Kisah Sukses Bermodal Semangat Berbakti Pada Ibunya
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 19 September 2015 . in Dosen . 9411 views

Kisah sukses dalam tulisan berikut ini adalah sederhana saja, yaitu tentang kehidupan petani desa yang miskin. Sebutan sukses jangan dibayangkan telah berhasil meraih gelar sarjana, memiliki perusahaan besar, tabungan dalam jumlah banyak, dan seterusnya. Sukses yang dimaksudkan hanya sekedar bertahan hidup dan cita-citanya yang sangat sederhana, yaitu mampu menyembelih kambing pada peringatan seribu hari ibunya wafat tercapai.

Seorang petani desa, setelah ditinggal mati ibunya, pada hari-hari tertentu, berkeinginan mengumpulkan tetangganya untuk mendoakannya sebagaimana tradisi yang berlaku di desanya. Setiap orang yang meninggal dunia di desa itu, pada hari ke tiga, ke tujuh, ke empat puluh, ke seratus, dan ke seribu, oleh keluarganya selalu dibacakan al Qur'an surat Yasin dan tahlil.

Hal demikian tersebut dilakukan sebagai cara yang dipahami masyarakat untuk mendoakan pada keluarganya yang telah meninggal. Diyakni bahwa sebagai anak sholeh, ketika orang tuanya meninggal maka harus mendoakannya. Juga dipahami pula bahwa, semakin banyak orang yang mendoakan maka dianggap doa itu semakin sempurna. Maka, dengan mengundang banyak tetangga untuk diajak berdoa bersama, maka kewajiban kepada orang tuanya dianggap terpenuhi.

Dalam kisah ini, seorang penduduk desa yang miskin dimaksud bercita-cita, agar pada saat terakhir mengundang tetangga untuk mendoakan ibunya, yaitu pada hari ke seribu dari kematiannya, sebisa-bisa menyembelih kambing. Menurut perhitungannya, cita-cita sederhana itu tidak akan mungkin terlaksana jika tidak diusahakan dengan sungguh-sungguh. Maka, atas semangat berbakti pada ibunya itu, ia mendatangi rumah seseorang yang dianggap mampu membantu.

Petani miskin dimaksud menawarkan kerjasama bagi hasil dalam memelihara kambing. Orang kaya yang ditemui tersebut diminta bantuannya membelikan dua ekor kambing sebagai modalnya. Menurut perhitungannya, dengan cara bagi hasil, sekitar seribu hari ke depan, ia akan memiliki kambing yang bisa dipotong pada saat penyelenggaraan doa bersama bagi ibunya yang telah wafat dimaksud.

Mendengarkan penuturan petani miskin dimaksud, orang kaya yang didatangi ke rumahnya itu merasa iba dan kemudian membelikan untuknya dua ekor kambing sebagaimana permintaannya sebagai modal. Atas ketekunan, kesungguhan, dan kejujurannya, usaha ternak itu ternyata berhasil. Bermodalkan dua ekor kambing, selama tiga tahun berkembang menjadi belasan ekor. Kambing betina, pada setiap enam bulan, pasti beranak minimal dua ekor. Demikian pula anaknya, enam bulan kemudian juga sudah mulai beranak.

Bermodalkan kegigihan dan kejujurannya tersebut, orang desa miskin yang dimaksudkan itu tidak saja berhasil memotong kambing pada saat peringatan ke seribu hari ibunya wafat, tetapi dari bekerjasama bagi hasil dimaksud, ternyata juga bisa membeli sepeda motor dan lain-lain. Niat semula hanya sekedar agar bisa berbakti kepada ibunya, tetapi ternyata juga mendapatkana pintu datangnya rezki bagi dirinya sendiri dan keluarganya

Usaha ternak kambing dimaksud, karena diurus secara sungguh-sungguh, tekun, dan jujur, maka akhirnya menjadi semakin berkembang. Masing-masing pihak mendapatkan keuntungan. Petani miskin tersebut terpenuhi cita-citanya, dan bahkan memperoleh pengalaman beternak kambing. Sementara itu, pemilik modal juga beruntung. Dari pengalamannya bekerjasama bagi hasil dengan orang desa itu, keuntungan dari beternak kambing pada setiap tahun, jika dihitung secara saksama, ternyata lebih seratus persen.

Cerita sederhana sebagai bahan tulisan ini, saya peroleh langsung dari orang yang memberi modal dua kambing kepada petani miskin dimaksud. Memang agar usaha itu berhasil, maka harus didasari oleh kesungguhan, ketekunan, dan kejujuran. Sayangnya mendapatkan orang jujur pada saat sekarang ini ternyata tidak mudah dan apalagi syarat itu masih ditambah lagi, yaitu dengan kesungguhan dan ketekunan.

Jika modal utama, yaitu berupa mental dimaksud terpenuhi, maka sekedar mengembangkan usaha ekonomi sebenarnya tidak sulit. Disebutkan bahwa berdasarkan berbagai pengalaman, problem kita sekarang ini adalah terletak pada mental yang tidak siap. Membangun mental berusaha sebagaimana dimaksudkan itu ternyata tidak mudah. Petani miskin berhasil diajak bekerjasama bagi hasil oleh karena ia jujur, memiliki cita-cita, dan pekerja keras. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up