. Sekalipun begitu, memang benar, bahwa dari keterlibatan pada posisi dimaksud akan memperoleh kepuasan dan kebahagian yang luar biasa. Itulah sebabnya, Islam mengajak umatnya menjadi pejuang, Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up