Jika Islam itu diumpamakan sebagai jalan, maka semua umat Islam seharusnya merasa sedang berada pada jalan yang sama, ialah menuju untuk mendapatkan ridha Allah. Siapapun yang berada di jalan itu, seharusnya tidak boleh sembarangan. Niat, ucapan, dan perbuatannya harus terseleksi, ialah memilih yang terbaik, sesuai dengan ajaran-Nya. Allah selalu menunjukkan sifat-Nya yang mulia, yaitu di antaranya adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maka siapapun yang berada di jalan-Nya itu, seharusnya dalam batas-batas yang mampu dilakukan, mereka harus juga saling mengkasihi di antara sesama.
Terasa aneh, tatkala mengaku sebagai seorang muslim dan tentu berharap mendapatkan kasih sayang-Nya, tetapi berani membangun hubungan yang jauh dari sifat yang dipunyai oleh Allah. Dijelaskan bahwa, umat Islam harus bersatu, saling mengenal, saling memahami, menghormati, menjalin kasih sayang dan saling tolong menolong, ternyata tidak selalu dijalankan. Sebaliknya, sebagai seorang muslim hendaknya selalu berusaha agar menjauhkan diri dari sifat sombong, angkuh, kikir, saling menghasut, iri, dengki, mengadu domba, dan sejenisnya, ternyata justru tidak selalu bisa dihindari.
Hal sederhana yaitu tentang persatuan misalnya, seolah-olah menjadi sesuatu yang amat berat dan sulit dilakukan. Sekalipun ayat al Qur'an dengan begitu jelas memerintahkan agar selalu memelihara persatuan, tetapi ternyata seolah-olah ayat yang dimaksudkan itu bukan menjadi bagian dari ajaran Islam. Perpecahan tidak saja antar pemeluk agama yang berbeda, tetapi juga di antara kaum muslimin sendiri. Berbagai organisasi sosial maupun politik yang mendasarkan pada Islam sendiri ternyata juga tidak selalu harmonis hubungannya. Umat Islam berpecah belah dianggap menjadi hal biasa. Bahkan anehnya, perbedaan dan bahkan perpecahan itu dianggap sebagai keuntungan.
Di tengah-tengah perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat, Islam mengajarkan agar di dalam memecahkan masalah dilakukan secara bersama-sama, yakni dengan bermusyawarah. Manakala dalam bermusyawarah itu tidak diperoleh titik temu, maka sebagaimana petunjuk kitab suci, agar kembali pada Allah dan Rasul-Nya. Artinya, perbedaan itu tidak boleh mengakibatkan terputusnya tali silaturrahmi, pertikaian, dan atau saling menjauh. Antar sesama musim seharusnya bagaikan sebuah bangunan, yakni antara bagian satu dengan lainnya supaya saling memperkukuh. Itulah gambaran ideal kehidupan kaum muslimin.
Sayangnya, ajaran yang sedemikian indah tersebut ternyata tidak selalu dihayati. Keberadaan organisasi kaum muslimin yang berbeda-beda, bukannya saling memerkukuh, tetapi ternyata terjadi saling berkompetisi yang tidak selalu sehat. Di antara sesama organisasi Islam, saling merasa paling benar, paling unggul, dan paling hebat, adalah dianggap hal biasa. Menyinggung perasaan sesama hanya sekedar ingin mendapatkan pengakuan bahwa organisasinya lebih benar, bukan dianggap sebagai kekeliruan. Sebaliknya, saling mendekat bukan dianggap sebagai bagian dari implementasi ajaran Islam.
Ajaran Islam yang mengatakan bahwa : 'sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain', baru menjadi slogan. Padahal umpama hadits nabi itu dimaknai lebih luas sehingga menjadi bahwa, sebaik-baik organisasi adalah organisasi yang sanggup memberi manfaat bagi organisasi lain, dan bahkan juga sebaik-baik bangsa adalah bangsa yang mampu memberi manfaat bagi bangsa lain, maka betapa indahnya kehidupan ini. Atas dasar konsep itu pula misalnya, di suatu desa NU sedemikian maju, dan setelah diselidiki hal itu ternyata, disebabkan karena dibantu oleh Muhammadiyah. Begitu pula seterusnya, Muhammadiyah sedemikian cepat berkembang oleh karena gerakannya itu didukung oleh NU, maka Islam benar-benar menjadi tampak sangat indah.
Semakin menjadi lebih produkrif lagi manakala perbedaan itu melahirkan pembagian tugas dalam berdakwah dan atau pembinaan umat. Misalnya, Muhammadiyah diamanahi menyusun dan mengimplementasikan konsep pendidikan dan pelayanan kesehatan. Sementara itu, NU mendapatkan bagian untuk membina masyarakat pada umumnya baik terkait ekonomi, politik, sosial, dan lain-lain. Sedangkan yang lain, misalnya al Irsyad, Tarbiyah Islamiyah, Jam'iyah Islamiyah, dan seterusnya mengambil peran penting yang belum menjadi perhatian dari organisasi lainnya. Dengan demikian maka, umat Islam akan tampak sedemikian bersatu dan kokoh. Umat Islam akan benar-benar menjadi tauladan bagi umat lainnya.
Namun sebaliknya, jika para tokohnya sendiri secara terbuka terjebak pada konflik, saling merendahkan, mengolok-olok sesama dianggap hal biasa, perpecahan dinilai sebagai rakhmat, dan seterusnya, maka Islam menjadi tidak seindah ajarannya. Apalagi kelemahan itu masih disempurnakan dengan rendahnya kualitas pendidikan umat, ekonomi belum tertata, ilmu pengetahuan dan teknologi masih belum tersentuh, dan demikian pula kebodohan dan keterbelakangan masih menjadi pemandangan sehari-hari, maka ajaran Islam menjadi jauh dari apa yang tampak. Semua itu disebabkan oleh karena, mereka sedang berada di jalan menuju Allah tetapi masih saling berisik dan tidak bersatu. Itulah kiranya yang dimaksud bahwa keindahan Islam tertutupi oleh umatnya sendiri. Wallahu a'lam.



