Pada hari Senin, tanggal 17 Agustus 2015, saya diundang oleh Pengasuh Pesantren an-Nuqoyah Guluk-Guluk untuk memberikan ceramah dalam kegiatan halal bi halal. Selain itu, juga diminta untuk memberi kuliah umum di hadapan para mahasiswa pascasarjana di sekolah tinggi, di pesantren itu. Seingat saya, sudah yang tiga kali, saya datang ke pesantren yang cukup dikenal di Madura, dan bahkan juga secara nasional oleh karena berbagai prestasi yang diraih, di antaranya adalah dalam pengelolaan lingkungan.
Sementara ini, perguruan tinggi yang berada di pesantren an-Nuqoyah Guluk-Guluk, Sumenep tersebut, baru membuka program studi agama Islam. Oleh karena itu sehari-hari yang dikaji di kampus itu adalah sebatas bidang hukum Islam, pendidikan Islam, dan sejenisnya. Sebagai perguruan tinggi di lingkungan pesantren, bidang ilmu dimaksud dianggap penting, padahal sebenarnya ada lagi yang lebih penting bagi masyarakat pesantren, yaitu bidang sains dan teknologi. Sedangkan tentang syari'ah, tabiyah, dan semacamnya sebenarnya sudah bisa dicukupi melalui pendidikan pesantren yang berdiri sejak lama itu.
Masyarakat Sumenep di sekitar pondok pesantren an-Nuqoyah pada umumnya adalah bertani. Tanah di wilayah itu tampak tandus, sekalipun rupanya sangat cocok ditanami tembakau. Pada musim kemarau seperti sekarang ini, sekedar mendapatkan air saja, oleh beberapa kalangan dirasakan tidak mudah. Menurut informasi, banyak tanaman yang mati disebabkan kekurangan air. Keberadaan air dalam kehidupan ini, adalah mutlak dan tidak bisa digantikan oleh benda lainnya. Bercocok tanam, berternak, dan bahkan manusia sendiri tidak bisa hidup dan apalagi beribadah tanpa adanya air.
Memperhatikan keadaan lingkungan masyarakat dan keberadaan pesantren an-Nuqoyah di Guluk-Guluk dimaksud, saya membayangkan, umpama lembaga pendidikan Islam itu mengembangkan program studi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, maka peran pesantren itu akan bertambah maksimal. Untuk memenuhi kebutuhan kajian syari'ah dan tarbiyah, sebenarnya sudah cukup dipenuhi dari pendidikan pesantren yang sudah lama dikembangkan. Pesantren an-Nuqoyah Guluk-Guluk sudah berhasil menjadikan para santrinya memahami al Qur'an, kitab kuning yang berbahasa Arab, dan juga melakukan peran-peran kepemimpinan dalam menjalankan keagamaan.
Sementara itu yang belum berhasil dikembangkan oleh pesantren dimaksud adalah melahirkan ahli pengairan, ahli pertanian, ahli peternakan, ahli tranportasi, ekonomi, dan lain-lain. Kehadiran para ahli itu diharapkan mampu menjawab bersoalan kehidupan masyarakatnya. Pada saat kemarau seperti sekarang ini dan juga selalu datang pada setiap musim, kebutuhan air sangat terasakan. Sementara ini, untuk memenuhi kebutuhan air, masyarakat Sumenep, dan tentu juga di daerah lain yang serupa, masih menggantungkan pada alam. Tatkala musim penghujan, mereka kelebihan air, dan sebaliknya pada musim kemarau, selalu kekurangan. Persoalan sederhana itu hingga kini belum bisa dijawabnya.
Ketersediaan air pasti berpengaruh terhadap pertanian dan juga dalam hal lainnya. Sementara ini pertanian dan juga peternakan yang dilakukan oleh masyarakat baru bersifat tradisional yang sangat tergantung pada alamnya. Dalam bertani dan berternak belum tampak ada rekayasa yang berarti. Cara mereka bertani dan juga berternak diwarisi dari generasi sebelumnya. Oleh karena tidak ada tenaga ahli yang memberikan bimbingan pada masyarakat itu, maka inovasi dan juga modernisasi dalam pertanian, peternakan, dan juga perikanan belum terlalu kelihatan. Itulah kiranya yang menyebabkan perkembangan ekonomi masyarakat Sumenep itu belum bisa disebut istimewa.
Sepulang dari pesantren An-Noqoyah Gulu-Guluk itu, di sepanjang perjalanan, maka yang saya pikir dan renungkan adalah, umpama lembaga yang dipimpin oleh para kyai itu, juga mengembangkan teknologi pengairan, pertanian, peternakan, perikanan, ekonomi, dan lain-lain, maka dari pesantren, masyarakatnya akan mendapatkan manfaat lebih untuk mengatasi berbagai persoalan kehidupannya. Ketergantungan pada musim bisa diatasi. Sekalipun musim kemarau misalnya, dengan teknologi pengairan, maka untuk mengolah tanah di wialayah itu tidak akan kekurangan air. Namun agar berbagai program studi dimaksud bisa dikembangkan, maka pesantren seharusnya membuka perguruan tinggi berbentuk universitas. Dengan demikian, di pesantren itu akan bisa dikembangkan berbagai jenis ilmu, misalnya ilmu pengairan, pertanian, peternakan, perikanan, danlain-lain.
Melalui langkah itu, pesantren an-Nuqoyah Guluk-Guluk, tidak saja berhasil melahirkan orang yang memahami ilmu agama, sebagai bekal di akherat kelak, tetapi juga menguasai ilmu yang diperlukan terhadap upaya meraih kesejahteraan hidup di dunia. Pesantren tidak saja berhasil membimbing masyarakat ketika sedang di masjid dan dalam berbagai jenis doa, tetapi juga bisa membimbing masyarakat mengatasi kelangkaan air, bertani, berternak, berusaha di bidang perikatanan, menata lingkungan, berekonomi, dan lain-lain. Dengan demikian, kehadiran pondok pesantren akan benar-benar berhasil menjawab terhadap berbagai persoalan kehidupan masyarakatnya. Wallahu a'lam



