Jika dicermati secara mendalam, ternyata banyak sekali perilaku seolah-olah yang bisa kita lihat dan rasakan di sekitar kehidupan ini. Bahkan perilaku seolah-olah itu juga kita alami sendiri. Seolah-olah kita sudah shalat, tetapi belum tentu shalat yang kita lakukan itu adalah shalat yang sebenarnya. Banyak anak sekolah, tetapi juga belum tentu sekolah yang sebenarnya. Banyak orang yang mengatakan bahwa pekerjaannya mengajar, tetapi belum tentu mereka mengajar yang sebenarnya, bisa jadi mengajarnya hanya seolah-olah.
Seseorang berbicara bahwa kegiatannya sehari-hari adalah untuk membela rakyat, tetapi belum tentu apa yang dilakukannya itu persis seperti yang dikatakan itu. Apa yang dilakukan, bisa jadi, hanya sebatas seolah-olah. Ia seolah-olah peduli, pejuang, dan pembela rakyat, padahal jika dicermati secara saksama, yang dilaklukan olehnya bukan untuk rakyat, melainkan untuk dirinya sendiri. Mereka melakukan kegiatannya itu hanya mencari keuntungan dari selalu mengatakan bahwa dirinya pro dan peduli pada rakyat.
Perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus akhirnya menjadi kultur atau budaya. Manakala sesuatu perbuatan sudah menjadi budaya maka perbuatan itu dianggap benar. Melakukannya juga terasa enak oleh karena sudah menjadi kebiasaan atau adat istiadat. Demikian pula terhadap perbuatan yang sebenarnya hanya sekedar seolah-olah, juga akan dirasakan sebagai sesuatu lazim dan benar oleh karena sudah menjadi hal biasa.
Perilaku seolah-olah bisa meliputi berbagai jenis kegiatan yang luas, baik dalam skala pribadi, kelompok maupun komunitas yang luas. Sebagai contoh kegiatan di kampus, seseorang seolah-olah kuliah, padahal sebenarnya hanya datang ke kampus ikut mendengarkan dosennya menerangkan sesuatu. Mereka datang dan masuk ke ruang kuliah, sekalipun sebenarnya yang datang hanya fisiknya, sementara itu pikiran dan hatinya berada di luar ruang kuliah itu. Dalam kegiatan belajar, melibatkan semua aspek, yaitu pikiran, perasaan, dan raganya harus hadir dan mengikuti perkuliahan itu.
Namun dalam administrasi kampus, yang dicatat hanyalah aspek fisiknya, sementara itu aspek yang tidak tampak, yakni perasaan, jiwa dan pikiran mahasiswa, ---sekalipun hal itu penting, tidak direkam kehadirannya. Maka yang terjadikan adalah apa yang disebut dengan istilah seolah-olah itu. Mereka seolah-olah mendengarkan, tetapi sebenarnya tidak. Seolah-olah mengikuti kuliah, tetapi sebenarnya hanya sekedar duduk bersama teman-temannya di ruang itu.
Budaya seolah-olah sebenarnya sangat membahayakan. Melakukan perbuatan seolah-olah sama halnya dengan berbohong. Celakanya yang dibohongi bukan saja orang lain, tetapi juga dirinya sendiri. Manakala perbuatan seolah-olah atau kebohongan itu sudah dilakukan berulang-ulang hingga menjadi budaya, maka tidak akan dirasakan lagi bahwa perbuatan itu adalah salah dan seharusnya diperbaiki. Sebaliknya, perbuatan itu dianggap biasa, dan akhirnya sekalipun salah akan dianggap benar.
Di antara berbagai persoalan bangsa ini yang sulit diselesaikan adalah menghilangkan budaya seolah-olah itu. Budaya seolah-olah sudah merasuk pada seluruh bagian tubuh bangsa ini. Jika diamati secara saksama, sebenarnya budaya seolah-olah sudah berada di semua sektor kehidupan, mulai dari hal sederhana menyangkut hubungan antar manusia hingga persoalan yang mendasar, misalnya menyangkut kegiatan ritual sekalipun.
Jika di kampus ada mahasiswa yang seolah-olah kuliah, seolah-olah menyelesaikan tugas, seolah-olah memiliki banyak karya ilmiah, seolah-olah sudah lulus, seolah-olah sudah pintar dan menguasai berbagai bidang ilmu, maka di kantor-kantgor pemerintah, organisasi, dan lain-lain juga tidak jauh berbeda keadaannya. Seolah-olah anggaran sebuah institusi pemerintah sudah dibelanjakan, seolah-olah sudah dilaporkan, seolah-olah sudah dibaca, seolah-olah sudah dikerjakan dan seterusnya. Padahal semua itu barui seolah-olah.
Gambaran tentang perilaku seolah-olah sebenarnya bukan merupakan hal baru dalam pentas kehidupan ini. Dalam kirab suci al Qur'an, juga disebutkan tentang kehdupan yang bersifat seolah-olah itu. Juga disebutkan bahwa, perbuatan seolah-olah adalah sangat berbahaya, dan siapapun pelakunya diancam dengan siksaan yang amat pedih. Tentu, pekerjaan yang dilakukan sebatas seolah-olah dalam urusan dunia sekalipun, sebenarnya juga membahayakan, baik bagi pelakunya sendiri maupun bagi orang lain.
Mengerjakan sesuatu hanya dengan seolah-olah dikiranya menguntungkan, padahal sebenarnya justru menyesatkan dan membahayakan dirinya sendiri. Seorang muslim dalam menjalankan apa saja tidak boleh sebatas seolah-olah. Tatkala mengerjakan sesuatu hanya seolah-olah, maka sebenarnya identitas keber-Islamannya telah hilang. Wallahu a'lam.



