Seringkali saya ditanya oleh mahasiswa tentang orang yang paling berpengaruh terhadap kehidupan saya selama ini. Pertanyaan sederhana tetapi seringkali saya terima itu selalu saya jawab, bahwa orang yang saya rasakan paling banyak mempengaruhi terhadap kehidupan saya adalah ibu dan ayah saya sendiri.
Ayah saya bukan orang berpendidikan tinggi, melainkan hanya pernah belajar di pesantren. Demikian pula ibu saya, pendidikannya hanya sekolah tingkat desa. Namun demikian, keduanya memiliki kesadaran yang tinggi terhadap betapa pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya.
Seringkali ayah bercerita tentang kehidupannya semasa kecil ketika belajar di pesantren. Oleh karena pesantren tempat belajarnya itu jauh, yakni di Bagelen, Jawa Tengah, maka dari rumah ia harus naik kereta api cukup lama. Kereta api pada zaman dahulu tidak seperti sekarang, jalannya sangat lambat, sehingga di perjalanan saja harus sabar. Naik kereta api dari Tulung Agung hingga Bagelen memerlukan waktu hingga puluhan jam.
Mungkin saja untuk menyemangati pada anaknya, ayah selalu bercerita bahwa belajar ke pesantren tidak perlu berbekal uang, tetapi cukup membawa karak (aking). Juga tidak perlu target, berapa lama harus di pesantren. Disebutkan, yaitu hingga bekal yang hanya berupa karak itu habis. Jika karaknya habis dan tidak ada lagi yang digunakan untuk menyambung hidup di pesantren, maka ayah segera pulang. Dan baru akan balik, jika sudah ada bekal lagi.
Namun demikian, kesederhanaan itu tidak mengurangi semangat dan kualitas belajar. Bahkan yang mengherankan, sekalipun hanya berbekal pendidikan pesantren, ayah mampu melakukan peran-peran strategis di masyarakat, misalnya menjadi pengurus NU, memimpin partai politik sekalipun hanya tingkat kecamatan, memberikan ceramah atau pengajian dari satu tempat ke tempat lain, dan tentu merintis dan mengembangkan lembaga pendidikan. Selain itu, membaca kitab kuning dalam kegiatan pengajiannya di rumah adalah menjadi hal biasa.
Selain itu, yang saya heran lagi adalah wawasannya tentang berdakwah ternyata sedemikian luas. Orang-orang yang menolak dan bahkan memusuhi kegiatan dakwahnya tidak pernah dibalas dengan kejelekan. Melalui berbagai caranya sendiri, orang-orang yang diketahui membencinya justru didekati. Diyakini bahwa mereka menolak dakwah dan bahkan memusuhinya adalah bukan karena kepintarannya, melainkan justru karena tidak pahamnya tentang Islam. Menurut keyakinannya bahwa berdakwah harus dijalankan dengan sabar.
Hal menarik lainnya lagi adalah pandangannya tentang kerjasama dalam berdakwah. Ayah mampu menjelaskan hal tersebut dengan amat sederhana tetapi jelas. Berdakwah atau mengajak orang pada kebaikan, menurut pandangan ayah, boleh bekerjasama dengan siapa saja. Oleh karena pada saat itu masih belum ada kendaraan bernotor seperti sekarang ini, dalam menjalankan dakwahnya, ayah selalu berkuda. Itulah sebabnya, ayah mengatakan bahwa berdakwah boleh bekerjasama dengan siapa saja, tidak terkecuali dengan kuda itu.
Mengingat pesan-pesan ayah tersebut, saya menjadi tidak mengerti jika sekarang ini ada orang yang berpendapat, agar menjauh dari orang-orang yang belum sepaham dengan Islam sebagaimana yang dianut. Misalnya, kita tidak boleh terlalu dekat dengan penganut Syi'ah, Nasrani, Yahudi, HIndu, Budha, dan lain-lain. Padahal jika kita tidak mendekat dan menyampaikan pesan-pesan atau bahkan contoh tentang kemuliaan ajaran Islam, maka pertanyaannya adalah dari mana orang yang belum mengenal Islam itu akan mengenalnya.
Atas dasar pandangan dan pikiran dakwah yang sederhana itu, saya berusaha mendekat pada berbagai jenis organisasi sosial keagamaan, misalnya NU, Muhammadiyah, Tarbiyah Islamiyah, PUI, Jam'iyah Islamiyah, al Irsyad, dan lain-lain. Bahkan selama ini, saya juga sering diundang berceramah atau memberi kuliah umum di perguruan tinggi berbasis Agama, seperti ke Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri, Agama Budha, Agama Kristen, dan Katholik di berbagai kota di Indonesia. Dengan cara itu maka, Islam menjadi dikenal oleh mereka yang mendengarkan ceramah itu.
Akhirnya dengan cara itu, Islam tidak terlalu disalah pahami. Islam itu adalah indah, yaitu memberikan petunjuk tentang keharusan membangun kasih sayang di antara sesama dari manapun asalnya, mengajak pada kebaikan dan menjauhkan diri dari apa saja yang merusak kehidupan. Maka, mengikuti pandangan seorang yang hanya berpendidikan pesantren, bahwa kuda saja bisa dimanfaatkan untuk berdakwah dan apalagi manusia, makhluk Allah yang seharusnya dimuliakan. Siapa saja seharusnya didekati dan diajak bersama-sama mengenal, memahami, dan menjalankan ajaran Islam. Wallahu a'lam.



