Melihat Sekilas Rumitnya Pelayanan Haji Di Makkah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 22 September 2015 . in Dosen . 1261 views

Hampir pada setiap tahun terdengar komentar dan atau keluhan terkait dengan pelayanan haji, terutama pada saat sedang berada di Tanah Suci. Beraneka macam problem yang dirasakan oleh jama'ah, misalnya terkait lokasi Masjidil Haram yang semakin tidak mencukupi, persoalan pemondokan, transportasi dari Makkah ke Arafah, dan dari Arafah ke Mina, dan kemudian kembali ke Makkah. Hal itu masih ditambah lagi dengan pelayanan baik pada waktu kedatangan maupun pulang ketika mereka sedang berada di Bandara.

Komentar negatif kadang kala juga datang dari orang yang tidak sedang berada di tanah suci atau bahkan tidak pernah mengalami sendiri. Tatkala mendengar pelayanan haji yang tidak memuaskan, maka orang yang tidak pernah mengetahui rumitnya mengatur jama'ah di Tanah Suci itu segera mengaitkan dengan budaya setempat, yaitu orang Arab yang dianggap tidak terbiasa dengan manejemen modern. Padahal sebenarnya jika sedikit saja, orang mau memahami rumitnya mengatur orang sebanyak itu maka belum tentu para pengritik itu mampu menjalankannya sendiri, dan apalagi lebih baik.

Jumlah jama'ah haji pada setiap tahun cukup besar, menurut informasi lebih dari tiga juta orang. Mereka itu berasal dari berbagai negara, yang sudah barang tentu memiliki kebiasaan, kultur, adat-istiadat, bahasa percakapan, jenis makanan, dan lain-lain secara berbeda-beda. Umur mereka juga beraneka ragam, mulai dari yang masih muda atau kanak-kanak hingga ada yang sudah sangat tua dan tidak lagi mampu berjalan. Kerumitan itu masih bisa ditambah lagi misalnya terkait dengan bahasa komunikasi. Banyak jama'ah dari negara tertentu tidak mampu bercakap-cakap dengan bahasa negaranya sendiri. Misalnya, jama'ah berbendera Indonesia ternyata belum tentu bisa berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia.

Para tamu Allah yang jumlahnya jutaan itu, dalam menjalankan ibadah haji, harus berpindah-pindah dari satu tempat ke temnpat lain. Semula mereka datang ke Makkah untuk berumrah. Kemudian pada waktunya, semua jama'ah itu harus diangkut ke Arafah. Selesai wukuf di Arafah, pada hari itu juga, jama'ah haji diangkut atau berjalan kaki, ---sekalipun jauh, ke Muzdalifah. Kemudian, malam itu juga harus meneruskan perjalanan ke Mina untuk melempar jumrah aqobah. Bisa dibayangkan, betapa beratnya memberikan pelayanan kepada sekian juta orang dalam waktu yang bersamaan. Oleh karena itu, manakala mendengar ada kemacetan di jalur yang dilewati jama'ah haji, atau anggota jama'ah tersesat, dan seterusnya adalah menjadi sangat mudah dimengerti.

Dahulu, sekitar sepuluh tahun yang lalu, setiap jama'ah haji selalu mengenang tentang beratnya perjalanan dari Arafah ke Mina. Di perjalanan pasti macet luar biasa. Sekarang ini, sekalipun belum terlalu lancar, kemacetan itu sudah semakin bisa dikurangi. Pemerintah Saudi sedah banyak melakukan langkah-langkah untuk mengatasi kemacetan itu, misalnya dengan memperlebar jalan antara Arafah hingga Mina. Selain itu juga melakukan penjagaan atau pengetatan pelaksanaan aturan dengan mendatangkan polisi atau tentara dari berbagai daerah di Saudi. Akan tetapi pendisiplinan orang yang berasal dari berbagai negara yang memiliki kebiasaan dan adat istiadat yang berbeda-beda dan apalagi mereka itu sedang dalam keadaan lelah, maka juga tidak mudah.

Telah lama terdengar bahwa salah satu problem di antara rangkaian ibadah haji adalah melempar jumrah. Oleh karena tempatnya terbatas, maka banyak orang berebut kesempatan, dan akhirnya terjadi kecelakaan. Namun sejak beberapa tahun terakhir, tempat pelemparan jumrah itu sudah diperlebar dan bahkan dibuat bertingkat. Akan tetapi oleh karena jumlah jama'ah haji pada setiap tahun meningkat, maka kepadatan jama'ah itu tidak mudah diatasi. Polisi atau tentara sudah dikerahkan, dan rupanya juga sudah terlatih, tetapi tugas tersebut tidak mudah dilakukan, terutama tatkala menghadapi jama'ah haji yang berasal dari kultur yang beraneka ragam oleh karena datang dari berbagai negara yang berbeda-beda itu.

Tatkala jama'ah haji sedang berada di Makkah, mereka menginap di hotel atau rumah-rumah persewaan. Problem di tempat itu tidak terlalu banyak. Jumlah hotel dan persewaan rumah juga semakin banyak. Berbeda dengan di Makkah adalah ketika para jama'ah sedang berada di Arafah dan juga di Mina. Berada di Arafah hanya sehari, tetapi juga harus disiapkan tempat berteduh dengan segala kelengkapannya, misalnya air dan juga makanan. Demikian pula ketika beberapa hari berada di Mina. Pemerintah harus menyiapkan tenda dengan berbagaia kelengkapan yang mampu menampung hingga jutaan orang itu. Rupanya upaya pemerintah Saudi untuk meningkatkan pelayanan ibadah haji pada setiap tahunnya tidak pernah berhenti.

Hingga sekarang, sekalipun sudah berjalan beberapa tahun, upaya pemerintah Saudi memperluas Masjid al Haram belum segera selesai. Proyek itu tampak luar biasa, hingga ratusan ribu meter persegi luasnya. Pemerintah juga harus menggusur ribuan rumah, pertokohan, hotel, perkantora, dan lain-lain. Hebatnya, sebagai akibat perluasan itu tidak terdengar konflik atau persoalan yang tidak bisa diselesaikan. Runtuhnya crane di Masjidil Haram beberapa waktu yang lalu hingga mengakibatkan jatuh kurban, sebenarnya adalah merrupakan bagian dari resiko untuk meningkatkan pelayanan ibadah haji di masa mendatang. Namun sayangnya, tatkala terjadi musibah, tidak sedikit orang memberikan kecaman berlebihan.

Begitu pula, kabar terakhir tatkala terjadi musibah di Mina, hingga menelan korban jiwa sampai ratusan orang, tidak sedikit orang yang segera mengecamnya. Mereka menganggap bahwa pemerintah lalai. Padahal jika mau melihat persoalan itu asecara utuh atau komprehensif, misalnya terhadap beban yang sedemikian berat, terutama terkait jumlah yang dilayani, perilaku jama'ah yang berbeda-beda, pelaksanaan ritual haji yang mengharuskan semua orang berpindah-pindah tempat, dan belum lagi bahwa kebanyakan jama'ah haji baru sekali menjalankan ibadah itu, sehingga peluang terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan menjadi tidak mudah dideteksi sebelumnya.

Perjalanan dari tenda masing-masing jama'ah haji menuju tempat pelemparan jumrah sebenarnya sudah diatur rapi, dibuat satu jalur, dan juga dijaga oleh para polisi dan tentara. Namun menurut informasi ada sekelompok jama'ah yang berhenti mendadak, hingga mengakibatkan jama'ah menumpuk dan akibatnya banyak di antara mereka yang jatuh dan terinjak-injak. Saya hanya membayangkan, mengatur kegiatan seminar yang diikuti sekitar seratus orang saja terbengkalai, maka apalagi mengatur jutaan orang yang berbeda-beda dalam jangka waktu yang cukup panjang. Tentu, pekerjaan dimaksud tidak mudah, sehingga jika misalnya terjadi sesuatu, maka tidak sulit memahaminya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up