Sore, setelah shalat maghrib, datang dua santri ke rumah. Keduanya mengaku sebagai santri pesantren Miftahul Huda yang diasuh oleh Kyai M. Baidhawi Muslich, di Gading, Malang. Banyak orang mengenal pesantren yang sudah cukup tua itu. Para santri yang ngaji pada Kyai M. Baidhawi, kebanyakan adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Mereka kuliah dan juga sekaligus mondok.
Kedua mahasiswa yang diutus Kyai Baidhawi datang ke rumah juga berstatus santri di pesantren itu. Segera setelah duduk, ia menyampaikan salam Kyai dan langsung menyerahkan sebuah buku yang sudah siap cetak kepada saya. Sekalipun sudah ada surat yang diserahkan bersama buku dimaksud, kedua santri menyampaikan secara lesan bahwa Kyai Baidhawi Muslich berhasil menulis buku dan akan diterbitkan.
Sudah barang tentu, saya sangat bahagia dan bersyukur dihadihai buku, apalagi ditulis sendiri oleh seorang kyai yang sudah lama saya kenal dan bahkan saya kagumi atas kegigihannya mengembangkan pesantren di lingkungan kampus. Selama ini saya menganggap pesantren yang diasuh oleh Kyai Baidhawi Muslich sangat strategis untuk menyiapkan pemimpin masa depan. Para santrinya sekaligus menjadi mahasiswa, sehingga keinginan para tokoh Islam sejak dulu, yaitu agar lahir ulama yang intelek dan intelek yang ulama, melalui pesantren ini, insya Allah, akan terwujud.
Setelah berbincang-bincang dengan utusan kyai dan sekaligus membaca surat yang disampaikannya, ternyata saya tidak sekedar dihadihahi buku tetapi juga diberi kehormatan untuk menulis pengantar buku yang akan naik cetak dimaksud. Bagi saya tidak ada yang berat memenuhi harapan kyai yang memang sudah lama saya kagumi karya-karyanya. Banyak tulisan Kyai Muslich Baidhawi yang telah saya baca, baik berupa buku maupun tulisan-tulisan lepas di majalah, bulletin atau lainnya. Selama ini saya melihat, Kyai yang juga sarjana, selain berdakwah secara lesan juga melalui tulisan. Dengan begitu, terasa bahwa dakwah Kyai menjadi komplit.
Pada setiap kali membaca tulisan Kyai Baidhawi Muslich terasa bagaikan sedang berwisata. Pada umumnya orang berwisata adalah bermaksud untuk memperoleh kesenangan hati, dari menyaksikan sesuatu yang indah. Membaca buku yang berjudul 'Etika, Hikmah & Dakwah, terasa bagaikan sedang berwisata itu. Membaca buku ini tidak saja pikiran yang diajak untuk memahami dan merenungkan sesuatu yang penting, tetapi juga dibawa pada suasana keindahan dalam kehidupan yang sebenarnya.
Melalui tulisan pada buku ini, Kyai Baidhawi Muslich mengajak pembaca untuk merenungkan, memikirkan, dan memahami kehidupan ini secara luas dan mendalam sebagai bekal agar menjadi selamat dan beruntung, baik ketika masih di dunia ini dan bahkan di akherat kelak. Banyak tauladan kehidupan yang indah yang dijalani oleh Nabi Muhammad maupun para pengikutnya sebagai bentuk akhlak mulia, disampaikan melalui buku ini. Itulah sebabnya membaca buku ini bagaikan berwisata, yaitu berwisata melalui catatan hikmah seorang Kyai.
Saya berpandangan, siapapun sangat perlu membaca buku ini, apalagi para mahasiswa yang kelak akan menjadi pemimpin umat. Isi buku ini sangat penting untuk dijadikan bekal bagi siapa saja yang menginginkan hidupnya terjaga dari hal-hal yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Selain itu, dengan membaca buku ini, seolah-olah akan selalu bersama, berdzikir dan berdialog dengan penulisnya. Selamat membaca, menikmati, dan mendapatkan hikmat dari catatan yang sudah berbentuk buku ini.



