Batu Sandungan Internal PTKIN Meraih Kemajuan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 20 September 2015 . in Dosen . 1029 views

Dalam acara AICIS (Annual International Conference of Islamic Studies) di Manado pada tanggal, 3- 8 September 2015, saya bersasama Prof. Kadarsyah Suryadi, Rektor ITB, diminta untuk menyampaikan pandangan tentang pengembangan perguruan tinggi Islam ke depan. Penunjukkan saya sebagai pembicara pada waktu itu mungkin saja didasarkan atas pengalaman saya yang cukup lama dalam ikut memimpin perguruan tinggi Islam (STAIN/UIN Malang selama 16 tahun). Sementara itu Rektor ITB diminta memberikan pengalaman dalam memimpin perguruan tinggi yang dikenal unggul di Indonesia.

Hadir pada kesempatan itu para Pimpinan PTKIN, Direktur Pascasarjana, para guru besar, dan undangan terseleksi dari seluruh Perguruan Tinggi Islam Negeri dan masih ditambah lagi peserta dari perguruan tinggi Islam swasta. Pada acara tanya jawab dalam kesempatan itu, ada pertanyaan yang cukup menarik tetapi memprihatinkan, yaitu disadari bahwa persoalan untuk memajukan PTKIN bukan saja pada keterbatasan anggaran, tenaga pengajar, dan fasilitas sebagaimana yang sering diungkapkan, tetapi yang tidak mudah diselesaikan adalah selalu adanya fragmentasi atau pengelompokan di kalangan dosen, pimpinan dan juga diikuti oleh mahasiswanya.

Disebutkan bahwa pengelompokan yang terjadi di internal PTKIN selalu ada, baik pengelompokkan itu atas dasar afiliasi organisasi yang berbeda-beda, asal usul daerah, etnis dan lain-lain. Pengelompokan itu bersifat idiologis dan emosional, sehingga tidak mudah dicari penyelesaiannya. Sebagaimana ciri dari idiologis itu, maka organisasi yang bersangkutan akan selalu bersifat tertutup, irrasional, subyektif, dan selalu berorientasi menang atau kalah, dan bukan benar atau salah atas dasar penilaian obyektif dan rasional.

Pengelompokan tersebut hampir dipastikan muncul ketika sedang terjadi kegiatan yang bernuansa politik, misalnya pemilihan pimpinan universitas atau fakultas, dan bahkan hingga pada perekrutan dosen atau pegawai baru. Sebagaimana sifatnya yang idiologis dan emosional itu, maka perekrutan pimpinan atau jabatan penting lainnya yang seharusnya mendasarkan pada kemampuan intelektual, prestasi akademik, keunggulan leadership dan manajerial, dan sejenisnya akan terkalahkan oleh pertimbangan emosional seperti perasaan sesama organisasi, sesama asal daerah, atau juga sesama etnis tersebut.

Sudah umum diketahui bahwa kesenangan berorganoisasi adalah menjadi habitat kebanyakan orang. Manusia adalah makhluk sosial dan karena itu menyukai berkumpul atau mengelompok dan selanjutnya membangun organisasi. Akan tetapi, jika kesenangan berkelompk dan atau organisasi itu akhirnya menjadi batu sandungan pengembangan perguruan tinggi Islam, maka seharusnya dipikirkan untuk mengatasinya. Sebagai orang yang berada di perguruan tinggi Islam dan apalagi mereka sebagai kelompok intelektualnya, maka seharusnya dituntut mampu berpikir obyektif, rasional, dan selalu berorientasi pada kualitas dan masa depan.

Pertanyaan yang disampaikan pada AICIS tersebut adalah bagaimana mengatasi efek negatif dari nuansa poilitis di kampus Islam yang selama ini dirasakan selalu menjadi batu sandungan di dalam pengembangan PTKIN pada umumnya. Konflik yang sering terjadi di lingkungan PTKIN sebenarnya adalah berasal dari adanya pengelompokan yang bersifat emosianal dan idiologis itu. Akan tetapi rupanya, suasana itu dipertlukan dan bahkan dianggap penting bagi mereka yang memiliki jiwa politis, dan sebenarnya tidak terlalu berprestasi di bidang akademik.

Merespon terhadap pertanyaan yang diajukan tersebut, saya memberikan pandangan bahwa organisasi semacam itu tidak mudah dihilangkan. Tatkala mereka dilarang, maka akan menjadi sebaliknya, yaitu tumbuh subur. Maka hal yang mungkin dilakukan adalah justru memelihara dan mengembangkannya secara terbuka. Biasanya sesuatu yang bersifat idiologis tatkala dikembanmgkan, maka kekuatannya justru surut dan begitu pula sebaliknya. Selain itu, bisa ditempuh dengan cara mengalihkan, yaitu dibentuk organisasi keilmuan, misalnya asosiasi ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fiqh, ilmu fisika, matematika, ekonomi, dan seterusnya. Bentuk organisasi seperti disebutkan terakhir, mungkin akan lebih bermanfaat terhadap pengembangan keilmuan, dan sekaligus mengurangi kekuatan organisasi yang bersifat emosional yang seringkali menjadi sandungan pengembangan PTKIN dimaksudkan itu. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up