Jika suatu negara memiliki banyak perguruan tinggi maka seharusnya juga kaya ilmu pengetahuan. Sebab, salah satu tugas penting perguruan tinggi adalah melakukan penelitian. Melalui kegiatan penelitian itu dihasilkan ilmu pengetahuan yang kemudian didokumentasikan di dalam bentuk laporan hasil penelitian, buku-buku ilmiah dan berbagai macam jenis.
Namun di Indonesia ini aneh, sekalipun banyak perguruan tinggi, ternyata buku-buku ilmiah atau jurnal tidak banyak yang terbit. Mencari buku di tengah-tengah banyak perguruan tinggi ternyata tidak selalu mudah. Bahkan lebih aneh lagi, ternyata tidak semua kota yang ada perguruan tinggi juga ada toko buku. Maka menjadi ajaib, perguruan tinggi bisa berjalan sekalipun tanpa ketersediaan fasilitas buku.
Dalam sebuah perbincangan dengan orang asing, ---sengaja tidak saya sebut dari mana orang dimaksud, ia menanyakan berapa jumlah perguruan tinggi di Indonesia. Pertanyaan itu saya jawab, bahwa kira-kira, baik yang berstatus negeri maupun swasta ada sekitar 4000-an. Sekitar 3500 dikelola oleh kementerian Riset, teknologi, dan Pendidikan Tinggi, sedangkan lainnya dikelola oleh kementerian agama dan kementerian lainnya.
Mendengar tentang jumlah perguruan tinggi yang saya sebutkan itu, orang asing dimaksud langsung terkejut keheranan. Dia mencoba untuk menanyakan lagi, sekiranya saya salah di dalam menyebutkan jumlah perguruan tinggi itu. Jawaban itu saya ulangi, memang benar bahwa jumlah perguruan tinggi di Indonesia sekitar 4000-an. Mengetahui jumlah tersebut sedemikian banyak, maka ia kaget oleh karena di negerinya sendiri secara keseluruhan hanya ada sekitar 150 buah perguruan tinggi saja. Jumlah itupun selama ini sudah dianggap terlalu banyak.
Agar orang asing dimaksud tidak terlalu kebingungan membayangkan jumlah perguruan tinggi yang sedemikian banyak itu, maka saya menjelaskan bahwa wilayah Indonesia itu sedemikian luas, yakni terbentang dari Sabang di Aceh hingga Merauke, di Papua. Jarak antara Papua hingga Aceh hampir sama dengan antara Surabaya ke Jeddah, Saudi Arabia. Nagara seluas itu dihuni oleh sekitar 240 juta penduduk. Oleh karena itu, jumlah perguruan tinggi tersebut, saya katakan, belum terlalu banyak.
Namun rupanya orang asing tersebut belum segera puas dengan jawaban yang saya sampaikan. Ia menanyakan lagi tentang berapa jumlah guru besarnya, jumlah dosennya, dan berapa buku-buku yang terbit pada setiap tahunnya, berapa jurnal ilmiah, jumlah toko buku, dan di kota-kota mana saja perguruan tinggi itu terkonsentrasi. Sudah barang tentu, menjawab pertanyaan yang semakin mendalam tersebut menjadi tidak mudah.
Rupanya orang asing itu membayangkan bahwa dengan jumlah perguruan tinggi yang sedemikian banyak, maka jumlah guru besarnya juga banyak, hasil penelitiannya, dan demikian pula jurnal dan buku-buku yang dikterbitkannya. Dia tidak mudah mengerti, oleh karena tidak membayangkan bahwa jumlah perguruan tinggi yang ada itu ukurannya bermacam-macam. Ada beberapa perguruan tinggi yang besar seperti UI, ITB, UGM, UNAIR, UNHAS, dan sejenisnya, tetapi ada juga yang berukuran sangat kecil yang berada di kota-kota kabupaten dan bahkan di kota kecamatan.
Perguruan tinggi berukuran besar sebagaimana disebutkan di muka telah memiliki guru besar, dosen bergelar Doktor, perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain. Para dosennya juga melakukan pelitian, penulisan buku, mengikuti seminar, dan juga terlibat kegiatan ilmiah lainnya. Namun jumlah perguruan tinggi besar itu tidak terlalu banyak. Jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang sedemikian besar hingga mengagetkan itu adalah jika dihitung termasuk yang berada di kota-kota kecil di kecamatan.
Secara terus terang, saya mengatakan bahwa perguruan tinggi yang berada di kota-kota kecil belum mampu menjalankan peran-perannya secara maksimal, misalnya melakukan penelitian, membuat jurnal, buku, dan lain-lain. Kegiatan akademik mereka baru pada taraf sederhana, yaitu menyelenggarakan perkuliahan, ujian, dan mewisuda lulusannya. Jika sudah tersedia perpustakaan, laboratorium, dan sarana pendidikan lainnya, maka keadaannya juga masih sederhana.
Atas penjelasan yang terasa saya sampaikan secara terus terang itu justru menjadikan pertanyaan lain tidak diajukan lagi. Mungkin saja, ia tidak mau terlalu menyiksa saya dengan harus mencari jawaban yang tidak mudah. Di tengah-tengah dialog itu, hati saya mengatakan bahwa memang sudah banyak perguruan tinggi tetapi kebanyakan masih memprihatinkan. Tambahan lagi, masih banyak di antara para dosen yang belum bersemangat mengembangkan ilmu. Akhirnya, jumlah perguruan tinggi amat banyak, tetapi ilmunya masih terbatas,. Itulah sebenarnya di antara problem besar bangsa kita. Wallahu a'lam.



