Saya pernah mendengar ungkapan bahwa pada suatu ketika Al Qur'an hanya akan tinggal tulisannya, sedangkan dalam keseharian akan ditinggalkan orang. Mendengar penjelasan itu, saya membayangkan bagaimana kaum muslimin sendiri meninggalkan pesan-pesan-pesan al Qur'an. Nabi juga pernah menegaskan bahwa manusia tidak akan tersesat selama-lamanya jika berpegang teguh pada dua hal, yaitu al Qur'an dan Sunnah Nabi. Siapapaun kiranya tidak akan pernah mau menjalani hidupnya tersesat.
Kitab suci dan Sunnah Nabi telah diajarkan di berbagai lembaga pendidikan, baik yang bersifat tradisonal maupun di lembaga pendidikan modern, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Bahkan pelajaran itu tidak saja diberikan di lembaga pendidikan yang bernuansa Islam, seperti pondok pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam, melainkan juga di lembaga pendidikan umum, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri.
Pendidikan agama di Indonesia sesuai dengan Undang-Undang adalah wajib diberikan, bahkan juga dinyatakan bahwa pelajaran dimaksud harus diberikan oleh guru penganut agama yang bersangkutan. Artinya tidak boleh agama Islam diajarkan oleh guru selain beragama Islam. Pelajaran Agama Islam harus diberikan oleh guru yang beragama Islam, pelajaran agama Kristen diberikan oleh guru yang beragama Kristen, pelajaran agama Hindu wajib diberikan oleh guru yang beragama Hindu, dan seterusnya.
Mendasarkan pada Undang-Undang tersebut, para siswa atau mahasiswa yang beragama Islam seharusnya mengenal al Qur'an dan Sunnah Rasul. Sebab al Qur'an dan Hadits Nabi, sebagai sumber ajaran Islam, diajarkan di lembaga pendidikan. Melalui sumber ajaran Islam dimaksud, para siswa dan mahasiswa akan mengetehui di antaranya bahwa persatuan itu adalah perintah al Qur'an dan Sunnah Nabi. Sesama umat Islam, dan bahkan sesama umat manusia tidak boleh saling merendahkan, mengolok-olok, dan juga menyakiti hatinya, dan apalagi saling bunuh membunuh. Umat Islam atas dasar petunjuk al Qur'an seharusnya saling menghargai, menjalin kasih sayang, dan mengangkat harkat dan martabatnya.
Namun demikian, kiranya kita bisa melihat dan bahkan merasakan, bagaimana ajaran Islam tentang persatuan itu tidak selalu mendapatkan perhatian dan tidak dijadikan pegangan oleh umat Islam sendiri. Pada akhir-akhir ini di juga tidakantara sesama umat Islam, hanya oleh karena berbeda organisasi, aliran, dan berbeda madzhab ternyata tidak mudah bersatu. Saling menyalahkan, merendahkan, dan menyinggung perasaan dianggap hal biasa. Akibatnya persatuan di antara umat Islam, sekalipun diperintahkan oleh al Qur'an, seolah-olah boleh tidak diperhatikan.
Persatuan itu akan lebih sulit lagi dilwujudkan di antara kelompok yang berbeda. Tatkala dirasakan ada sesuatu yang berbeda, maka orang lain yang berbeda dengan dirinya dianggap sebagai musuh. Ajaran yang menyebutkan bahwa semua manusia adalah umat yang satu, berasal dari ibu dan bapak yang sama, di antara mereka yang berbeda tidak boleh saling mengganggu dan apalagi bunuh membunuh, dianggap boleh diabaikan. Bahkan lebih sederhana lagi, di antara sesama anggota organaisasi, terjadi saling konflik dan berebut posisi atau jabatan, seringkali dianggap hal biasa.
Sekalipun al Qur'an dan Sunnah Nabi telah memberikan peringatan yang jelas tentang keharusan untuk membangun kebersamaan dan persatuan, ternyata tidak mampu dan atau tidak berhasil dikejawantahkan. Ber-Islam yang seharusnya dimaknai agar antar sesama saling mengenal, menjalin komuniukasi, saling menghargai dan menghormati, dan saling menjalin tali sillaturrahmi, ternyata ajaran atau konsep yang indah dimaksud ternyata tidak mudah dilaksanakan. Di antar sesama lebih mengedepankan ego atau harga diri, mengutamakan kelompok, suku, atau organisasinya masing-masing. Sebaliknya, tidak merasa salah sekalipun ucapan, atau tindakannya merugikan sesama atau orang lain.
Oleh karena itu, terasa sekali bahwa perintah al Qur'an dan juga Sunnah Nabi tentang persatuan bisa dibaca pada setiap saat, tetapi ternyata dalam praktek kehidupan sehari-hari seakan-akan sudah tidak ada lagi, dan bahkan dalam menjalankan agama sekalipun. Hubungan antar orang diwarnai oleh berbagai kepentingan, misalnya kepentingan ekonomi, politik, dan lain-lain. Sedangkan yang bersifat kekeluargaan, kebersamaan, dan kasih sayang, sudah semakin hilang. Bahkan untuk memenuhi kepentingan tersebut, berbohong, atur mengatur, bersiasat, dan sejenisnya dianggap hal biasa. Al Qur'an sudah tinggal tulisan, tetapi tidak mudah ditemukan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Wallahu a'lam.



