Islam Nusantara Atau Muslim Nusantara
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 6 September 2015 . in Dosen . 4927 views

Akhir-akhir ini muncul konsep terkait dengan kehidupan keagamaan, ialah Islam Nusantara. Maksud penggagasnya mungkin saja sederhana, yaitu untuk menggerakkan umat. Berbekalkan konsep baru itu, maka agar ada semangat baru, kekuatan baru, dan gerakan baru. Dalam perspektif organisasi, konsep baru itu memang penting untuk dibuat.

Konsep Islam Nusantara beberapa waktu yang lalu dijadikan tema besar pada Muktamar NU ke 33 di Jombang. Konsep itu dijelaskan oleh Ketua PBNU, bahwa Islam Nusantara bukan madzab baru, bukan idiologi, dan atau aliran baru. Sebutan Islam Nusantara menggambarkan tentang Islam yang tumbuh dan berkembang di Nusantara. Islam itu mengambarkan kehidupan yang ramah, damai, sejuk, toleran, menghormati orang lain, dan perilaku lain serupa itu.

Sekalipun disampaikan oleh Ketua PBNU, penjelasan konsep dimaksud rupanya tidak semua pihak segera memahami atau menyetujui. Ada saja pihak-pihak yang kurang sependapat dengan pemberian identitas Islam seperti itu. Memang sebelumnya sudah ada pemberian identitas terhadap Islam dan telah dikenal oleh kalangan masyarakat luas, yaitu Islam ahlussunnah wal jama'ah, Islam rahmatan lil alamien, dan bahkan juga ada sebutan Islam liberal.

Beberapa jenis identitas tersebut segera dimengerti dan diterima, oleh karena terasa tidak mengganggu nama yang disifatinya. Islam ahlus sunnah wal jama'ah artinya adalah Islam yang dipahami dan diamalkan oleh masyarakat dengan mengikuti tokoh tertentu. Demikian pula sebutan Islam rahmatan lil alamien dan Islam liberal. Islam rahmatan lil alamien adalah Islam yang jika dilaksanakan maka akan memberi rahmat bagi semua kehidupan ini. Sedangkan Islam liberal adalah gerakan untuk memahami Islam secara bebas, terbuka, dan berani.

Berbeda dengan hal tersebut adalah sebutan Nusantara. Kata Nusantara menggambarkan tempat atau wilayah. Islam adalah ajaran yang bersumberkan al Qur'an dan hadits. Benda itu berada di mana saja adalah sama. Al Qur'an dan hadits diletakkan di mana saja, di pulau apa saja, di jazirah, di negara manapun adalah sama. Demikian pula, kitab suci itu itu dicetak di mana saja, isinya tetap sama. Jika berbeda mungkin hanya terletak pada warna, ukuran kertas, dan hurufnya saja.

Sebagai upaya untuk meyakinkan bahwa pemberian identitas Islam dengan kata nusantara itu tepat, dibandingkan dengan pemberian identitas terhadap benda lainnya. Misalnya buah durian, mangga, pisang, dan lain-lain. Dikatakan bahwa sekalipun buah durian itu sama, tetapi durian yang dihasilkan dari tempat berbeda, maka rasanya juga akan berbeda. Durian Jawa berbeda dari durian Kalimantan, mangga probolinggo berbeda dari mangga Madura, dan seterusnya. Melalui contoh itu, maka disimpulkan bahwa Islam Arab berbeda dengan Islam Indonesia atau Islam nusantara.

Penjelasan melalui contoh tersebut dianggap memadai. Padahal sebaliknya, justru menjadi semakin tidak jelas. Kata Islam tidak sama dengan nama buah. Tatkala Islam yang dimaksudkan itu adalah ajaran yang bersumber al Qur'an dan hadits maka di mana dan kapan saja, benda berupa kitab suci itu akan sama. Sementara itu berbagai jenis buah sebagaimana contoh di muka, bisa jadi berbeda-beda. Rasa, ukuran, warna buah durian Jawa bisa berbeda dari buah durian Sumatera, dan juga jenis buah lainnya.

Pemberian sifat itu mungkin saja mudah dimengerti jika yang disifati itu bukan ajarannya, yaitu Islam, melainkan muslim, yakni orang yang menjalankan Islam itu sendiri. Berbagai masyarakat muslim di tempat berbeda dan bahkan di tempat yang sama pun bisa berlainan. Muslim Jawa berbeda dari muslim Madura, dan berbeda pula dari muslim Kalimantan, Muslim Sulawesi, Muslim Arab, dan lain-lain. Muslim Madura misalnya sangat suka membangun masjid, sehingga di mana-mana terdapat tempat ibadah itu.

Berbeda dari muslim Madura, sekalipun masih berada di Nusantara, adalah muslim di tempat lain. Sekalipun muslim di tem;pat lain itu menyukai masjid, tetapi belum terlalu tertarik menggunakannya. Akibatnya, di waktu-waktu shalat, apalagi waktu subuh, tempat ibadah itu banyak yang kosong. Kenyataan yang demikian itu, oleh karena sudah menjadi umum, maka dianggap lazim dan benar. Padahal Islam tidak mengajarkan hal seperti itu. Shalat, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi, lebih utama dilaksanakan di masjid dengan berjama'ah. Karena itu, masjid di waktu tersebut seharusnya tidak kosong.

Maka, Islam yang bersumberkan al Qur'an dan hadits Nabi di mana dan kapan saja akan sama. Akan tetapi sebaliknya, orang dalam menjalankan Islam bisa berbeda-beda. Muslim Madura berbeda dari Muslim Jawa, dan berbeda pula dari muslim di tempat-tempat lain. Dengan demikian, umpama sebutan itu bukan Islam Nusantara melainkan Muslim Nusantara, maka kiranya tidak terjadi berdebatan panjang. Islam memang di mana-mana sama, tetapi sebaliknya orang Islam atau muslim yang berada di tempat berbeda akan tidak selalu sama. Bahkan di tempat yang sama pun antar muslim bisa berbeda pula. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up