Bagi orang yang memahami dan mempercayai pada agama, yaitu ajaran langsung datang dari Tuhan, maka akan mengatakan bahwa membangun bangsa tanpa memperbaiki akhlaknya tidak akan berhasil. Akhlak mulia adalah kunci untuk meraih segala kemuliaan hidup. Tanpa akhlak mulia maka kehidupan ini akan kacau balau dan tidak akan terjadi keadilan yang didambakan oleh semua orang.
Tanpa akhlak mulia maka, mereka yang kuat akan menindas yang lemah, mereka yang pintar akan mengakali yang bodoh, mereka yang kaya akan menindas yang miskin, penguasa yang tidak berakhlak mulia akan selalu berbuat dhalim, dan seterusnya. Akhlak adalah merupakan kunci lahirnya masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera.
Mungkin saja tanpa akhlak mulia, suatu masyarakat akan maju di bidang ekonomi, dan bahkan juga ilmu pengetahuan dan teknologinya. Mereka akan meraih kemakmuran, kesejahteraan, berhasil menciptakan apa saja yang baru dan juga mungkin bermanfaat bagi kehidupan. Misalnya, mampu membuat mobil, pesawat terbang, alat komunikasi yang amat canggih, dan lain-lain, tetapi belum tentu berhasil melahirkan kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan dalam pengertian yang sebenarnya.
Banyak contoh negara yang disebut maju, tetapi sehari-hari juga berhasil menciptakan musuh, mengadu domba, membuat kesan bahwa seolah-olah menolong tetapi sebenarnya justru menjadikan negara yang ditolong justru tidak berdaya. Lebih jelas lagi, dalam skala kecil, tanpa akhlak mulia, ternyata orang mengalami kegagalan di dalam membangun keluarga, anak keturunannya tidak jelas, dan apalagi memahami makna kehidupan yang sebenarnya. Keadaan seperti itu dijalani oleh karena mereka tidak memperhatikan akhlak mulia.
Bagi umat Islam hal tersebut sudah menjadi keyakinan, bahwa tanpa akhlak mulia maka kehidupan, yaitu mulai keluarga, lingkungan, dan bahkan bangsa atau negara, tidak akan meraih kebahagiaan yang sebenarnya. Akhlak mulia selalu menjauhkan diri dari hal-hal merusak dan mencelakakan, yaitu tidak amanah, berbohong, memfitnah, mengadu domba, kikir, hasut, takabbur, terlalu mencintai harta, tidak peduli pada orang lain, dan sejenisnya. Manakala sifat-sifat yang dimaksudkan itu berhasil dijauhkan dari masyarakat, maka ketenteraman akan terjadi dengan sendirinya.
Para penguasa, cerdik cendekia, kuat, dan kaya, jika mereka itu menyandang akhlak mulia sebagaimana disebutkan di muka, maka kelebihan yang dimilikinya itu justru akan digunakan untuk melindungi mereka yang lemah, yang miskin, dan atau siapa saja yang perlu dibantu atau diselamatkan. Mereka yang pintar akan menggunakan kepintarannya, bukan saja untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk olrang lain. Demikian pula bagi mereka yang kaya akan menolong yang miskin, mereka yang berkuasa akan menegakkan keadilan, menjaga kedamaian, dan mensejahterakan yang lain.
Negara dan bangsa yang dipimpin oleh orang-orang yang menyandang akhlak mulia, maka tidak akan ada lagi kesenjangan yang terlalu jauh, tidak akan ada berbagai macam mafia yang pasti merugikan orang banyak, tidak akan ada monopoli terhadap sumber-sumber ekonomi yang menjadikan rakyat semakin miskin, dan seterusnya. Hal-hal buruk dan merusak tatanan masyarakat tersebut tidak akan terjadi jika akhlak mulia berhasil dibangun.
Pertanyaan besar selanjutnya adalah bagaimana membangun akhlak mulia itu. Tentu, jawabnya adalah sulit jika tidak mengetahui jalannya. Membangun akhlak mulia adalah sama halnya dengan membangun atau membersihkan hati, ruh, atau jiwa. Sekedar menjadikan orang pintar mungkin saja dilakukan dengan cara dibuatkan sekolah. Akan tetapi membuat seseorang berhati bersih tidak cukup melalui sekolahan dan atau bahkan perguruan tinggi sekalipun.
Sebenarnya membangun akhlak mulia sudah ada contoh, yaitu sebagaimana yang dilakukan oleh para rasul dan nabi. Selain melalui contoh kehidupan nyata, yaitu kehidupan Nabi itu sendiri juga terdapat pedoman berupa kitab suci. Sosok seorang Nabi, sekarang sudah tidak ada lagi. Muhammad sebagai Nabi terakhir sudah wafat dan tidak akan lahir nabi baru. Akan tetapi, para ulama yang mampu menjalankan keulamaannya adalah disebut sebagai pewaris para Nabi. Demikian pula kitab suci, hingga sekarang ini sudah dibukukan dengan sempurna dan bisa dibaca oleh siapapun pada setiap saat.
Oleh karena itu, membangun akhlak mulia sebenarnya masih mungkin dilakukan, yaitu dengan cara mendekatkan bangsa ini dengan kitab suci, dengan tempat ibadah, dan dengan para tokoh yang bisa dijadikan tauladan. Membangun akhlak mulia lewat cara-cara yang masih akan disusun, dalam arti menggunakan akal manusia biasa, hingga kini sebenarnya belum tersedia sejarah yang berhasil. Membangun akhlak mulia harus dilakukan oleh orang yang menyandang akhlak yang dimaksudkan itu. Wallahu a'lam.



