Beberapa tahun yang lalu, saya bersama beberapa pimpinan perguruan tinggi di Indonesia pernah menghadiri undangan pemerintah Saudi Arabia untuk mengunjungi kampus-kampus di negara kaya minyak itu. Salah satu mata acara di dalam kunjungan itu adalah diajak melihat pusat riset di bidang astronomi yang memang sudah cukup modern. Salah satu tugas lembaga ilmiah itu di antaranya adalah memberikan informasi tentang posisi bulan untuk menentukan awal puasa dan juga hari raya.
Pada saat kunjungan ke laboratorium yang amat modern dimaksud saya menangkap bahwa rupanya mereka ingin menunjukkan bahwa dalam menentukan awal puasa dan juga hari raya, pemerintah Saudi sudah tidak lagi menggunakan cara tradisional, misalnya hanya sekedar mempercayai seseorang yang mengaku telah melihat bulan dan berani mengangkat sumpah atas kebenaran yang dilihatnya. Dalam menentukan awal Ramadhan dan juga hari raya sudah menggunakan teknologi modern.
Sekalipun alat modern yang digunakan untuk melihat benda-benda langit itu sedemikian canggihnya, saya ketika itu tidak terlalu tertarik oleh karena perbedaan penetapan awal Ramadhan dan hari raya di Indonesia bukan semata-mata disebabkan oleh alat yang digunakan, melainkan lebih pada faktor sosiologis. Adanya perbedaan kelompok itulah yang menyebabkan penetapan awal puasa dan hari raya bisa berbeda. Oleh karena itu menyamakannya tidak cukup dengan pendekatan teknologi, melainkan harus menggunakan pendekatan sosial itu.
Sementara itu pendekatan sosial juga tidak mudah oleh karena membangun persatuan di antara kelompok yang berbeda amat sulit. Masing-masing di antara organisasi itu memiliki sejarah, idiologi, dan kepentingan yang berbeda, sehingga menjadikan mereka tidak mudah bersatu, sekalipun ajaran Islam mengajarkan yang demikmian itu. Mereka mengetahui bahwa persatuan itu adalah bagian dari ajaran agamanya, dan bahkan bersumber dari al Qur'an maupun hadits nabi, tetapi oleh karena faktor sebagaimana disebutkan itu, ajaran yang indah dimaksud tidak mudah diikuti.
Mungkin saja terjadinya perbedaan itu, bagi orang tertentu, adalah sulit dinalar. Idul adha atau hari besar haji adalah terkait dengan pelaksanaan haji di Makkah. Hari raya haji adalah jatuh setelah jama'ah haji selesai wukuf di Arafah. Menurut informasi, waktu wukuf di Arafah tidak pernah diperselihkan, yakni selalu jatuh pada hari yang sama. Namun anehnya, umat Islam yang berada di luar Saudi Arabia dalam melaksanakan hari raya yang sebenarnya terkait dengan wukuf itu ternyata bisa berbeda.
Di awal bulan Dzil Hijjah ini, Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah masing-masing sudah mengumumkan jatuhnya hari raya dan ternyata jatuh pada hari yang berbeda. Muhammadiyah mengumumkan bahwa hari raya haji jatuh pada tanggal 23 September, sementara itu Pemerintah dan NU mengumumkannya jatuh pada tanggal 24 September. Perbedaan itu hanya berselang sehari tetapi menjadi tidak sama dengan ketetapan Pemerintah Saudi Arabia, yang kabarnya, wukuf akan jatuh pada tanggal 23 September. Padahal, ketetapan Pemerintah Saudi tentu juga telah mendasarkan pada peralatan modern sebegaimana disebutkan di muka.
Perbedaan penetapan hari raya dengan Pemerintah Saudi itu sebenarnya tidak saja dialami oleh Muhammadiyah pada tahun ini, tetapi juga pernah dialami oleh Pemerintah Indonesia dan juga NU beberapa tahun yang lalu. Seingat saya pada waktu itu, pemerintah Saudi menetapkan wukuf lebih dahulu dibanding Pemerintah Indonesia dan juga NU. Oleh karena itu, baik Pemeritah, NU, dan Muhammadiyah menjadi sama-sama pernah berbeda dalam menentukan Hari Raya Haji. Tetapi apapun, wukuf adalah di Arafah, sehingga rukyat dan hisab, bagi kaum muslimin di luar Saudi Arabia, terasa menjadi lebih tepat jika diarahkan pada tempat pelaksanaan ibadah setahun sekali itu. Namun, bersatu itu ternyata memang sulit dan berat, maka ya terserahlah. Wallahu a'lam.



